Special Investigation Team (SIT) ~ Case 1

Genre : Fiction, Mystery, Supernatural 

Setting : Japan, 20xx Spring

Length : Chaptered

Casts : Chiaki Shinichi, Hio Shizuka and others… ^^

(I’m trying something new… Is it good? or worse  than before?)

“Kasus pembunuhan berantai, ya?” Tanya seorang laki-laki paruh baya sambil mempelajari dokumen di tangannya. Dahinya sedikit mengernyit karena berpikir.

“Sejauh ini sudah ada 5 korban. Semuanya perempuan berusia antara 17-25 tahun. Semua korban ditikam tepat di jantung dan pelaku juga menyayat tanda X besar pada kedua pipi setiap korban.” Lapor seorang laki-laki lain yang lebih muda –berusia sekitar akhir 20-an- dan mengenakan kacamata.

Kirishima, ketua Special Investigation Team atau yang lebih sering disebut SIT menegakkan tubuhnya sambil meletakkan dokumen di meja. Ia tidak heran kalau baru sekarang kasus ini diberikan pada timnya. Mengingat SIT adalah divisi baru yang dibentuk beberapa bulan lalu oleh Kepala Polisi dan sebuah institut penelitian kriminal. Mereka biasanya menangani kasus-kasus yang rumit atau kasus yang tidak bisa ditangani oleh divisi lainnya. Anggota SIT sendiri tidak banyak, hanya 6 orang laki-laki. Masing-masing di ambil dari berbagai divisi di kepolisian Jepang sehingga mereka memiliki latar spesialisasi yang berbeda.

“Dimana Chiaki?” tanyanya kemudian sambil melihat jam. “Orang itu juga belum datang?”

“Mungkin di ruang santai. Tapi, siapa maksud Anda dengan ‘orang itu’?”

Kirishima mengeryitkan dahi. “Aku belum memberitahu kalian?” semua anak buahnya menggeleng bersamaan. “Direktur mengirim seseorang dari institusi untuk membantu penyelidikan. Seharusnya ia sudah datang setengah jam yang lalu. Tapi sampai sekarang masih tidak kelihatan juga.”

+++

Sementara itu, di saat bersamaan seorang gadis berambut hitam panjang sedang celingak-celinguk kebingungan. Rasanya ia sudah berkeliling ke seluruh gedung, tapi belum juga menemukan ruangan yang benar. Bisa saja ia bertanya pada seseorang, sayangnya tidak ada orang yang bisa ditanyai. Sejak tadi, ia hanya menyusuri koridor-koridor kosong.

“Apa benar ini kantor polisi? Kenapa tidak ada seorang pun?” gumam gadis itu sambil terus berjalan, kemudia tatapannya terpaku pada sebuah pintu di ujung yang terbuka. “Mungkin ada orang disana.”

Ia mempercepat langkahnya, namun berhenti mendadak di depan pintu. Ia mengerjap-ngerjap bingung melihat seorang laki-laki yang tertidur di sofa. Sofa 3 dudukan itu tidak mampu menampung seluruh tubuhnya. Kakinya yang panjang terjulur di atas lengan kursi. Meski merasa tidak enak mengganggu orang yang tidur, gadis itu tetap melintasi ruangan dengan cepat dan pelan dan menunduk di atas orang itu.

Belum sempat gadis itu melakukan apapun, sebuah lengan mendadak saja menakap pinggangnya, memutarnya dengan cepat dan dalam sekejap ia sudah berbaring di sofa sementara laki-laki itu berada di atasnya. Ia tertindih di sofa dengan kedua lengan terkunci. Wajah laki-laki itu masih terlihat mengantuk, namun matanya yang hitam jernih menatapnya tajam.

“Siapa kau?”tanyanya dingin.

+++

“Hei, Chiaki!!” Kirishima dan yang lainnya berdiri mematung di pintu ruang santai. Mereka semua bermaksud segera menemui Chiaki dan memberitahunya tentang kasus. Ruang santai berada tepat di depan ruang kerja mereka sehingga tidak perlu waktu lama untuk ke sana. Hanya saja, perlu waktu untuk menghilangkan keterkejutan akan apa yang mereka lihat.

“Apa-apaan kau???!!!” teriak Kirishima begitu pulih dari kekagetannya. Di belakang, rekan-rekan Chiaki masih mematung dengan wajah memerah.

Read More »

Povestea lui Angel – storia 5

Cast: Dennis, Casey, Andrew, Marcus, Aiden

Genre : Fantasy

Length : Chaptered

 

Hari-hari berjalan normal bagi Senna. Setidaknya dalam beberapa hari ini dia tidak mengalami kejadian yang membahayakan jiwa. Sempat terbersit di benaknya, mungkinkah karena hari-harinya yang sekarang selalu ditemani oleh malaikat bawah sehingga hal buruk cukup menjauhinya? Tapi, entah mengapa ada sesuatu yang menggangu pikirannya, meski Senna sendiri tidak bisa mengatakan apa yang mengganggunya itu.

“Kau keberatan bangun pagi besok?” tanya Dennis saat mengantarkan Senna pulang sekitar dua minggu kemudian.

“Seberapa pagi?” Senna berusaha menjaga suaranya tetap tenang. Selama beberapa hari terakhir sama sekali tidak ada pembicaraan yang menyinggung ajakan Dennis waktu itu. Senna sempat berpikir kalau Dennis sudah lupa.

Dennis menatap lurus-lurus dalam mata Senna. “Kau tahu, kau bisa membatalkannya kapanpun. Kalau kau keberatan untuk pergi tidak masalah bagiku.”

Senna tertawa. “Seberapa pagi?” tanyanya ulang. Dennis masih menatapnya dalam. “Dengar, aku tidak punya masalah dengan pergi bersamamu. Tapi, aku mendapat kesan bahwa kaulah yang tidak ingin mengajakku pergi ke-entah-dimana itu.”

Dennis menyerah. Memang benar. Setelah mengajak Senna, dia menjadi ragu, apalagi setelah pembicaraannya dengan saudara-saudanya. Sebagian dari dirinya masih takut dan ragu. “Jam 6 pagi. Perjalanan kita cukup jauh.”

Senna tersenyum. “Sangat pagi.” Setelah saling bertukar selamat tinggal, Senna kembali dalam rumahnya.

Senna mendengarkan sampai suara mesin mobil Dennis menghilang di kejauhan sambil berdiri bersandar dibalik pintu. Entah kenapa mendadak Senna merasakan perasaan yang tidak enak. Senna sama sekali tidak mengerti, tapi dia merasa kosong mendadak. Senna memutuskan untuk merendam tubuhnya dalam air dingin agar lebih tenang. Kalau tidak berhasil, dia akan minum obat tidur.

 

+++

Senna terbaring terjaga sepanjang malam. Obat tidur yang diminumnya tidak berpengaruh sama sekali. Pikirannya memang tenang, tapi sama sekali tidak bisa tidur. Sedetikpun matanya tak ingin terpejam. Betapa leganya Senna saat jam di samping tempat tidurnya menunjukkan puku 4.50.

Memang masih terlalu pagi, tapi percuma bila dia tetap di tempat tidur. Senna menyalakan lampu di seluruh rumah dan memutuskan untuk melakukan senam ringan di ruang tamu. Meski lebih segar kalau berolahraga diluar, Senna masih cukup khawatir dengan kemungkinan terjadinya kecelakaan aneh di tengah hutan yang gelap.

Setelah kira-kira setengah jam, Senna merasa lebih segar setelah berkeringat. Dia mendinginkan tubuh dengan menyiapkan pakaian yang akan dikenakannya. Setelah semua siap, Senna bergegas mandi. Dia baru selesai mengecek semua barang-barangnya saat terdengar ketukan halus di pintunya.

“Kau tidak menyetir?” tanya Senna sambil membuka pintu. Dia tidak melihat adanya mobil di halaman.

“Kuharap kau tidak keberatan kalau kita menggunakan mobilmu saja.” Senna sebenarnya ingin bertanya alasannya, tapi entah kenapa dia mengurungkan niatnya.

“Siap berangkat?”

Senna mengangguk dan menyambar tasnya dari atas sofa. Udara pagi terasa segar begitu dia melangkah keluar. “Apa aku juga yang menyetir?”

“Kalau kau tidak keberatan.” Jawab Dennis. Senna tersenyum dan membuka garasi kemudian mengeluarkan mobilnya.

Selama kira-kira tiga perempat jam mobil Senna melaju dalam keheningan. Dennis hanya bicara untuk menunjukkan arah bila ada persimpangan yang menanti. Senna sama sekali tidak tahu kemana mereka akan pergi. Dennis tidak mengatakan apapun. Senna bisa menahan diri sejak kemarin, tapi sekarang rasanya tidak.

“Aku tahu kau akan bertanya padaku.” Kata Dennis tiba-tiba, tepat saat Senna akan membuka mulut.

“Kau bisa baca pikiran?”

Dennis menggeleng pelan. “Tidak. Aku menebak dari tingkahmu.” Senna mengeryitkan dahi sebagai tanda meminta penjelasan lebih lanjut. “Pertama, aku berhutan maaf padamu. Kau tahu, aku mengajakmu ke suatu tempat untuk bertemu dengan seseorang yang sangat berarti bagiku.”Read More »

Povestea lui Angel – storia 4

Cast: Dennis, Casey, Andrew, Marcus, Aiden

Genre : Fantasy

Length : Chaptered

 

Keringat dingin membasahi tubuhnya, napasnya terengah-engah seakan habis berlari maraton. Senna mendekap tubuhnya sendiri dengan tangannya seakan ingin berlindung dari sesuatu yang tak tampak. Kamarnya yang terang karena dia tidak pernah mematikan lampu saat tidur menjadi lebih terang ditambah sedikit cahaya matahari dari jendela yang tertutup. Perlu bebepara menit baginya untuk menenangkan diri dan meyakinkan dirinya bahwa itu hanya mimpi. Sebuah mimpi yang sangat mengerikan. Senna masih bisa melihat sosok berjubah hitam yang tersenyum padanya. Mungkin tidak akan menjadi mimpi buruk kalau hanya sebatas itu, mengingat sosok itu sangat tampan kalau saja matanya tidak semerah darah dan tangannya yang dingin mencengkram Senna, membelitnya bagaikan ular. Suaranya yang mendesis rendah, namun sangat merdu masih terngiang di telinga Senna seakan sosok itu memang masih bicara di sampingnya.

Senna turun dari tempat tidur dan membuka jendelanya. Dia membiaran udara pagi yang sejuk tercampur embun menampar wajahnya dan mengisi paru-parunya. Cukup menyenangkan membiarkan pikirannya yang kacau diluruskan oleh alam. Cuaca Smalltown Hill hari ini berawan. Senna hanya berharap agar tidak ada petir. Itu akan berfek buruk padanya, setelah mimpi buruk tentu saja.

Setelah cukup menikmati udara segar, dia berjalan ke kamar mandi. Senna membiarkan dirinya diguyur air panas. Sebenarnya air dingin lebih baik untuk membantunya menyegarkan pikiran, tapi Senna khawatir bayangan tangan dingin yang mencengkramnya bisa kembali. Setelah mengenakan kaos putih bertopi dan jeans hitamnya, Senna menyiapkan buku-bukunya dan menuju dapur. Dia tidak memilih menu yang rumit untuk sarapan kali ini. Hanya 2 roti panggang dan secangkir coklat hangat. Saat dia mengaduk coklatnya, tubuhya membeku kaget mendengar ketukan di pintu. Senna tidak terbiasa –bahkan tidak pernah- mendapat tamu di rumahnya. Bahkan rasanya tidak ada yang tahu letak rumahnya.

Dengan langkah cemas dia berjalan ke pintu dan membukanya sedikit. Matanya melebar dan dia langsung membuka pintu lebar-lebar melihat siapa yang berdiri di terasnya. “Sedang apa kau disini?” tanyanya dengan suara separu tercekik.

Dennis Althrop berdiri di depan pintunya dengan senyum lebar. Wajahnya tampak senang, sama sekali tidak tersinggung dengan pertanyaan Senna. “Selamat pagi,” sapanya seakan Senna tadi menyapanya, “aku sedang berpikir, mungkin kau ingin berangkat ke sekolah bersamaku pagi ini?”

Senna melongo sambil memegangi pintu. Tampaknya dia tidak akan sadar kalau tidak mendengar suara TING dari dapur, tanda rotinya sudah siap. Dengan gugup, Senna mempersilahkan Dennis masuk. “Ehm, kau mau sarapan?” tanya Senna berusaha sopan. Dennis mengikutinya dan duduk di meja makan.

Dennis tertawa kecil. “Terima kasih, aku sudah sarapan.” Jawabnya. Mata birunya bersinar aneh saat mengatakannya. Mau tidak mau Senna tersenyum juga. Senyumannya terasa aneh karena otot-otot wajahnya terasa sangat kaku.

Senna menghabiskan sarapannya dengan cepat. Dia bahkan tidak mengoleskan butter ke rotinya. Pikirannya tidak terfokus pada sarapan, tapi pada Dennis yang berkeliling mengamati rumahnya. Begitu roti dan coklatnya habis, dia meletakkan piring dan gelasnya di tempat cuci piring, tidak langsung mencucinya seperti biasa, dan menghampiri Dennis yang sedang mengamati salah satu buku-buku di raknya.

“Mitologi?” tanya Dennis saat mendengar langkah Senna mendekat. Ekspresinya aneh sekali.

Senna mengangkat bahu. “Mengingat pengalaman hidupku, rasanya tidak salah untuk tahu kan?” Dennis mengangguk sekali dan kembali tersenyum saat memandang Senna.

“Siap berangkat?”

Untuk kedua kalinya Senna naik mobil Dennis. Kali ini, dia mengamati isi mobil Dennis. Tidak ada tanda-tanda mobil pribadi kecuali beberapa CD yang terletak di dasbord. Mobilnya juga sangat bersih dan wangi meskipun sama sekali tidak ada pengharum mobil. Kursi-kursi di mobilnya tebungkus dengan bahan kulit yang nyaman.

“Bagaimana dengan saudara-saudaramu?” tanya Senna saat mobil Dennis melewati jalan tanah berbatu halus. “Kenapa mendadak hari ini kau menawariku tumpangan?”

Dennis memandangnya sekilas sebelum menjawab, “Mereka pakai mobil yang lain. Aku ingin berangkat bersamamu saja. Kurasa banyak yang ingin kau tanyakan padaku. Aku juga ingin bertanya padamu.” Tambah Dennis kemudian. Tidak lama kemudian mobil sudah menemukan jalan raya dan meluncur mulus dengan kecepatan tinggi.

“Tentu saja. Banyak yang harus kita bicarakan.” Senna menyetujuinya. Memang benar, setelah apa yang mereka alami tadi malam, obrolan fanatastis yang pendek tentu tidak akan memuaskan. “Bagaimana kau bisa menangkapku tepat waktu saat aku jatuh?”

“Aku kebetulan sedang didekat sana,” tampaknya Dennis agak ragu sebelum melanjutkan. “Aku suka menghabiskan sore di puncak gunung. Itu yang kulakukan setiap hari. Kebetulan saat aku ingin pulang, aku mendengarmu menjerit dan ada gemuruh mengerikan. Langsung saja aku terbang dan melihatmu.” Senna tidak perlu menunggu kelanjutannya karena dia sudah tahu.

“Mengapa kau… menghabiskan sore di puncak gunung?” tanya Senna. Pepohonan tinggi yang berdiri di kanan-kiri jalan tampak kabur. Dennis terdiam, membuat Senna merasa telah salah memberikan pertanyaan.

“Hanya ingin memandangi matahari terbenam.” Jawab Dennis beberapa saat kemudian dengan nada tegas mengakhiri pembicaraan.Read More »

Povestea lui Angel – storia 3

Cast: Dennis, Casey, Andrew, Marcus, Aiden

Genre : Fantasy

Length : Chaptered

 

Keesokan paginya, cuaca mendung menaungi kota. Awan-awan gelap tebal menjadi relawan untuk menaungi kota dari sinar matahari. Orang-orang melakukan aktivitas dengan lebih cepat, seperti berjalan lebih cepat, menyetir lebih cepat dan sebagainya. Khawatir jutaan tetes air yang sedang bersiap di garis start memulai perlombaan mereka ke bumi dengan lebih cepat.

“Cuaca hari ini mungkin akan buruk.” Gumam Yuri dengan muram. Tidak seperti biasa, meski masih cukup lama sebelum bel masuk, kelas sudah hampir penuh dan halaman bisa dikatakan cukup kosong. Tampaknya efek aktivitas cepat juga menyebar bagi para murid Smalltown Hill High.

“Benarkah? Kurasa akan menyenangkan hari ini.” balas Senna. Aiden dan Yuri memandangnya bingung. “Kenapa?”

“Tapi bisa saja badai, bukan hujan saja yang datang.”

Senna balas menatap mereka heran. “Bukannya dengan hujan kita jadi lebih santai. Tinggal saja di rumah dan tidur. Lagipula, tidak perlu khawatir akan kepanasan kan?” Apapun ekspresi ataupun tanggapan Aiden dan Yuri, Senna tetap tampak santai. Bahkan suasana hatinya sangat bagus. Sesekali dia bersenandung tidak jelas. Beberapa menit kemudian, lomba para tetesan hujan menuju bumi pun dimulai.  Mr. Black sampai harus berteriak agar suaranya terdengar sampai ujung kelas. Merasa sia-sia berteriak, dia memutuskan  memberi tugas. Senna mengambil kesempatan ini untuk ke kafetaria lebih cepat. Semakin cepat selesai, semakin cepat boleh meninggalkan kelas. Senna langsung memesan makanan kesukaannya.

Senna merasa senang, setidaknya hari ini dia tidak perlu mengantri lama. Tugas tadi cukup mudah dan bisa diselesaikannya dengan cepat. Sejak hari pertama dia menginjakkan kakinya di Smalltown Hill High, dia tidak pernah bisa mendapatkan langsung pesanannya tanpa mengantri.  Senna baru saja akan duduk saat matanya menangkap 4 sosok patung dewa terindah di dunia. Yang membuatnya lebih tercengang adalah keempatnya sedang menatapnya dan salah satunya mengangkat tangan dan menggerakkan telunjuknya, memanggil Senna. Melihat Senna yang tidak merespon, Dennis berdiri dan menggerakkan telunjuknya sekali lagi. Senna melihat ke sekeliling dan tidak menemukan siapapun selain dirinya jadi dia yakin, kalau yang dipanggil oleh Dennis adalah dirinya. Dengan langkah cemas dan ragu dia mendekati meja Dennis dan saudara-saudaranya.

Seolah menghargai kehadiran seorang tamu  penting, Casey, Andrew dan Marcus ikut berdiri. Bahkan Andrew menarikkan sebuah kursi untuk Senna. “Ada apa ini?” tanya Senna sambil memperhatikan mereka satu persatu dengan penuh penilaian.

“Saudara-saudaraku ingin mengenalmu juga. Tidak masalah kan? Kurasa tidak enak kalau kau makan sendirian.” Jawab Dennis sambil tersenyum. Kalau saja Senna tidak pernah melihat senyum yang lebih dari ini, jantungnya pasti akan jungkir balik.

“Kenalkan namaku Casey. Ini Andrew dan Marcus.” Masing-masing tersenyum saat namanya di sebut, meski Senna yakin, Marcus hanya tersenyum setengah hati.

Senna hanya menggangguk. “Lalu?”

Keempatnya bertukar pandang sesaat lalu tersenyum. “Tidak ada. Hanya saja kami merasa ada yang menarik darimu.” Kata Marcus langsung pada topik. Senna menatapnya kaget dan bingung.

“Maaf?”

“Tidak ada apa-apa.” Jawab Dennis cepat. Senna memperhatikan dia melempar pandangan yang entah apa artinya pada saudara-saudaranya.

“Kalian tidak makan?” tanya Senna setelah beberapa saat yang canggung. Dia memperhatikan tidak ada apapun di atas meja kecuali makanan Senna. Bahkan air putih atau soda pun tidak ada.

Seperti sedang menahan tawa, “Hanya tidak selera.” Jawab Casey. Senna mengernyitkan dahi bingung. “Kalau begitu tidak masalah aku makan disini?”

“Tentu. Silahkan saja.” meski Senna memilih untuk makan sendirian saja daripada duduk bersama 4 orang yang sama sekali tidak makan dan malah memperhatikannya. “Ada yang salah denganku?” tanya Senna akhirnya karena sudah tidak tahan dengan suasana canggung yang aneh itu.

Casey melirik Andrew dan Marcus. “Kami harus ke perpustakaan. Ada yang harus diselesaikan.” Katanya cepat. Ketiganya bangkit berdiri dan pergi dengan langkah yang sangat elegan. Senna memperhatikan mereka sampai menghilang dibalik pintu kafetaria.

Diluar hujan masih mengguyur deras, memecah keheningan diantara mereka. “Jadi, apa yang akan kau lakukan hari ini?” tanya Dennis mendadak, mengalihkan perhatian Senna dari bayangan saudara-saudaranya.

“Hmmm??”

“Kau menyukai hujan.” Kata Dennis. Nadanya saat mengucapkan menyatakan sebuah pernyataan seakan Dennis tahu pasti itu benar.

“Lalu?” Senna melipat kedua tangannya di dada dan bersandar di kursi, jengkel. “Ada masalah dengan itu? Apa aku tidak boleh menyukai hujan karena tampaknya isi kota ini tidak menyukainya?” suara Senna mulai meninggi.

Bibir Dennis bergerak aneh, seakan sedang bertahan untuk tidak tertawa. “Tidak. Hanya saja ini pertama kalinya kau menunjukkan emosimu.” Senna tertegun. Memang tadi dia merasa jengkel dan tanpa sadar dia mengeluarkan semuanya.

“Makananmu tampaknya sudah dingin.”

Read More »

The Inn ~ Chapter 5 = Forks =

Main cast        :  All Super Junior Members,

                          Lee Ahra

Genre                : Mistery, Fantasy

Length              : Chaptered

“Lee Ahra??”

“Ne. Itu namamu.” Kata Leeteuk. Aku bisa mendengar senyum dari suaranya. “Kami mencari identitasmu di dunia atas. Agak sulit memang, tapi kami berhasil menemukannya.”

Aku masih belum bisa mengalihkan mataku dari kertas ditanganku. Bukan hanya ada namaku. Tapi juga ada alamat, pekerjaan, tanggal lahir, nomor ID, latar belakang pendidikan dan entah data apalagi. Aku tidak tahu bagaimana harus mengekspresikannya. Aku memang ingin tahu tentang masa laluku, tapi tidak kubayangkan seperti ini caranya. Semendadak ini. Rasanya aku tidak siap.

“Nona, Anda tidak apa-apa??” tanya Sungmin. Dia menyihir sulur tanaman untuk menepuk bahuku pelan.

Aku mendongak begitu tersadar dari pikiranku. “Ne..” anehnya suaraku terdengar serak. Aku berdeham sekali. “Apa ini yang kalian lakukan sampai sering menghilang dan tampak lelah begitu?”

Leeteuk tampak agak terkejut aku malah menanyakan itu dan bukannya membahas data-data diriku sementara heechul malah tampak ngantuk dan bosan. “Sebagian memang karena itu.” jawabnya.

Setelah tidak ada suara apapun yang terdengar. Tidak ada obrolan apapun. Hanya suara api yang beradu dengan bara di panggangan. Aku bingung dengan perasaanku sendiri. Sebagian merasa senang karena akhirnya aku tahu identitas asliku dan tidak perlu dipanggil nona oleh mereka. Aku juga bisa melepas bayang-bayang aku dimasa lalu dengan versi mereka. Tapi, entahlah, sebagian lagi merasakan kesedihan yang purba. Aku tidak yakin dengan perasaanku ini. Apa karena aku terlalu lama tinggal disini dan jadi agak sinting??

“Apa aku harus keluar dari sini?”

Read More »

The Inn ~ Chapter 4 = Surprise!!!!! =

Cast                   :    All Suju’s Members and a girl                            

Genre                :  Mistery, Romance

Length              :  Chaptered

Author              :  Wenteuk

 

 

Dingin… Gelap….Sesak… Sakit …

Tubuhku tak bisa bergerak… kaku, dan  menggigil. Rasanya ada batu besar yang menimpaku. Batu dingin yang besar, menyebarkan rasa dingin yang menusuk di sekujur tubuhku, membekukanku. Kepalaku berdenyut keras, mengirim berjuta rasa sakit pada bagian yang lain, atau bagian yang lain yang mengirin rasa sakit itu ke kepalaku?? Aku tidak tahu. Anehnya, kenapa rasa dingin ini tidak membekukan sarafku juga?? Setidaknya itu bisa menghentikan sakitku kan??

Aku ingin menjerit.. memanggil seseorang.. .. tapi tidak ada suara yang keluar…. Lidahku mati rasa.. kumohon… s iapa saja.. tolong aku….

#_#_#

“Selamat pagi, Nona…”

“Pagi semua…”  kuedarkan pandangan ke sekeliling meja makan. “Kurang lagi..” kataku sambil melihat sekeliling meja. Kedua kursi para tuan sudah pasti kosong –entah kenapa belakangan ini mereka jadi semakin sering hilang–, tapi kali ini si pangeran iblis juga ikut hilang.

“Kyuhyun sedang mengerjakan tugas. Dia terlalu lama libur.” Jawab Kangin sambil menuang minuman berwarna ungu aneh ke gelasnya. Meski penasaran, tapi instingku mengatakan lebih baik aku tidak tahu apa itu.

“Tugas?? Memangnya apa tugas yang harus dikerjakan pangeran iblis sampai tidak makan?” well.. ini lebih membuatku penasaran dari pada minuman ungu aneh kangin.

“Aku tidak mau tahu pokoknya dia harus makan. Aku tidak suka kalau makanan buatanku tidak dimakan.” Kata ryeowook tegas sambil menunjuk seporsi makanan dihadapannya dengan dagunya.

“Nanti akan kuantarkan.” Kata Hankyung tenang. Kalau tuan heechul dan tuan leeteuk tidak ada, memang dia yang memimpin.

“Boleh aku saja yang mengantar itu?” mereka semua memandangku bingung. Bahkan minuman ungu aneh itu juga muncrat dari mulut kangin.

“Anda??” sebenarnya aku sendiri juga bingung kenapa aku tiba-tiba ingin mengantarkan makanan ke kamarnya?? “Bolehkan?? Aku tidak pernah ke ruang bawah.”

Mereka saling bertukar pandang cemas. “Baiklah…” Aku hanya mengangguk. Kyuhyun adalah yang paling dingin selain Heechul di tempat ini. mungkin sebagian akan mengatakan untuk menjauh darinya. Tapi dia juga satu-satumya yang bisa bersikap biasa padaku. Dia tidak menggunakan bahasa formal denganku.

Begitu aku selesai makan, aku segera mengangkat nampan itu dan turun ke bawah. Di rumah ini secara tidak langsung kamar-kamar tebagi 2. Lantai paling atas untuk yang golongan putih dan kamar bawah tanah untuk yang hitam. Terkadang aku lupa kalau ada ruang bawah tanah di rumah ini seandainya tidak melihat mereka turun di malam hari.

Ternyata lantai bawah ini cukup membuatku ternganga. Tidak ada lorong sempit dengan obor sebagai penerang. Tidak ada lukisan aneh atau tengkorak di dinding. Tidak ada sarang laba-laba atau semacamnya. Bahkan bisa dibilang sama persis dengan di atas. Ada ruang tamu lalu tangga turun lagi –yang aku yakin berarti tangga naik di atas–, lukisan yang sama dan bahkan perabotan serta letak juga sama. Bisa saja kau merasa berada di rumah yang berbeda tapi di bangun oleh satu arsitek sehingga semuanya sama. Perbedaannya hanya warnya dindingnya tidak terlalu putih dan suhunya lebih dingin.

Read More »

The Inn ~ Chapter 3 = Yang Benar Saja??!!! =

Lagi-lagi aku terbangun mendadak dengan kepala pening. Mimpi yang semakin aneh mendatangiku setelah mendengar penjelasan mereka yang masih menggantung itu. Aku tidak bisa mengingat semuanya dengan jelas. Intinya dari semua mimpi itu selalu ada anak kecil disana. Apa itu mereka?

Aku berjalan ke kamar mandi dan mengisi bak dengan air dingin, beraharap aku membeku. Kubenamkan seluruh tubuhku dalam air, bahkan wajahku. Aku berusaha bertahan selama mungkin dalam air. Itu membuatku tenang.

“Karena itu kalian sangat gembira saat aku datang? Karena aku ‘kembali’?” kataku.

Mereka mengangguk. “Tapi kenapa kalian bertiga yang paling bahagia?” tanyaku menghadap mereka bertiga.

“Bukan hanya mereka, tapi aku juga.” Aku menoleh ke arah sumber suara. “Karena kau ibu kami…”

“Mwo?!!” pekikan kagetku berubah jadi gerakan mulut tanpa suara. Aku tidak mgerti kenapa bisa begitu. Tiga orang itu yang ‘palimg senang’ dengan kehadiranku –aku masih belum bisa menyebut kata kembali–, tapi kenapa di juga?? Dan apa katanya tadi… ibu?? Ibu kami??

“Kau ibu kami.” Ulangnya sambil menunjuk 2 orang dibelakangku. Aku tidak tahu siapa yang ditunjukknya karena mataku masih sibuk melihatnya. Semua orang disini tampak seumuran di mataku. Tapi kalau mereka ‘anak’ ku yang mana ayahnya? Otakku sibuk mencerna semua pernyataan dan pertanyaan yang ada.

Sentuhan lembut dibahuku membuyarkan pikiranku. Aku menoleh. “Jangan dipikirkan sekarang. Pasti Anda sudah cukup pusing dengan semua informasi tadi kan?” tanya Kibum ramah sambil tersenyum ramah. Aku merasakan efek tenang dan mendadak aku merasa sangat lelah.

Aku menarik napas panjang begitu kepalaku keluar dari air. Aku memejam mataku lagi dan bersandar di sisi bak mandi. Tadi pikiranku kembali melayang ke pembicaraan tadi malam. Kesimpulan dari penjelasan singkat dan berat tadi malam adalah aku bagian dari mereka, putri pemberontak tak bernama, punya hubungan entah apa dengan Tuan Leeteuk, Kibum dan Donghae serta aku punya ‘anak’. Aneh sekali rasanya. Sebenarnya aku tidak perlu memikirkannya. Toh itu adalah aku pada kehidupan dulu. Sekarang aku hanya manusia normal. Ya.. meski terkadang aku sendiri meragukan ke’normalanku’.

Read More »