Untitled ~ 1

Genre : Fiction, Family 

Length : Chaptered

Casts : Park Jungsoo, Kang Senna, … ^^

1

“Sedang apa kau?”

Park Jungsoo terlonjak mendengar suara dari balik punggungnya. Ia mengelus dadanya sambil memaki pelan. “Kupikir dia sudah datang. Ternyata hanya kau.”

“Ternyata hanya kau?? Sebegitu kecewa kah dirimu?” tanya Lee Yuri dengan nada dan gaya yang amat sangat dramatis.

Jungsoo mengabaikannya dan gaya sok dramatisnya dengan kembali menekuni rangkaian bunga kecil di meja. “Sia-sia saja. Kau tahu kan, dia tidak akan menerimamu. Lebih baik hentikan saja.” Nasihat Yuri sambil duduk di bangkunya sendiri. Park Jungsoo dan Lee Yuri adalah 1% dari seluruh siswa sekolah yang mau datang sepagi ini. Yuri sudah biasa datang sepagi ini karena sudah kebiasaannya bangun pagi. Sejak lahir ia selalu terbangun tepat pukul 7 pagi, sedangkan Jungsoo berbeda. Ia selalu datang sepagi ini untuk menyiapkan hadiah dan kejutan-kejutan untuk gadis yang dikejar-kejarnya selama setahun terakhir.

Bagi seorang Park Jungsoo yang tampan, tidak sulit baginya untuk mendapatkan seorang pacar. Ia tidak perlu repot melakukan sesuatu karena para gadis akan datang sendiri padanya. Namun, ternyata tidak seperti itu dengan gadis yang satu ini. Sejak pertama kali melihatnya pada upacara pembukaan tahun ajaran, Jungsoo langsung jatuh cinta pada Kang Senna. Namun, setiap kali dia menembaknya, Senna tidak pernah mengubrisnya. Senna bahkan tidak pernah mengajaknya bicara meskipun mereka sekelas.

“Terserah apa katamu, tapi aku tidak akan menyerah.” Kata Jungsoo dengan senyum dimplenya yang mampu meluluhkan hati siapa saja, kecuali Senna.

+++

“Mulai hari ini, Han sonsaengnim, guru Bahasa Inggris kalian akan pensiun. Karena itu, mulai minggu depan akan ada guru baru yang menggantikan beliau.” Pengumuman dari Kim sonsaengnim mendapat tanggapan serius dari seisi kelas. Meski disayangkan, mereka cukup senang karena Kim saem berhenti. Setidaknya mereka bisa berharap mendapatkan pengganti yang lebih baik.

“..na! Senna!!” Yuri menggoyang-goyangkan bahu Senna, berusaha membangunkannya.

“Sudah selesai?” tanyanya dengan nada mengantuk sambil mengucek matanya yang berat. Kelas sudah hampir kosong saat matanya benar-benar terbuka.

“Sudah sejak tadi. Kalau bukan karena nilaimu yang bagus, tidak mungkin Kim saem membiarkanmu tidur terus daritadi.”

“Kim saem? Tadi pelajaran apa?” tanya Senna bingung. “Ngomong-ngomong ini hari apa?”

Kalau bukan karena sudah mengenal Senna selama setahun terakhir, Yuri pasti akan keheranan. Meski cantik dan pintar, Senna punya kebiasaan cuek yang luar biasa. Ia bisa tidak ingat pada hari atau nama guru sekalipun. Ia juga sering tidur di kelas, namun anehnya nilainya tidak pernah dibawah. Ia selalu menempati peringkat atas. “Ini hari Senin dan tadi pelajaran MTK.”

“Hoammm..” Senna menguap dan berdiri.

“Mau kemana?”

“Yakisoba.” Katanya sambil berjalan keluar kelas.

“Lagi???” Yuri mengejarnya. “Kau tidak bosan makan itu terus setiap hari?”

Mendadak Senna berhenti. Yuri mengernyitkan dahi heran, tapi sedetik kemudian ekspresinya berubah 180 derajat menjadi bosan bercampur prihatin. “Senna, kau mau yakisoba kan? Ini sudah kubawakan Yakisoba super pedas dan susu coklat.” Kata Park Jungsoo sambil mengulurkan kantong berisi makanan.

Senna tidak bergerak selama beberapa detik sebelum akhirnya mengambilnya dan kembali ke bangkunya. Yuri semakin prihatin melihat Jungsoo yang tersenyum lebar. Ia senang karena Yakisobanya diterima oleh Senna, tidak seperti mawar merahnya pagi tadi. Tentu saja. Senna sangat menyukai yakisoba. Yuri menduga alasan Senna memilih sekolah ini juga karena tersedianya menu yakisoba di kantin. Jarang ada menu Jepang di sekolah-sekolah Korea.

“Kenapa kau tidur terus di kelas?” tanya Jungsoo dengan bertopang dagu. Matanya tak lepas dari Senna sedetikpun sejak gadis itu duduk dan makan. Makanannya sendiri tak disentuhnya sama sekali. Seakan-akan ia sudah kenyang dengan hanya memandangi Senna saja.

“Bukan urusanmu.” Jawab Senna singkat, padat dan jelas. Yuri tertawa terbahak-bahak melihat wajah Jungsoo yang cemberut. Ia lebih mirip anak lima tahun daripada siswa kelas 2 SMA.

+++

Setelah berjalan cukup lama, Senna berhenti di bawah naungan pohon yang rindang. “Mau sampai  kapan kau mengikutiku?” tanyanya tanpa berbalik. Sejak keluar dari sekolah, saat ia menaiki bis dan sampai detik ini, ia menyadari perasaan tak enak yang tak asing.

“Wah, bagaimana kau bisa tahu aku mengikutimu?” tanya Jungsoo terpesona sambil berlari kecil menghampirinya.

Senna memandanginya dengan tatapan datar dan kosong. “Katakan apa maumu?”

“Jadilah pacarku.” Kata Jungsoo singkat, cepat, dan jelas. Ini adalah kali ke 31 ia mengatakannya pada Senna dan untuk ke 31 kalinya pun Senna menjawab, “Enyahlah kau.”

“Tunggu dulu!!” Jungsoo menahan tangan Senna ketika ia berlalu. “Setidaknya untuk sekali ini saja, bisakah kau katakan apa alasanmu menolakku?” tanyanya serius.

“Aku tidak suka padamu.” Jawab Senna cepat tanpa berpikir.

Mendengar jawaban seperti itu, Jungsoo malah tersenyum. “Oh, kau tidak suka padaku. Tenang saja. Tidak perlu khawatir. Aku akan membuatmu suka padaku.” Ia memberi kecupan kilat di pipi Senna dan berlari pergi, meninggalkan Senna yang untuk pertama kalinya mematung karenanya.

+++

“Senna ssi, kenapa terlambat. Tidak biasanya.” Tanya Han Jieun, teman kerjanya begitu Senna muncul sambil merapikan celemeknya. Setiap hari Senin hingga Jumat, Senna bekerja part-time di sebuah book-cafe di daerah Apgujeong. Cafe mereka berbeda dari cafe-cafe lainnya karena lebih tampak seperti perpustakaan kuno daripada cafe. Seluruh dinding dipenuhi dengan rak-rak tinggi dengan ratusan judul buku. Para pengunjung bisa meminjam buku dan membacanya sambil menikmati makanan dan minuman yang ada atau juga membeli buku. Cukup banyak mahasiswa atau murid-murid sekolah yang lebih menyukai mencari bahan di cafe ini daripada di perpustakaan.

“Maaf, ada sedikit urusan tadi.” Ia tertawa renyah sambil mengusir bayangan Jungsoo dan kelakuan anehnya dari kepalanya. “Ada yang bisa kubantu?”

“Tolong antarkan ini ke meja 5 dan bantu nomor 11 mencari buku ini.” kata Jieun langsung sambil menyerahkan secangkir kopi dan selembar kertas ke tangannya.

Senna mengamati buku itu dengan kening mengernyit. “Buku ini sudah habis.”

Jieun mengerjap kaget. “Benarkah? Menurut data masih ada satu yang tersisa.”

Senna menggeleng. “Tidak. Yang terakhir sudah terjual kemarin lusa. Lagipula komputer kita sedang rusak kan? Jadi data semua buku terjual sekarang manual.”

Jieun terperangah. “Apa yang harus kulakukan tanpamu, Senna?” Senna tersenyum mendengarnya dan berlalu untuk mengantar pesanan. Dengan wajah oriental dan mata abu-abu yang lembut, tubuh tinggi semampai yang membuatnya lebih cocok menjadi model disertai otak cemerlang, Jieun tidak heran kalau ia menjadi idola di cafe ini. Senna bisa menghafal semua judul buku yang ada di cafe beserta letak dan jumlahnya dengan sangat tepat. Karena itulah para pelanggan menyukainya.

“Satu Pistachio cake dan Americano.” Kata Senna langsung begitu kembali ke konter. Tapi karena Jieun dan yang lainnya sedang sibuk, ia langsung mengantarkan kertas bon pada koki sendiri. “Pesanan meja tiga, satu pista..” Sisa kalimatnya menguap di udara begitu matanya melihat koki yang tengah sibuk menghias makanan di dapur cafe.

“Apa yang kau lakukan disini?” tanya Senna separuh berteriak pada Jungsoo.

Jungsoo menyelesaikan makanannya sebelum mendongak dan tersenyum lebar pada Senna. Hanya saja entah kenapa, Senna merasa senyum Jungsoo berbeda dari biasanya. Bukan senyum lebar ramah yang konyol seperti biasa, tapi senyuman yang membuat Senna tertegun. Mungkin juga dikarenakan ini adalah kali pertama Senna melihatnya dalam pakaian koki yang membuatnya terlihat dewasa.

“Senna ss, pesanan meja lima sudah siap??” tanya Jieun dari depan, membuat Senna tersentak. Sejenak pikirannya menjadi kosong.

“Ini pesanan meja tiga.” Kata Senna sambil menyerahkan kertas itu dan menukarnya dengan makanan yang dihias Jungsoo tadi.

+++

Di saat yang sama, beratus-ratus kilometer dari book cafe, seorang laki-lak sedang mengernyitkan dahi sambil membaca profil seorang gadis yang baru saja dikumpulkan oleh anak buahnya. Ketika matanya mencapai huruf terakhir, seulas senyum dingin menghiasi bibirnya.

Yukimura, siapkan semuanya.”

“Baik, Tuan Muda.”

+++

Udara pagi yang bersih dan angit biru dengan awan-awan putih sehalus kapas membuat perasaan Kang Senna begitu tenang. Begitu membuka mata dan bersiap ke sekolah, semuanya tampak menyenangkan dan damai. Perjalanan ke sekolah juga terasa biasa-biasa saja. Ya, semua berjalan begitu normal, senormal yang bisa diharapkannya.

“Senna ah, kau sudah dengar kabar terbaru?” tanya Yuri begitu Senna muncul di pintu. “Ada guru baru yang sangat tampan.” Sambungnya lagi sambil melompat-lompat kegirangan.

“Setampan apa dia sampai kau jadi begitu?”

Yuri menarik lengan Senna hingga ke mejanya dan mulai bercerita dengan mata berbinar-binar. “Badannya tinggi, rambut hitamnya tebal dan halus, kulitnya putih bersih, penampilannya seperti model.” ia menghela napas, kemudian, “kurasa aku jatuh cinta padanya.”

“Huh??”

“Lee Yuri!! Sejak kapan papan tulis pindah ke sana?” tanya sebuah suara tegas yang berat dan agak kasar, membuat Senna dan Yuri terlonjak. Ternyata bel sudah berbunyi dan mereka tidak menyadarinya. Jieun buru-buru kembali ke tempatnya sambil membungkuk minta maaf.

Kim sonsaengnim berdeham sebentar sebekum melanjutkan. “Mungkin kalian sudah mendengar kalau Yoon sonsaengnim sudah memutuskan untuk pensiun, karena itu sekarang kalian mendapat guru bahasa Jepang yang baru.”

Serentak, semua mata tertuju ke pintu yang bergeser membuka. Sepasang kaki jenjang dengan sepatu Boss yang berkilau melangkah dulu melewati ambang pintu membuat semua menahan napas.

“Ini Yunoki Jun, guru baru kalian.” Kata Kim sonsaengnim disertai senyum lebar yang membuat kerutan-kerutan di sekitar matanya terlihat begitu jelas.

Yunoki Jun membungkuk kecil pada murid-muridnya, “Namaku Yunoki Jun, senang bertemu dengan kalian semua.” Katanya dalam bahasa Korea yang sangat lancar dan fasih. Sama sekali tidak terselip logat-logat Jepang. Bila bicara dengannya tanpa melihat wajah, orang-orang pasti mengira sedang berbicara dengan orang Korea asli.

“Kalian beruntung mendapatkan seorang native. Yunoki-sensei, kuserahkan kelas padamu.” Mereka saling berjabat tangan sebelum akhirnya Kim sonsaengnim keluar dari kelas. Begitu pintu tertutup, kelas langsung ribut. Para siswi menjerit kesenangan mendapat seorang guru yang lebih cocok menjadi model.

“Sensei, kenapa bisa ada di Korea?”

“Sensei sudah punya pacar?”

“Sensei umurnya berapa?”

Dan ratusan pertanyaan lain yang serupa ditannyakan bersamaan. Akan menjadi suatu keajaiban kalau Yunoki sensei bisa menjawab semuanya bersamaan pula. Karena tidak bisa mengalahkan keributan para siswi, Yunoki sensei mengambil penghapus papan tulis dan mengetuknya keras-keras ke papan tulis. Ia menuliskan namanya di papan tulis, lalu menghadap mereka semua.

“Tolong duduk yang rapi. Aku akan mengabsen kalian satu persatu dan kalian bisa bertanya satu pertanyaan.” Dengan mengabaikan protes mereka karena hanya bisa menyanyakan satu pertanyaan, Yunoki mulai mengabsen mereka. Hingga…

“Kang Senna.” panggilnya.

Senna berdiri di tempatnya dan membungkuk. “Kang Senna imnida.”

Mereka saling bertatapan selama beberapa detik. “Tidak ada yang ingin kau tanyakan padaku?”

“Tidak ada.” Jawab Senna tegas, kemudian duduk kembali. Wajahnya datar, bahkan bisa dibilang kosong. Dari tempatnya, Yuri melirik bingung pada Senna.

+++

“Senna ah, mau mampir ke kedai eskrim dulu, tidak?” tanya Yuri sambil membereskan barang-barangnnya.

“Maaf, hari ini aku ingin langsung pulang saja.”

“Eh?” Yuri mengamati Senna dengan cemas. “Kau tidak apa-apa? apa kau sakit? Wajahmu agak pucat dan dari pagi kau aneh.”

“Tidak apa-apa. Aku duluan ya. Besok aku yang traktir.” Sambil melambai, Senna keluar dari kelas meninggalkan Yuri dan beberapa teman lainnya yang belum selesai berkemas. Jungsoo melempar pandangan bingung ke arah Yuri begitu punggung Senna tak tampak lagi di balik pintu. Senna tidak bohong kalau ia ingin langsung pulang. Perasaannya terasa kacau begitu melihat guru baru itu tadi pagi.

Begitu sampai di depan apartemennya, Senna merasakan bulu kuduknya merinding. Ia langsung membuka pintu tanpa repot-repot memutar kunci. Dugaannya tepat melihat tamu yang sedang menantinya di ruang duduk.

Osoi wa. Apa kau berjalan kaki dari sekolah?” tanya Yunoki Jun padanya dalam bahasa Jepang sambil berbaring santai di sofanya. Tangannya sibuk membolak-balik majalah yang ditemukan Senna di kotak posnya beberapa hari lalu. Meski mengagetkan, Senna tidak merasa heran. “Kau tidak mau bertanya sesuatu padaku?” tanya Yunoki lagi untuk kedua kalinya hari itu.

Senna meletakkan tas sekolahnya di meja kemudian duduk di sofa yang berhadapan dengan Jun. “Tidak ada. Kau pasti muncul karena sesuatu dan kau sendiri pasti akan mengatakannya. Aku tidak akan membuang-buang tenaga untuk bertanya.” Jawabnya pula dalam bahasa Jepang yang sangat lancar.

Jun tertawa terbahak-bahak. Ia melempar majalahnya ke meja dan mengayunkan kakinya ke lantai, memperbaiki posisi duduknya. “To the point. Kau memang tidak berubah, ya meski sudah bertahun-tahun.”

Senna tetap diam.

“Kau tidak merindukan saudaramu ini?” tanya Jun sambil merentangkan tangannya. “Kau tidak ingin memelukku untuk melepas rindu? Kurasa ini yang dilakukan oleh saudara yang saling merindukan di film-film.”

“Jadi, kau merindukanku?” tanya Senna dengan wajah sinis yang dingin.

“Tentu saja, adikkku sayang.” Balas Jun dengan ekspresi yang tak kalah dingin.

TBC

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s