Special Investigation Team (SIT) ~ Case 1

Genre : Fiction, Mystery, Supernatural 

Setting : Japan, 20xx Spring

Length : Chaptered

Casts : Chiaki Shinichi, Hio Shizuka and others… ^^

(I’m trying something new… Is it good? or worse  than before?)

“Kasus pembunuhan berantai, ya?” Tanya seorang laki-laki paruh baya sambil mempelajari dokumen di tangannya. Dahinya sedikit mengernyit karena berpikir.

“Sejauh ini sudah ada 5 korban. Semuanya perempuan berusia antara 17-25 tahun. Semua korban ditikam tepat di jantung dan pelaku juga menyayat tanda X besar pada kedua pipi setiap korban.” Lapor seorang laki-laki lain yang lebih muda –berusia sekitar akhir 20-an- dan mengenakan kacamata.

Kirishima, ketua Special Investigation Team atau yang lebih sering disebut SIT menegakkan tubuhnya sambil meletakkan dokumen di meja. Ia tidak heran kalau baru sekarang kasus ini diberikan pada timnya. Mengingat SIT adalah divisi baru yang dibentuk beberapa bulan lalu oleh Kepala Polisi dan sebuah institut penelitian kriminal. Mereka biasanya menangani kasus-kasus yang rumit atau kasus yang tidak bisa ditangani oleh divisi lainnya. Anggota SIT sendiri tidak banyak, hanya 6 orang laki-laki. Masing-masing di ambil dari berbagai divisi di kepolisian Jepang sehingga mereka memiliki latar spesialisasi yang berbeda.

“Dimana Chiaki?” tanyanya kemudian sambil melihat jam. “Orang itu juga belum datang?”

“Mungkin di ruang santai. Tapi, siapa maksud Anda dengan ‘orang itu’?”

Kirishima mengeryitkan dahi. “Aku belum memberitahu kalian?” semua anak buahnya menggeleng bersamaan. “Direktur mengirim seseorang dari institusi untuk membantu penyelidikan. Seharusnya ia sudah datang setengah jam yang lalu. Tapi sampai sekarang masih tidak kelihatan juga.”

+++

Sementara itu, di saat bersamaan seorang gadis berambut hitam panjang sedang celingak-celinguk kebingungan. Rasanya ia sudah berkeliling ke seluruh gedung, tapi belum juga menemukan ruangan yang benar. Bisa saja ia bertanya pada seseorang, sayangnya tidak ada orang yang bisa ditanyai. Sejak tadi, ia hanya menyusuri koridor-koridor kosong.

“Apa benar ini kantor polisi? Kenapa tidak ada seorang pun?” gumam gadis itu sambil terus berjalan, kemudia tatapannya terpaku pada sebuah pintu di ujung yang terbuka. “Mungkin ada orang disana.”

Ia mempercepat langkahnya, namun berhenti mendadak di depan pintu. Ia mengerjap-ngerjap bingung melihat seorang laki-laki yang tertidur di sofa. Sofa 3 dudukan itu tidak mampu menampung seluruh tubuhnya. Kakinya yang panjang terjulur di atas lengan kursi. Meski merasa tidak enak mengganggu orang yang tidur, gadis itu tetap melintasi ruangan dengan cepat dan pelan dan menunduk di atas orang itu.

Belum sempat gadis itu melakukan apapun, sebuah lengan mendadak saja menakap pinggangnya, memutarnya dengan cepat dan dalam sekejap ia sudah berbaring di sofa sementara laki-laki itu berada di atasnya. Ia tertindih di sofa dengan kedua lengan terkunci. Wajah laki-laki itu masih terlihat mengantuk, namun matanya yang hitam jernih menatapnya tajam.

“Siapa kau?”tanyanya dingin.

+++

“Hei, Chiaki!!” Kirishima dan yang lainnya berdiri mematung di pintu ruang santai. Mereka semua bermaksud segera menemui Chiaki dan memberitahunya tentang kasus. Ruang santai berada tepat di depan ruang kerja mereka sehingga tidak perlu waktu lama untuk ke sana. Hanya saja, perlu waktu untuk menghilangkan keterkejutan akan apa yang mereka lihat.

“Apa-apaan kau???!!!” teriak Kirishima begitu pulih dari kekagetannya. Di belakang, rekan-rekan Chiaki masih mematung dengan wajah memerah.

Read More »

SJS [Super Junior School] ~ part 12, Surprise!! ~

Genre : School Life, Romance, Friendship

Length : Chaptered

Casts : All Super Junior Members, + Lee Yuri, Wang Yui, Choi Heewon

 

Sebelum menerima hasil ujian, murid-murid SJS disibukkan dengan persiapan festival sekolah. Setiap akhir tahun ada saja yang akan dilakukan oleh sekolah, namun kali ini untuk memperingati tahun ke XXX (umur sekolah tidak diketahui dengan pasti, jadi disamarkan) ulangtahun sekolah maka festival juga diadakan di akhir semester.

Bedanya dengan sekolah lainnya, festival ini dilakukan oleh para guru, bukan oleh para murid. Festival setiap tahun juga berbeda. Pernah sekali, para guru membuat film yang diputar di bioskop sekolah dan ditonton oleh siswa beserta keluarga, pernah juga mereka tampil menyanyian lagu-lagu di panggung di pinggir kota, pernah juga para guru sengaja mengikuti variety show. Tapi, untuk kali ini sedikit berbeda. Pada festival kali ini, para guru akan menampilkan live concert di gedung serbaguna sekolah. Acara ini akan dilakukan oleh para guru sendiri. Hanya murid-murid pilihanlah yang akan ikut meramaikan acara. Sisanya akan menjadi penonton.

Guru-guru sekarang sangat sulit ditemui. Mereka sering mengunci ruang serbaguna seharian dan hanya keluar untuk ikut makan malam bersama dan kemudian menghilang lagi kedalam gedung. Hal itu membuat sebagian besar murid –terutama anggota fansclub dari guru yang bersangkutan- menjadi luar biasa cemas. Mereka bahkan membuat setiap halaman koran dan blog penuh dengan pembahasan mengenai apa yang sedang dilakukan mereka dan apa yang mungkin terjadi pada mereka.

Heewon hampir saja memuntahkan sarapannya saat membaca salah satu headline di suatu pagi, seminggu setelah para guru mulai menghilang ke dalam gedung. “SIWON MENGORBANKAN DIRI DEMI MURID-MURIDNYA”. Mungkin judulnya terdengar lebai,  tapi lebih lebai lagi isinya. Salah satu cuplikan kalimatnya adalah “Demi membahagiakan kami, guru kami yang paling kuat pun akhirnya jatuh sakit. Siwon saem telah bekerja keras demi menyukseskan acara demi kami.”

Heewon tidak perlu bertanya siapa itu ‘kami’, tapi dia bertanya darimana mereka mendengar kalau Siwon sakit? Tadi malam oppanya itu sempat menelponnya, membangunkannya pada tengah malam buta untuk mengantarkan makanan tambahan dan juga vitamin. Memang mereka semua tampak lelah, namun masih sangat sehat. Mata mereka terlihat bersinar-sinar penuh semangat saat meminta Heewon merahasiakan apa yang dilihatnya. Heewon tidak perlu merahasiakan apapun karena dia sama sekali tidak mengerti dengan apa yang dilihatnya. Memang ada stage raksasa setinggi lebih dari 2 meter yang ditata sedemikan rupa di tengah ruangan, tapi tetap saja keadaan remang-remang sehingga Heewon tidak bisa melihat keseluruhannya.

Jelas apa yang tertulis di berita ini adalah omong kosong yang ditambahi bumbu dimana-mana. Untungnya koran ini hanya terbit lokal dalam lingkungan SJS. Tapi, berita yang diblog cukup membuat khawatir keluarga. Setelah Heewon selesai membaca kalimat terakhir, ponselnya berbunyi. Ibunya menelpon. Bahkan setengah jam kemudian, Jiwon eonni muncul di sekolah dan langsung ke gedung serbaguna. Tapi, dalam 5 menit dia keluar dengan wajah aneh antara kesal dan lega.

“Eomma membangunkanku pagi-pagi untuk datang melihat keadaan oppa. Padahal aku masih jetlag. Kenapa eomma tidak menyuruhmu saja?” tanyanya dengan kesal. Dibawah matanya masih ada lingkaran hitam yang berusaha disamarkannya dengan makeup tipis, tapi tidak terlalu berhasil.

 

“Eomma sudah menelponku dan dia pasti tidak percaya. Eomma pasti mengira aku disuruh oleh oppa untuk menyampaikan ‘baik-baik saja’. Memangnya sejak kapan eomma akan percaya kalau dirinya sendiri atau utusannya belum memastikan dengan mata kepala sendiri?” keluh Heewon.

Jiwon eonni menguap dan menyeruput Americano-nya. Mereka sedang duduk dan mengobrol di cafe sekolah yang sepi. Jiwon Eonni baru kembali dari Paris kemarin. Tidak heran kalau dia masih jetlag. “Aku ingin menuntut si penulis berita.” Katanya dengan berapi-api. Tapi dalam detik yang sama dia kehilangan energinya. Dia menguap panjang dan berdiri sambil membawa gelas Americanonya.

“Aku pulang dulu. Aku harus membuat laporan tertulis.” Katanya sambil memutar matanya. Saat membesarkan matanya, dia tampak sangat mirip dengan Siwon. Mereka berjalan ke arah mobil dalam keheningan.

“Hati-hati eonni. Jangan tidur saat menyetir.”

Read More »

Povestea lui Angel – storia 5

Cast: Dennis, Casey, Andrew, Marcus, Aiden

Genre : Fantasy

Length : Chaptered

 

Hari-hari berjalan normal bagi Senna. Setidaknya dalam beberapa hari ini dia tidak mengalami kejadian yang membahayakan jiwa. Sempat terbersit di benaknya, mungkinkah karena hari-harinya yang sekarang selalu ditemani oleh malaikat bawah sehingga hal buruk cukup menjauhinya? Tapi, entah mengapa ada sesuatu yang menggangu pikirannya, meski Senna sendiri tidak bisa mengatakan apa yang mengganggunya itu.

“Kau keberatan bangun pagi besok?” tanya Dennis saat mengantarkan Senna pulang sekitar dua minggu kemudian.

“Seberapa pagi?” Senna berusaha menjaga suaranya tetap tenang. Selama beberapa hari terakhir sama sekali tidak ada pembicaraan yang menyinggung ajakan Dennis waktu itu. Senna sempat berpikir kalau Dennis sudah lupa.

Dennis menatap lurus-lurus dalam mata Senna. “Kau tahu, kau bisa membatalkannya kapanpun. Kalau kau keberatan untuk pergi tidak masalah bagiku.”

Senna tertawa. “Seberapa pagi?” tanyanya ulang. Dennis masih menatapnya dalam. “Dengar, aku tidak punya masalah dengan pergi bersamamu. Tapi, aku mendapat kesan bahwa kaulah yang tidak ingin mengajakku pergi ke-entah-dimana itu.”

Dennis menyerah. Memang benar. Setelah mengajak Senna, dia menjadi ragu, apalagi setelah pembicaraannya dengan saudara-saudanya. Sebagian dari dirinya masih takut dan ragu. “Jam 6 pagi. Perjalanan kita cukup jauh.”

Senna tersenyum. “Sangat pagi.” Setelah saling bertukar selamat tinggal, Senna kembali dalam rumahnya.

Senna mendengarkan sampai suara mesin mobil Dennis menghilang di kejauhan sambil berdiri bersandar dibalik pintu. Entah kenapa mendadak Senna merasakan perasaan yang tidak enak. Senna sama sekali tidak mengerti, tapi dia merasa kosong mendadak. Senna memutuskan untuk merendam tubuhnya dalam air dingin agar lebih tenang. Kalau tidak berhasil, dia akan minum obat tidur.

 

+++

Senna terbaring terjaga sepanjang malam. Obat tidur yang diminumnya tidak berpengaruh sama sekali. Pikirannya memang tenang, tapi sama sekali tidak bisa tidur. Sedetikpun matanya tak ingin terpejam. Betapa leganya Senna saat jam di samping tempat tidurnya menunjukkan puku 4.50.

Memang masih terlalu pagi, tapi percuma bila dia tetap di tempat tidur. Senna menyalakan lampu di seluruh rumah dan memutuskan untuk melakukan senam ringan di ruang tamu. Meski lebih segar kalau berolahraga diluar, Senna masih cukup khawatir dengan kemungkinan terjadinya kecelakaan aneh di tengah hutan yang gelap.

Setelah kira-kira setengah jam, Senna merasa lebih segar setelah berkeringat. Dia mendinginkan tubuh dengan menyiapkan pakaian yang akan dikenakannya. Setelah semua siap, Senna bergegas mandi. Dia baru selesai mengecek semua barang-barangnya saat terdengar ketukan halus di pintunya.

“Kau tidak menyetir?” tanya Senna sambil membuka pintu. Dia tidak melihat adanya mobil di halaman.

“Kuharap kau tidak keberatan kalau kita menggunakan mobilmu saja.” Senna sebenarnya ingin bertanya alasannya, tapi entah kenapa dia mengurungkan niatnya.

“Siap berangkat?”

Senna mengangguk dan menyambar tasnya dari atas sofa. Udara pagi terasa segar begitu dia melangkah keluar. “Apa aku juga yang menyetir?”

“Kalau kau tidak keberatan.” Jawab Dennis. Senna tersenyum dan membuka garasi kemudian mengeluarkan mobilnya.

Selama kira-kira tiga perempat jam mobil Senna melaju dalam keheningan. Dennis hanya bicara untuk menunjukkan arah bila ada persimpangan yang menanti. Senna sama sekali tidak tahu kemana mereka akan pergi. Dennis tidak mengatakan apapun. Senna bisa menahan diri sejak kemarin, tapi sekarang rasanya tidak.

“Aku tahu kau akan bertanya padaku.” Kata Dennis tiba-tiba, tepat saat Senna akan membuka mulut.

“Kau bisa baca pikiran?”

Dennis menggeleng pelan. “Tidak. Aku menebak dari tingkahmu.” Senna mengeryitkan dahi sebagai tanda meminta penjelasan lebih lanjut. “Pertama, aku berhutan maaf padamu. Kau tahu, aku mengajakmu ke suatu tempat untuk bertemu dengan seseorang yang sangat berarti bagiku.”Read More »

Povestea lui Angel – storia 4

Cast: Dennis, Casey, Andrew, Marcus, Aiden

Genre : Fantasy

Length : Chaptered

 

Keringat dingin membasahi tubuhnya, napasnya terengah-engah seakan habis berlari maraton. Senna mendekap tubuhnya sendiri dengan tangannya seakan ingin berlindung dari sesuatu yang tak tampak. Kamarnya yang terang karena dia tidak pernah mematikan lampu saat tidur menjadi lebih terang ditambah sedikit cahaya matahari dari jendela yang tertutup. Perlu bebepara menit baginya untuk menenangkan diri dan meyakinkan dirinya bahwa itu hanya mimpi. Sebuah mimpi yang sangat mengerikan. Senna masih bisa melihat sosok berjubah hitam yang tersenyum padanya. Mungkin tidak akan menjadi mimpi buruk kalau hanya sebatas itu, mengingat sosok itu sangat tampan kalau saja matanya tidak semerah darah dan tangannya yang dingin mencengkram Senna, membelitnya bagaikan ular. Suaranya yang mendesis rendah, namun sangat merdu masih terngiang di telinga Senna seakan sosok itu memang masih bicara di sampingnya.

Senna turun dari tempat tidur dan membuka jendelanya. Dia membiaran udara pagi yang sejuk tercampur embun menampar wajahnya dan mengisi paru-parunya. Cukup menyenangkan membiarkan pikirannya yang kacau diluruskan oleh alam. Cuaca Smalltown Hill hari ini berawan. Senna hanya berharap agar tidak ada petir. Itu akan berfek buruk padanya, setelah mimpi buruk tentu saja.

Setelah cukup menikmati udara segar, dia berjalan ke kamar mandi. Senna membiarkan dirinya diguyur air panas. Sebenarnya air dingin lebih baik untuk membantunya menyegarkan pikiran, tapi Senna khawatir bayangan tangan dingin yang mencengkramnya bisa kembali. Setelah mengenakan kaos putih bertopi dan jeans hitamnya, Senna menyiapkan buku-bukunya dan menuju dapur. Dia tidak memilih menu yang rumit untuk sarapan kali ini. Hanya 2 roti panggang dan secangkir coklat hangat. Saat dia mengaduk coklatnya, tubuhya membeku kaget mendengar ketukan di pintu. Senna tidak terbiasa –bahkan tidak pernah- mendapat tamu di rumahnya. Bahkan rasanya tidak ada yang tahu letak rumahnya.

Dengan langkah cemas dia berjalan ke pintu dan membukanya sedikit. Matanya melebar dan dia langsung membuka pintu lebar-lebar melihat siapa yang berdiri di terasnya. “Sedang apa kau disini?” tanyanya dengan suara separu tercekik.

Dennis Althrop berdiri di depan pintunya dengan senyum lebar. Wajahnya tampak senang, sama sekali tidak tersinggung dengan pertanyaan Senna. “Selamat pagi,” sapanya seakan Senna tadi menyapanya, “aku sedang berpikir, mungkin kau ingin berangkat ke sekolah bersamaku pagi ini?”

Senna melongo sambil memegangi pintu. Tampaknya dia tidak akan sadar kalau tidak mendengar suara TING dari dapur, tanda rotinya sudah siap. Dengan gugup, Senna mempersilahkan Dennis masuk. “Ehm, kau mau sarapan?” tanya Senna berusaha sopan. Dennis mengikutinya dan duduk di meja makan.

Dennis tertawa kecil. “Terima kasih, aku sudah sarapan.” Jawabnya. Mata birunya bersinar aneh saat mengatakannya. Mau tidak mau Senna tersenyum juga. Senyumannya terasa aneh karena otot-otot wajahnya terasa sangat kaku.

Senna menghabiskan sarapannya dengan cepat. Dia bahkan tidak mengoleskan butter ke rotinya. Pikirannya tidak terfokus pada sarapan, tapi pada Dennis yang berkeliling mengamati rumahnya. Begitu roti dan coklatnya habis, dia meletakkan piring dan gelasnya di tempat cuci piring, tidak langsung mencucinya seperti biasa, dan menghampiri Dennis yang sedang mengamati salah satu buku-buku di raknya.

“Mitologi?” tanya Dennis saat mendengar langkah Senna mendekat. Ekspresinya aneh sekali.

Senna mengangkat bahu. “Mengingat pengalaman hidupku, rasanya tidak salah untuk tahu kan?” Dennis mengangguk sekali dan kembali tersenyum saat memandang Senna.

“Siap berangkat?”

Untuk kedua kalinya Senna naik mobil Dennis. Kali ini, dia mengamati isi mobil Dennis. Tidak ada tanda-tanda mobil pribadi kecuali beberapa CD yang terletak di dasbord. Mobilnya juga sangat bersih dan wangi meskipun sama sekali tidak ada pengharum mobil. Kursi-kursi di mobilnya tebungkus dengan bahan kulit yang nyaman.

“Bagaimana dengan saudara-saudaramu?” tanya Senna saat mobil Dennis melewati jalan tanah berbatu halus. “Kenapa mendadak hari ini kau menawariku tumpangan?”

Dennis memandangnya sekilas sebelum menjawab, “Mereka pakai mobil yang lain. Aku ingin berangkat bersamamu saja. Kurasa banyak yang ingin kau tanyakan padaku. Aku juga ingin bertanya padamu.” Tambah Dennis kemudian. Tidak lama kemudian mobil sudah menemukan jalan raya dan meluncur mulus dengan kecepatan tinggi.

“Tentu saja. Banyak yang harus kita bicarakan.” Senna menyetujuinya. Memang benar, setelah apa yang mereka alami tadi malam, obrolan fanatastis yang pendek tentu tidak akan memuaskan. “Bagaimana kau bisa menangkapku tepat waktu saat aku jatuh?”

“Aku kebetulan sedang didekat sana,” tampaknya Dennis agak ragu sebelum melanjutkan. “Aku suka menghabiskan sore di puncak gunung. Itu yang kulakukan setiap hari. Kebetulan saat aku ingin pulang, aku mendengarmu menjerit dan ada gemuruh mengerikan. Langsung saja aku terbang dan melihatmu.” Senna tidak perlu menunggu kelanjutannya karena dia sudah tahu.

“Mengapa kau… menghabiskan sore di puncak gunung?” tanya Senna. Pepohonan tinggi yang berdiri di kanan-kiri jalan tampak kabur. Dennis terdiam, membuat Senna merasa telah salah memberikan pertanyaan.

“Hanya ingin memandangi matahari terbenam.” Jawab Dennis beberapa saat kemudian dengan nada tegas mengakhiri pembicaraan.Read More »

Povestea lui Angel – storia 3

Cast: Dennis, Casey, Andrew, Marcus, Aiden

Genre : Fantasy

Length : Chaptered

 

Keesokan paginya, cuaca mendung menaungi kota. Awan-awan gelap tebal menjadi relawan untuk menaungi kota dari sinar matahari. Orang-orang melakukan aktivitas dengan lebih cepat, seperti berjalan lebih cepat, menyetir lebih cepat dan sebagainya. Khawatir jutaan tetes air yang sedang bersiap di garis start memulai perlombaan mereka ke bumi dengan lebih cepat.

“Cuaca hari ini mungkin akan buruk.” Gumam Yuri dengan muram. Tidak seperti biasa, meski masih cukup lama sebelum bel masuk, kelas sudah hampir penuh dan halaman bisa dikatakan cukup kosong. Tampaknya efek aktivitas cepat juga menyebar bagi para murid Smalltown Hill High.

“Benarkah? Kurasa akan menyenangkan hari ini.” balas Senna. Aiden dan Yuri memandangnya bingung. “Kenapa?”

“Tapi bisa saja badai, bukan hujan saja yang datang.”

Senna balas menatap mereka heran. “Bukannya dengan hujan kita jadi lebih santai. Tinggal saja di rumah dan tidur. Lagipula, tidak perlu khawatir akan kepanasan kan?” Apapun ekspresi ataupun tanggapan Aiden dan Yuri, Senna tetap tampak santai. Bahkan suasana hatinya sangat bagus. Sesekali dia bersenandung tidak jelas. Beberapa menit kemudian, lomba para tetesan hujan menuju bumi pun dimulai.  Mr. Black sampai harus berteriak agar suaranya terdengar sampai ujung kelas. Merasa sia-sia berteriak, dia memutuskan  memberi tugas. Senna mengambil kesempatan ini untuk ke kafetaria lebih cepat. Semakin cepat selesai, semakin cepat boleh meninggalkan kelas. Senna langsung memesan makanan kesukaannya.

Senna merasa senang, setidaknya hari ini dia tidak perlu mengantri lama. Tugas tadi cukup mudah dan bisa diselesaikannya dengan cepat. Sejak hari pertama dia menginjakkan kakinya di Smalltown Hill High, dia tidak pernah bisa mendapatkan langsung pesanannya tanpa mengantri.  Senna baru saja akan duduk saat matanya menangkap 4 sosok patung dewa terindah di dunia. Yang membuatnya lebih tercengang adalah keempatnya sedang menatapnya dan salah satunya mengangkat tangan dan menggerakkan telunjuknya, memanggil Senna. Melihat Senna yang tidak merespon, Dennis berdiri dan menggerakkan telunjuknya sekali lagi. Senna melihat ke sekeliling dan tidak menemukan siapapun selain dirinya jadi dia yakin, kalau yang dipanggil oleh Dennis adalah dirinya. Dengan langkah cemas dan ragu dia mendekati meja Dennis dan saudara-saudaranya.

Seolah menghargai kehadiran seorang tamu  penting, Casey, Andrew dan Marcus ikut berdiri. Bahkan Andrew menarikkan sebuah kursi untuk Senna. “Ada apa ini?” tanya Senna sambil memperhatikan mereka satu persatu dengan penuh penilaian.

“Saudara-saudaraku ingin mengenalmu juga. Tidak masalah kan? Kurasa tidak enak kalau kau makan sendirian.” Jawab Dennis sambil tersenyum. Kalau saja Senna tidak pernah melihat senyum yang lebih dari ini, jantungnya pasti akan jungkir balik.

“Kenalkan namaku Casey. Ini Andrew dan Marcus.” Masing-masing tersenyum saat namanya di sebut, meski Senna yakin, Marcus hanya tersenyum setengah hati.

Senna hanya menggangguk. “Lalu?”

Keempatnya bertukar pandang sesaat lalu tersenyum. “Tidak ada. Hanya saja kami merasa ada yang menarik darimu.” Kata Marcus langsung pada topik. Senna menatapnya kaget dan bingung.

“Maaf?”

“Tidak ada apa-apa.” Jawab Dennis cepat. Senna memperhatikan dia melempar pandangan yang entah apa artinya pada saudara-saudaranya.

“Kalian tidak makan?” tanya Senna setelah beberapa saat yang canggung. Dia memperhatikan tidak ada apapun di atas meja kecuali makanan Senna. Bahkan air putih atau soda pun tidak ada.

Seperti sedang menahan tawa, “Hanya tidak selera.” Jawab Casey. Senna mengernyitkan dahi bingung. “Kalau begitu tidak masalah aku makan disini?”

“Tentu. Silahkan saja.” meski Senna memilih untuk makan sendirian saja daripada duduk bersama 4 orang yang sama sekali tidak makan dan malah memperhatikannya. “Ada yang salah denganku?” tanya Senna akhirnya karena sudah tidak tahan dengan suasana canggung yang aneh itu.

Casey melirik Andrew dan Marcus. “Kami harus ke perpustakaan. Ada yang harus diselesaikan.” Katanya cepat. Ketiganya bangkit berdiri dan pergi dengan langkah yang sangat elegan. Senna memperhatikan mereka sampai menghilang dibalik pintu kafetaria.

Diluar hujan masih mengguyur deras, memecah keheningan diantara mereka. “Jadi, apa yang akan kau lakukan hari ini?” tanya Dennis mendadak, mengalihkan perhatian Senna dari bayangan saudara-saudaranya.

“Hmmm??”

“Kau menyukai hujan.” Kata Dennis. Nadanya saat mengucapkan menyatakan sebuah pernyataan seakan Dennis tahu pasti itu benar.

“Lalu?” Senna melipat kedua tangannya di dada dan bersandar di kursi, jengkel. “Ada masalah dengan itu? Apa aku tidak boleh menyukai hujan karena tampaknya isi kota ini tidak menyukainya?” suara Senna mulai meninggi.

Bibir Dennis bergerak aneh, seakan sedang bertahan untuk tidak tertawa. “Tidak. Hanya saja ini pertama kalinya kau menunjukkan emosimu.” Senna tertegun. Memang tadi dia merasa jengkel dan tanpa sadar dia mengeluarkan semuanya.

“Makananmu tampaknya sudah dingin.”

Read More »

Povestea lui Angel – storia 2

Cast: Dennis, Casey, Andrew, Marcus, Aiden

Genre : Fantasy

Length : Chaptered

Setelah dipikir-pikir judulnya ganti ini aja de… ^^ Aneh si emang, tapi ya sudahlah… Selamat membaca..

Hari berikutnya berjalan seperti  biasa. Semua terasa normal setidaknya bagi Senna. Dia tidak mendapat kelas yang sama lagi dengan Dennis Althrop kecuali dalam sejarah. Itu berarti mereka hanya akan bertemu 1 kali dalam seminggu. Tidak terlalu buruk, batinnya. Atau memang mungkin bisa membaik bila kesan keliru pada pertemuan pertama mereka bisa diubah. Tapi tentu, Senna tidak pernah berharap lebih.

Setiap kelas yang diikutinya tidak buruk. Setengahnya karena dia memang tidak memiliki masalah dalam hal akademis, meski tidak jenius, tapi cukup diatas rata-rata. Dia juga sudah mendapat 2 orang teman, meski sebenarnya cukup banyak yang berusaha mendekat, tapi dengan ramah dia menjaga jarak dengan mereka. Sebenarnya sejak awal kepindahannya dia bertekad untuk tidak terlibat dengan siapapun mengingat kemungkinan buruk yang akan menimpanya. Tapi Aiden dan Yuri cukup sulit untuk dihadapi dengan jarak. Mungkin dia akan memberi pengecualian untuk mereka berdua.

Dari Senin, kembali ke Senin. Artinya sudah seminggu dia pindah kemari, dan artinya sudah saatnya bertemu dengan Dennis. Sejak terbangun dari tidurnya tadi pagi, Senna sudah memanjatkan doa yang cukup panjang agar hari ini mereka bisa bertemu dalam suasana yang lebih nyaman. Mengingat ada keanehan dalam pertemuan pertama mereka. Dan demi semua yang kudus, doanya terkabul.

Seperti minggu lalu, Dennis sudah ada di bangkunya saat Senna masuk. Tapi dengan keajaiban doanya, Dennis tersenyum ramah dan menyapanya dengan suara yang lembut menggoda. “Kenalkan, namaku Dennis Altrhop. Maaf untuk minggu lalu, aku sedang tidak enak badan.” Katanya sopan. Meski dia tersenyum, matanya tampak waspada.

Senna mengamatinya sesaat dan berpikir. Sebenarnya yang bertingkah tidak sopan minggu lalu adalah dirinya.“Senna Clyne. Aku juga minta maaf karena tidak sopan.”

Mereka tidak bicara apapun lagi selama beberapa saat sampai Aiden dan Yuri tiba. Mereka berdua mengajak Senna ke kota sebelah untuk belanja. Meski tidak melihatnya, tapi Senna bisa merasakan pandangan menusuk dari balik punggungnya. Tapi dia coba mengabaikannya. Tidak ada yang ingin dirinya menjadi paranoid pada minggu ke dua di sekolah baru.

“Barang-barang disana lebih banyak dan lengkap. Harganya juga tidak terlalu tinggi. Ayolah. Kau baru di wilayah ini kan? Jadi ada baiknya kau berjalan-jalan.” Bujuk Yuri. Senna sebenarnya tidak ingin terlibat jauh lagi dengan mereka, tapi keingginan untuk melihat tempat baru, belanja dan sebagainya benar-benar mengalahkannya.

“Baiklah. Besok sepulang sekolah. Akan kutinggalkan mobilku di sekolah.”

“Kenapa tidak kujemput saja saat pagi. Aku juga bisa mengantarmu pulang.” Tawar Aiden.

Dengan terburu-buru Senna menggeleng, menolak tawarannya. “Tidak. Tidak terima kasih. Aku akan datang dengan mobilku dan kutinggalkan disini. Antar saja aku ke sekolah saat pulang. Rumahku jauh sementara kalian tinggal tidak jauh dari sini kan?”

“Tapi..”

“Seperti itu atau kalian pergi saja berdua.”

Aiden dan Yuri bertukar pandang. Sebenarnya bisa saja mereka memilih pergi berdua karena siapa Senna samapi berani memberi syarat seperti itu? Dia hanya anak baru. Tapi mereka berdua memberi jawaban yang tidak terbayangkan oleh Senna. Mereka berdua memilih mengikuti syaratnya daripada Senna tidak ikut.

Kehadiran Mr. Gates membubarkan pembicaraan mereka. Saat menoleh, Senna melihat Dennis sedang menatapnya. “Ada apa?” tanyanya bingung. Tidak seperti kali pertama saat Senna tertegun melihatnya, kali ini dia merasa sangat normal bicara santai pada Dennis. Mungkin karena kesan kedua lebih baik?

Dennis menggeleng pelan lalu tersenyum kecil. Tapi ternyata rasa penasarannya cukup besar. “Kenapa kau memberi syarat seperti itu?” tanyanya pelan saat Mr. Gates sedang meminta opini siswa di depan mengenai revolusi Amerika.

Senna mengerjapkan matanya bingung. Pemilihan timing dan topik yang aneh pikirnya. “Tidak apa-apa. Hanya ingin saja. Ada masalah?” Senna mengalihkan matanya pada bukunya. Tapi pikirannya tidak di sana. Ternyata perasaannya tentang pandangan menusuk tadi adalah karena pemuda di sampingnya ini sedang mendengarkan pembicaraan mereka.

“Apa kau juga akan menolak bila ada yang memberi tumpangan untuk pergi dan pulang sekolah?”

Senna menoleh terlalu cepat padanya. “Apa maksudmu?”

Dennis tersenyum simpul dan mengangkat bahunya. Senna mengamatinya beberapa detik sebelum mengalihkan pandangannya kepada Mr. Gates.

“Kalian telihat akrab tadi.” Komentar Yuri saat dirinya, Aiden dan Senna berjalan ke kafetaria.

“Benarkah?”

Yuri mengangkat bahu. “Setidaknya aku tidak pernah melihatnya bicara pada siapapun sebanyak dia bicara padamu.”

Keesokan harinya berlangsung seperti yang mereka rencanakan. Setelah meninggalkan mobilnya di sekolah, Senna pergi bersama Aiden dan Yuri. Mereka mendatangi banyak sekali toko. Aiden dengan sabar menemani kedua gadis itu berbelanja dan memberi komentar dari lubuk hatinya yang terdalam. Senna merasa senang karena baru kali ini  dia mendapat kesempatan untuk pergi bersama teman seperti ini.

“Hei, kalian makan saja duluan. Aku ingin membeli beberapa barang lain di sekitar sana.” Kata Senna saat mereka keluar dari salah satu butik kecil. Aiden membawakan beberapa kantong belanjaan Yuri ke arah mobil.

“Kita pergi bersama saja. Setelah itu baru makan.” Tawar Yuri.

“Tidak. Kalian duluan saja. Tidak akan jauh dan tidak akan lama.” Tegas Senna

“Kau yakin?”

Senna tersenyum. “Kurasa aku tahu  bagaimana cara menanyakan arah atau menggunakan HP untuk keperluan darurat.”

“Baiklah. Hubungi saja kami kalau kau tersesat. Kami akan menunggumu di restoran italia di tikungan.”

Read More »

Povestea lui Angel – storia 1

Cast: Dennis, Casey, Andrew, Marcus, Aiden

Genre : Fantasy

Length : Chaptered

Bisa dibilang ini FF percobaan. Lanjut atau ga tergantung idenya muncul atao ga.. Tapi harap dibaca dan komen. Trus JUDUL BELUM PASTI. So, bagi yang punya ide tentang judul boleh kasih saran. (Diharap banget sarannya..)

Selamat membaca…

Pemuda itu duduk bersandar di bawah pohon sambil menutup matanya. Rambutnya yang kecoklatan tampak berantakan tertiup angin. Kulit pucatnya memerah dibawah bias sinar matahari yang hampir terbenam.

“Sampai kapan kau mau duduk disini?” tiba-tiba seorang pemuda lainnya dengan postur lebih tinggi menghampirinya dan duduk disebelahnya.

“Sampai warnanya benar-benar hitam.” Ujarnya pelan, masih sambil menutup matanya. Jarang-jarang dia bisa melihat matahari terbenam secerah ini. Pemuda yang baru datang itu menatap wajah sahabat yang sudah bagaikan saudaranya itu dengan ekspresi yang sulit diartikan. “Jangan menatapku seperti itu atau kupatahkan lehermu.” Ancam pemuda berambut coklat. Meski matanya terpejam, tapi dia bisa merasakan pandangan yang diarahkan padanya.

Pemuda yang lebih tinggi itu mengalihkan matanya dan ikut memandangi matahari terbenam dengan seulas senyum tipis di wajah tampannya.

+++

“Dia belum kembali?” tanya seorang laki-laki dengan wajah bosan sambil sesekali melempar pandangan ke arah pintu belakang rumah. Atau lebih tepatnya ke arah dinding belakang rumah karena seluruh dinding belakang rumah sudah diganti dengan kaca yang dapat digeser sehingga pintu belakang bukanlah sepotong papan melainkan seluruh hamparan kaca sebesar dinding belakang rumah.

“An sedang memanggilnya…” sahut pemuda lain dengan wajah datar dan tampak agak kejam sambil memainkan game console nya.

“Kebiasaan gilanya harus dihentikan sebelum kita semua terjangkit.” Protes pemuda yang yang pertama. Wajah bosannya berubah geram.

“Habisi saja dia. Aku tidak peduli.” Gumam pemuda berwajah kejam itu dengan santainya.

“Jangan sampai dia mendengarmu Marc, dia akan memintamu langsung melakukannya.” Gumamnya super cepat dan pelan. Telinganya yang tajam menangkap derap langkah mendekat dari arah pintu belakang, meski pemilik kaki masih cukup jauh dari rumah.

Pemuda yang dipanggil Marc hanya menyeringai keji dan tidak sekalipun mengalihkan mata dari game consolenya. Dia tampak tidak peduli meski pemuda berambut coklat yang baru datang itu langsung dihadiahi omelan yang akan membuat manusia manapun yang mendengarnya minta dibunuh.

+++

Read More »