Povestea lui Angel – storia 5

Cast: Dennis, Casey, Andrew, Marcus, Aiden

Genre : Fantasy

Length : Chaptered

 

Hari-hari berjalan normal bagi Senna. Setidaknya dalam beberapa hari ini dia tidak mengalami kejadian yang membahayakan jiwa. Sempat terbersit di benaknya, mungkinkah karena hari-harinya yang sekarang selalu ditemani oleh malaikat bawah sehingga hal buruk cukup menjauhinya? Tapi, entah mengapa ada sesuatu yang menggangu pikirannya, meski Senna sendiri tidak bisa mengatakan apa yang mengganggunya itu.

“Kau keberatan bangun pagi besok?” tanya Dennis saat mengantarkan Senna pulang sekitar dua minggu kemudian.

“Seberapa pagi?” Senna berusaha menjaga suaranya tetap tenang. Selama beberapa hari terakhir sama sekali tidak ada pembicaraan yang menyinggung ajakan Dennis waktu itu. Senna sempat berpikir kalau Dennis sudah lupa.

Dennis menatap lurus-lurus dalam mata Senna. “Kau tahu, kau bisa membatalkannya kapanpun. Kalau kau keberatan untuk pergi tidak masalah bagiku.”

Senna tertawa. “Seberapa pagi?” tanyanya ulang. Dennis masih menatapnya dalam. “Dengar, aku tidak punya masalah dengan pergi bersamamu. Tapi, aku mendapat kesan bahwa kaulah yang tidak ingin mengajakku pergi ke-entah-dimana itu.”

Dennis menyerah. Memang benar. Setelah mengajak Senna, dia menjadi ragu, apalagi setelah pembicaraannya dengan saudara-saudanya. Sebagian dari dirinya masih takut dan ragu. “Jam 6 pagi. Perjalanan kita cukup jauh.”

Senna tersenyum. “Sangat pagi.” Setelah saling bertukar selamat tinggal, Senna kembali dalam rumahnya.

Senna mendengarkan sampai suara mesin mobil Dennis menghilang di kejauhan sambil berdiri bersandar dibalik pintu. Entah kenapa mendadak Senna merasakan perasaan yang tidak enak. Senna sama sekali tidak mengerti, tapi dia merasa kosong mendadak. Senna memutuskan untuk merendam tubuhnya dalam air dingin agar lebih tenang. Kalau tidak berhasil, dia akan minum obat tidur.

 

+++

Senna terbaring terjaga sepanjang malam. Obat tidur yang diminumnya tidak berpengaruh sama sekali. Pikirannya memang tenang, tapi sama sekali tidak bisa tidur. Sedetikpun matanya tak ingin terpejam. Betapa leganya Senna saat jam di samping tempat tidurnya menunjukkan puku 4.50.

Memang masih terlalu pagi, tapi percuma bila dia tetap di tempat tidur. Senna menyalakan lampu di seluruh rumah dan memutuskan untuk melakukan senam ringan di ruang tamu. Meski lebih segar kalau berolahraga diluar, Senna masih cukup khawatir dengan kemungkinan terjadinya kecelakaan aneh di tengah hutan yang gelap.

Setelah kira-kira setengah jam, Senna merasa lebih segar setelah berkeringat. Dia mendinginkan tubuh dengan menyiapkan pakaian yang akan dikenakannya. Setelah semua siap, Senna bergegas mandi. Dia baru selesai mengecek semua barang-barangnya saat terdengar ketukan halus di pintunya.

“Kau tidak menyetir?” tanya Senna sambil membuka pintu. Dia tidak melihat adanya mobil di halaman.

“Kuharap kau tidak keberatan kalau kita menggunakan mobilmu saja.” Senna sebenarnya ingin bertanya alasannya, tapi entah kenapa dia mengurungkan niatnya.

“Siap berangkat?”

Senna mengangguk dan menyambar tasnya dari atas sofa. Udara pagi terasa segar begitu dia melangkah keluar. “Apa aku juga yang menyetir?”

“Kalau kau tidak keberatan.” Jawab Dennis. Senna tersenyum dan membuka garasi kemudian mengeluarkan mobilnya.

Selama kira-kira tiga perempat jam mobil Senna melaju dalam keheningan. Dennis hanya bicara untuk menunjukkan arah bila ada persimpangan yang menanti. Senna sama sekali tidak tahu kemana mereka akan pergi. Dennis tidak mengatakan apapun. Senna bisa menahan diri sejak kemarin, tapi sekarang rasanya tidak.

“Aku tahu kau akan bertanya padaku.” Kata Dennis tiba-tiba, tepat saat Senna akan membuka mulut.

“Kau bisa baca pikiran?”

Dennis menggeleng pelan. “Tidak. Aku menebak dari tingkahmu.” Senna mengeryitkan dahi sebagai tanda meminta penjelasan lebih lanjut. “Pertama, aku berhutan maaf padamu. Kau tahu, aku mengajakmu ke suatu tempat untuk bertemu dengan seseorang yang sangat berarti bagiku.”Read More »

Advertisements

Povestea lui Angel – storia 4

Cast: Dennis, Casey, Andrew, Marcus, Aiden

Genre : Fantasy

Length : Chaptered

 

Keringat dingin membasahi tubuhnya, napasnya terengah-engah seakan habis berlari maraton. Senna mendekap tubuhnya sendiri dengan tangannya seakan ingin berlindung dari sesuatu yang tak tampak. Kamarnya yang terang karena dia tidak pernah mematikan lampu saat tidur menjadi lebih terang ditambah sedikit cahaya matahari dari jendela yang tertutup. Perlu bebepara menit baginya untuk menenangkan diri dan meyakinkan dirinya bahwa itu hanya mimpi. Sebuah mimpi yang sangat mengerikan. Senna masih bisa melihat sosok berjubah hitam yang tersenyum padanya. Mungkin tidak akan menjadi mimpi buruk kalau hanya sebatas itu, mengingat sosok itu sangat tampan kalau saja matanya tidak semerah darah dan tangannya yang dingin mencengkram Senna, membelitnya bagaikan ular. Suaranya yang mendesis rendah, namun sangat merdu masih terngiang di telinga Senna seakan sosok itu memang masih bicara di sampingnya.

Senna turun dari tempat tidur dan membuka jendelanya. Dia membiaran udara pagi yang sejuk tercampur embun menampar wajahnya dan mengisi paru-parunya. Cukup menyenangkan membiarkan pikirannya yang kacau diluruskan oleh alam. Cuaca Smalltown Hill hari ini berawan. Senna hanya berharap agar tidak ada petir. Itu akan berfek buruk padanya, setelah mimpi buruk tentu saja.

Setelah cukup menikmati udara segar, dia berjalan ke kamar mandi. Senna membiarkan dirinya diguyur air panas. Sebenarnya air dingin lebih baik untuk membantunya menyegarkan pikiran, tapi Senna khawatir bayangan tangan dingin yang mencengkramnya bisa kembali. Setelah mengenakan kaos putih bertopi dan jeans hitamnya, Senna menyiapkan buku-bukunya dan menuju dapur. Dia tidak memilih menu yang rumit untuk sarapan kali ini. Hanya 2 roti panggang dan secangkir coklat hangat. Saat dia mengaduk coklatnya, tubuhya membeku kaget mendengar ketukan di pintu. Senna tidak terbiasa –bahkan tidak pernah- mendapat tamu di rumahnya. Bahkan rasanya tidak ada yang tahu letak rumahnya.

Dengan langkah cemas dia berjalan ke pintu dan membukanya sedikit. Matanya melebar dan dia langsung membuka pintu lebar-lebar melihat siapa yang berdiri di terasnya. “Sedang apa kau disini?” tanyanya dengan suara separu tercekik.

Dennis Althrop berdiri di depan pintunya dengan senyum lebar. Wajahnya tampak senang, sama sekali tidak tersinggung dengan pertanyaan Senna. “Selamat pagi,” sapanya seakan Senna tadi menyapanya, “aku sedang berpikir, mungkin kau ingin berangkat ke sekolah bersamaku pagi ini?”

Senna melongo sambil memegangi pintu. Tampaknya dia tidak akan sadar kalau tidak mendengar suara TING dari dapur, tanda rotinya sudah siap. Dengan gugup, Senna mempersilahkan Dennis masuk. “Ehm, kau mau sarapan?” tanya Senna berusaha sopan. Dennis mengikutinya dan duduk di meja makan.

Dennis tertawa kecil. “Terima kasih, aku sudah sarapan.” Jawabnya. Mata birunya bersinar aneh saat mengatakannya. Mau tidak mau Senna tersenyum juga. Senyumannya terasa aneh karena otot-otot wajahnya terasa sangat kaku.

Senna menghabiskan sarapannya dengan cepat. Dia bahkan tidak mengoleskan butter ke rotinya. Pikirannya tidak terfokus pada sarapan, tapi pada Dennis yang berkeliling mengamati rumahnya. Begitu roti dan coklatnya habis, dia meletakkan piring dan gelasnya di tempat cuci piring, tidak langsung mencucinya seperti biasa, dan menghampiri Dennis yang sedang mengamati salah satu buku-buku di raknya.

“Mitologi?” tanya Dennis saat mendengar langkah Senna mendekat. Ekspresinya aneh sekali.

Senna mengangkat bahu. “Mengingat pengalaman hidupku, rasanya tidak salah untuk tahu kan?” Dennis mengangguk sekali dan kembali tersenyum saat memandang Senna.

“Siap berangkat?”

Untuk kedua kalinya Senna naik mobil Dennis. Kali ini, dia mengamati isi mobil Dennis. Tidak ada tanda-tanda mobil pribadi kecuali beberapa CD yang terletak di dasbord. Mobilnya juga sangat bersih dan wangi meskipun sama sekali tidak ada pengharum mobil. Kursi-kursi di mobilnya tebungkus dengan bahan kulit yang nyaman.

“Bagaimana dengan saudara-saudaramu?” tanya Senna saat mobil Dennis melewati jalan tanah berbatu halus. “Kenapa mendadak hari ini kau menawariku tumpangan?”

Dennis memandangnya sekilas sebelum menjawab, “Mereka pakai mobil yang lain. Aku ingin berangkat bersamamu saja. Kurasa banyak yang ingin kau tanyakan padaku. Aku juga ingin bertanya padamu.” Tambah Dennis kemudian. Tidak lama kemudian mobil sudah menemukan jalan raya dan meluncur mulus dengan kecepatan tinggi.

“Tentu saja. Banyak yang harus kita bicarakan.” Senna menyetujuinya. Memang benar, setelah apa yang mereka alami tadi malam, obrolan fanatastis yang pendek tentu tidak akan memuaskan. “Bagaimana kau bisa menangkapku tepat waktu saat aku jatuh?”

“Aku kebetulan sedang didekat sana,” tampaknya Dennis agak ragu sebelum melanjutkan. “Aku suka menghabiskan sore di puncak gunung. Itu yang kulakukan setiap hari. Kebetulan saat aku ingin pulang, aku mendengarmu menjerit dan ada gemuruh mengerikan. Langsung saja aku terbang dan melihatmu.” Senna tidak perlu menunggu kelanjutannya karena dia sudah tahu.

“Mengapa kau… menghabiskan sore di puncak gunung?” tanya Senna. Pepohonan tinggi yang berdiri di kanan-kiri jalan tampak kabur. Dennis terdiam, membuat Senna merasa telah salah memberikan pertanyaan.

“Hanya ingin memandangi matahari terbenam.” Jawab Dennis beberapa saat kemudian dengan nada tegas mengakhiri pembicaraan.Read More »

Oppa, This is For You…

Genre : Romance, [apa aja de]

Length : One Shoot

Casts : Super Junior Members, Senna, Fani, Fabiola

Ini FF lama yang kubuat tahun 2010. Pas lagi baca-baca ff lama, baru keingat ini ga dipost.. meski telat & uda jamuran, gpp de… ^^ Kalo dibandingin dengan keadaan sekarang uda ga nyambung banget, jadi bagi readers, harap jangan dibandingin dengan realita. INI HANYA FIKSI, KHAYALAN BELAKA. OK??!

 

Desember 2010

“Pemenang tahun ini adalah….. Sunyosidae!!!!!!!!!!!!!!!!!”

 

Terdengar teriakan dan tepuk tangan meriah dari seluruh gedung. Tapi tidak untuk 10 namja serba puith itu. Wajah mereka tersenyum dan kata-kata selamat keluar dari mulut mereka, tapi tidak dengan hati mereka. Hati mereka tersayat dan mata mereka sudah terlalu panas, siap menumpahkan segala perasaan mereka.

 

2 diantaranya saling berpelukan, saling menyemangati. Tanpa berlama-lama disana, mereka menghilang ke backstage, bahkan tidak ikut dalam foto saat acara berakhir.

 

Seorang yeoja yang berdiri tidak jauh dari mereka segera menyusulnya ke backstage, tapi dicegah oleh seseorang.

 

“Senna!!! Jangan pergi dulu. Seharusnya Fani yang kedalam. Ingat jangan buat gossip apapun sekarang.”

 

Yeoja yang dipanggil Senna tampak akan memberontak, tapi dia akhirnya mengikuti kata-kata sang leader. “Fani, kau mau masuk?”

 

“Ani.. aku tunggu disini saja. Lagipula masih ada 8 orang disini.” Dia tersenyum lemah. Ya, mereka bertiga, anggota girlband Supersidae dan masing-masing punya hubungan khusus dengan member suju. Tapi, hanya hubungan Fani dan Heechul la yang sudah diketahui oleh media. Tanpa memperdulikan SNSD yang sedang berada di panggung, mereka bertiga menghampiri sisa member yang ada dan menghibur mereka. Sebenarnya tadi manager suju sudah membisikkan kabar ini pada mereka. Meski sudah bersiap-siap, tapi tetap saja, mereka hanya manusia biasa.

 

“Gwaenchanayo???” Tanya Fani pada Yesung oppa yang pucat pasi. Dari tadi dia terlihat hampir ambruk. Wajar saja, dia sedang demam tapi harus menghadiri acara ini. Sudah begitu tidak menang lagi.

 

“Ne… gwaenchana..” katanya pelan. Dari tadi Ryeowook berdiri disampingnya, bersiap-siap menangkapnya kalau dia roboh.

 

Mereka semua membungkuk 90 derajat pada ELF dan kemudian menghilang ke backstage. Begitu sampai di backstage air mata mereka jatuh. Semua menangis. Buru-buru para manager membawa mereka ke van. Tentu dengan pengamanan yang luar biasa, mengingat para ELF yang kecewa sedang menunggu diluar.

 

Ketiga gadis itu juga ikut menghilang bersama member suju. Fabiola ikut bersama van suju, menemani Kyuhyun sementara Senna langsung meminjam mobil manager dan pergi ke tempat Leeteuk dan Heechul. Fani yang sempat bingung harus menghibur Sungmin atau ikut ke tempat Heechul akhirnya ikut dengan suju. Tapi dia terus menelpon Heechul.

 

Tidak perlu waktu lama Senna sudah sampai di sebuah tempat minum. Dia memakai mantel putih panjangnya, dan topi rajut untuk menutupi gaunnya dan sedikit menyamar. Untung saja tempat ini tidak terlalu ramai, jadi dia langsung naik ke lantai 2. Lantai 1 adalah bar umum sedangkan lantai 2 terdiri dari kamar-kamar VIP. Tadi dia sudah menelpon Leeteuk dan diberi tahu dia berada disini.

Read More »

슈퍼 스토리 (Super Story) Part 20

By : 슈 퍼 시대

Genre : Romance, Friendship,  [apa aja de]

Length : Chaptered

Casts : All Super Junior Members , Fabiola, Fani, Senna

“Aku akan ke Taiwan.” Kata seorang namja sambil sibuk memainkan PSP nya.

“Berapa lama?” tanya seorang yeoja sambil sibuk dengan BB nya. Mereka berdua sedang menikmati waktu senggang yang sangat langka, berdua.

“Setahun.” Jawab Kyuhyun santai

“Selamat jalan.” Kata Fabiola tanpa mengalihkan padangan dari BBnya. Tapi mendadak keduanya berhenti seakan film yang sedang di pause. Kepala mereka menoleh ke arah satu sama lain. Detik demi detik berlalu dan Fabiola membelalakkan matanya bersamaan dengan kyuhyun dan mereka berdua berdiri.

“MWO?? Setahun?”

“MWO?? Semudah itu kau membiarkanku pergi?”

Mereka berdua bicara –atau lebih tepatnya teriak- pada saat yang bersamaan. BB dan PSP terlupakan seketika.

“Kenapa semudah itu kau mengatakan selamat jalan? Tidak akan merindukanku?” tanya kyuhyun agak mencibir.

“Seharusnya aku yang tanya. Pergi setahun ke Taiwan? Apa itu mungkin? Paling hanya 2 atau 3 bulan kan?” kata Fabiola setelah otaknya bisa mengkalkulasi kemungkinan kebernaran perkataan kyuhyun hanya 0.0001%.

“O.. aku tahu… Pasti kau punya selingkuhan kan?” kata Kyuhyun langsung dengan tatapan siap membunuh.

“YA!!! Seenakknya saja kau bicara. Kau pikir aku bodoh? Kebohonganmu itu sama sekali tidak bermutu.” Kata Fabiola dengan mengirim tatapan yang tidak kalah seram. (*evil couple..)

“Jadi menurutmu aku ini pembohong? Kau sama sekali tidak cemas, meski aku hanya pergi 3 bulan sekalipun, mungkin aku bertemu gadis Taiwan yang lebih sexy?”

Kali ini fabiola benar-benar meledak. “Apa maksudmu Cho Kyu Hyun ssi?” katanya dengan nada yang mampu membuat siapapun lari terbirit-birit. “jadi maksudmu kau ingin gadis yang lebih sexy?”

Read More »

슈퍼 스토리 (Super Story) Part 19

By : 슈 퍼 시대

Genre : Romance, Friendship,  [apa aja de]

Length : Chaptered

Casts : All Super Junior Members , Fabiola, Fani, Senna

“Selamat datang di acara Starking special episode ke 200” ucap Kang Hodong, MC acara ini. Semua bintang tamu dan penonton bertepuk tangan.

“ne.. tidak disangka starking sudah 200 episode” ucap Leeteuk yang menjadi bintang tamu tetap di Starking, begitu juga dengan Fani dan Eunhyuk.

“kita kedatangan bintang tamu yang cukup banyak dan terkenal yaitu SuperJunior, SuperSidae, Miss A, SHINee, dll” ucap Eunhyuk

“fabiola.. bisa kita tukaran tempat duduk?” bisik Heechul ke Fabiola yang ada dibawah

“bilang saja kau mau dekat dengan Fani kan, dasar oppa” ucap Fabiola beranjak dari tempatnya dan duduk di tempat Heechul dan dia terkejut sebelah ada Kyuhyun.

“Yeobo.. kau kok disini?” ucap Fani yang menyadari Heechul sudah disampingnya.

“mau jaga-jaga kau dari Eunhyuk” ucap Heechul sambil melirik Eunhyuk yang duduk disebelah kiri Fani.

“Hyung.. kau ini” ucap Eunhyuk kesal. Fani langsung memukul pelan tangan Heechul

(urutan duduknya : baris pertama -> Leeteuk, Eunhyuk, Fani, Heechul, Senna, dll. Baris kedua -> Key, Minho, Onew, Taemin, Fabiola, Kyuhyun, Sungmin, Donghae, Siwon, Ryeowook , Yesung Shindong. Baris Ketiga -> Min, Jia, Fei , Mir, Sangchu, Syori, Jungshin, G.O, Alexander dll.)

“hyung… kuharap kau bisa jaga emosimu” bisik Kyuhyun ke Sungmin ketika mereka melihat Heechul berpindah tempat ke sebelah Fani.

Hodong : Mari kita sambut peserta pertama..

Seorang cowok dan cewek sekitar berusia 23 tahun keluar dengan mesranya.

“annyeonghaseyo Lee Juri imnida” ucap cewek tersebut

“annyeonghaseyo Kim woonjin imnida” ucap cowok tersebut

“KALIAN..” ucap pasangan tersebut sambil menunjuk Heechul dan Fani. Semuanya terkejut karena teriakan mereka. Sedangkan Fani dan Heechul menatap heran ke mereka.

“mentang-mentang kalian pacaran, seenak saja memamerkan kemesraan. Kami bisa lebih mesra dari kalian” ucap mereka masih menatap Heechul dan Fani.

Fani hanya tersenyum dan Heechul Cuma nyengir mendengar perkataan merekaRead More »

Wishes

Casts            :  Dennis, Aiden, Nathan, Casey, Andrew

                             Senna

Genre                : Romace, Fantasy

Length              : Oneshoot

Seorang gadis duduk di beranda kamarnya sambil memegang secangkir coklat hangat favoritnya. Gadis itu sedang menatap miliyaran titik-titik kecil yang berkedip di langit seakan berusaha menghitung jumlahnya. Setiap malam gadis ini selalu menghabiskan waktu berjam-jam hanya dengan duduk diam sambil memperhatikan bintang.

“Malam ini, bintangnya indah sekali. Seandainya tidak perlu duduk sendirian begini.” gumamnya pada dirinya sendiri. “Seandainya aku bisa duduk bersamanya sambil melihat bintang seperti ini, sekali saja. Pasti akan sangat menyenangkan.”

Angin malam yang dingin tiba-tiba berhembus. “Hatchi… kenapa mendadak anginnya jadi dingin begini?? Bukannya sekarang masih musim panas?” Gumam gadis itu sambil berjalan masuk ke kamarnya.

CRING… CRING… CRING…

+++

            “Sedang apa kalian?” tanya seorang pemuda berambut coklat pada teman-temannya. Begitu dia masuk ke ruang keluarga, dia melihat semua teman-temannya duduk bersama di ruang keluarga. Mata mereka semua terfokus pada layar TV. “Tidak biasanya kalian berkumpul seperti ini.”

“Soalnya acara hari ini bagus. Ini cocok untuk orang sepertimu.” Jawab salah satu temannya tanpa mengalihkan mata dari TV.

Pemuda berambut coklat itu tampak keheranan. “Maksudnya?”

“Ini acara untuk orang yang belum dapat jodoh. Kalau kau memohon dengan tulus agar bisa bertemu dengan seseorang yang benar-benar tulus mencintaimu sambil memegang sebuah cincin yang ingin kau pasangkan di jarinya,  pasti akan terkabul.” Tambah temannya yang lain.

“Ya!!” pemuda itu menjitaki mereka satu persatu. “Maksud kalian aku ini kurang tulus dalam memohon?? Begitu?? Aku kan sudah pernah bilang pada kalian, aku tidak ingin memikirkan masalah pacar sebelum aku sukses.”

Dia masuk ke kamarnya dan langsung menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur. “Apa hanya gara-gara di antara semua yang tinggal di apartemen ini hanya tinggal aku yang belum punya pacar, mereka kira aku tidak laku sampai harus percaya hal seperti itu?? Lagipula, acara apa itu?? Aneh sekali.”

Pemuda itu memejamkan matanya, berusaha untuk tidur. Meski tubuhnya sudah lelah, tapi pikirannya tetap sibuk. “Tapi, apa itu benar ya?” dia menarik sebuah laci disamping tempat tidurnya dan mengeluarkan sebuah kotak biru kecil. Di dalamnya ada sebuah cincin pemberian ibunya sebelum meninggal. Ibunya berpesan agar cincin itu diberikan pada istrinya suatu saat nanti. “Mungkin tidak ada salahnya dicoba.” Katanya memutuskan. Dia menggenggam cinicin itu dengan kedua tangannya dan memejamkan matanya. “Semoga saja aku bisa segera bertemu dengan gadis yang benar-benar mencintaiku. Amin.”

CRING… CRING… CRING…

+++

Ting Tong Teng Tong… Tong Teng Ting Tong….

Dennis menggerak-gerakkan tangan kirinya di atas meja, mencari-cari alaram yang terus berteriak menyuruhnya bangun. Matanya seperti direkatkan dengan lem dan tidak bisa dibuka, jadi dia hanya meraba-raba meja dengan tangannya, namun karena mejanya ada di sebelah kanan, dia kesulitan mencari dengan tangan kiri. Dennis ingin menggunakan tangan kanannya, tapi tangannya terasa kaku dan tidak bisa digerakkan. Dengan sekuat tenaga, Dennis mencoba  membuat kedua kelopak matanya terbuka.Read More »

슈퍼 스토리 (Super Story) Part 18

By : 슈 퍼 시대

Genre : Romance, Friendship,  [apa aja de]

Length : Chaptered

Casts : All Super Junior Members , Fabiola, Fani, Senna

“CHO KYUHYUN!!!!!!!!!!!!!!!”

ketenangan di ruang latihan superjunior terusik oleh debam pintu dan teriakan mengelegar seorang yeoja yang tampak sangat marah.

“Apa-apaan ini?” Tanya fabiola dengan nada tajam sambil melempar beberapa lembar kertas kepada kyuhyun. Semua member yang ada di ruang latihan terburu-buru merapat ke pojok. Entah kenapa mereka bersembilan merasa ketakutan padahal yang datang hanya seorang hoobae, yeoja lagi.

Tapi berbeda dengan semua hyungnya, kyuhyun tampak tidak terpengaruh dengan hawa pembunuh dari Fabiola. Kyuhyun dengan santai melihat kertas-kertas itu satu demi satu. Beberapa menit yang panjang kemudian dia mengangkat kepala dari kertas-kertas itu.

“Kenapa memangnya?” tanyanya dengan wajah polos bagaikan anak kecil yang tidak tahu kalau mengambil barang orang lain tanpa ijin adalah mencuri.

“Kenapa katamu?” Tanya fabiola dalam bisikan maut. “seharusnya itu pertanyaanku. Kenapa kau seperti itu?”

“apa salahnya?? Wajarkan?” mata fabiola membulat. “Wajar katamu?”

“Aku kan sudah bilang aku mau main musical. Ini kan bagian dari pertunjukan. Sebagai orang yang professional tidak masalah dong.” Kata kyuhyun dengan santai dan mengembalikan kertas-kertas itu pada fabiola.

“Musikal?? Tapi kenapa kau tidak bilang dulu padaku??” katanya penuh emosi. Bukan marah tapi kecewa karena tertinggal sesuatu yang sangat penting.

“Siapa bilang aku tidak bilang? Aku sudah mau bilang waktu itu. Tapi kan kau sendiri yang tidak mau dengar. Jadi jangan salahkan aku nona fabiola?!” kyuhyun tersenyum evil dan mengambil psp nya.

Fabiola terdiam. Dia mengingat kembali saat itu. Kalau tidak salah waktu itu…Read More »