Special Investigation Team (SIT) ~ Case 1

Genre : Fiction, Mystery, Supernatural 

Setting : Japan, 20xx Spring

Length : Chaptered

Casts : Chiaki Shinichi, Hio Shizuka and others… ^^

(I’m trying something new… Is it good? or worse  than before?)

“Kasus pembunuhan berantai, ya?” Tanya seorang laki-laki paruh baya sambil mempelajari dokumen di tangannya. Dahinya sedikit mengernyit karena berpikir.

“Sejauh ini sudah ada 5 korban. Semuanya perempuan berusia antara 17-25 tahun. Semua korban ditikam tepat di jantung dan pelaku juga menyayat tanda X besar pada kedua pipi setiap korban.” Lapor seorang laki-laki lain yang lebih muda –berusia sekitar akhir 20-an- dan mengenakan kacamata.

Kirishima, ketua Special Investigation Team atau yang lebih sering disebut SIT menegakkan tubuhnya sambil meletakkan dokumen di meja. Ia tidak heran kalau baru sekarang kasus ini diberikan pada timnya. Mengingat SIT adalah divisi baru yang dibentuk beberapa bulan lalu oleh Kepala Polisi dan sebuah institut penelitian kriminal. Mereka biasanya menangani kasus-kasus yang rumit atau kasus yang tidak bisa ditangani oleh divisi lainnya. Anggota SIT sendiri tidak banyak, hanya 6 orang laki-laki. Masing-masing di ambil dari berbagai divisi di kepolisian Jepang sehingga mereka memiliki latar spesialisasi yang berbeda.

“Dimana Chiaki?” tanyanya kemudian sambil melihat jam. “Orang itu juga belum datang?”

“Mungkin di ruang santai. Tapi, siapa maksud Anda dengan ‘orang itu’?”

Kirishima mengeryitkan dahi. “Aku belum memberitahu kalian?” semua anak buahnya menggeleng bersamaan. “Direktur mengirim seseorang dari institusi untuk membantu penyelidikan. Seharusnya ia sudah datang setengah jam yang lalu. Tapi sampai sekarang masih tidak kelihatan juga.”

+++

Sementara itu, di saat bersamaan seorang gadis berambut hitam panjang sedang celingak-celinguk kebingungan. Rasanya ia sudah berkeliling ke seluruh gedung, tapi belum juga menemukan ruangan yang benar. Bisa saja ia bertanya pada seseorang, sayangnya tidak ada orang yang bisa ditanyai. Sejak tadi, ia hanya menyusuri koridor-koridor kosong.

“Apa benar ini kantor polisi? Kenapa tidak ada seorang pun?” gumam gadis itu sambil terus berjalan, kemudia tatapannya terpaku pada sebuah pintu di ujung yang terbuka. “Mungkin ada orang disana.”

Ia mempercepat langkahnya, namun berhenti mendadak di depan pintu. Ia mengerjap-ngerjap bingung melihat seorang laki-laki yang tertidur di sofa. Sofa 3 dudukan itu tidak mampu menampung seluruh tubuhnya. Kakinya yang panjang terjulur di atas lengan kursi. Meski merasa tidak enak mengganggu orang yang tidur, gadis itu tetap melintasi ruangan dengan cepat dan pelan dan menunduk di atas orang itu.

Belum sempat gadis itu melakukan apapun, sebuah lengan mendadak saja menakap pinggangnya, memutarnya dengan cepat dan dalam sekejap ia sudah berbaring di sofa sementara laki-laki itu berada di atasnya. Ia tertindih di sofa dengan kedua lengan terkunci. Wajah laki-laki itu masih terlihat mengantuk, namun matanya yang hitam jernih menatapnya tajam.

“Siapa kau?”tanyanya dingin.

+++

“Hei, Chiaki!!” Kirishima dan yang lainnya berdiri mematung di pintu ruang santai. Mereka semua bermaksud segera menemui Chiaki dan memberitahunya tentang kasus. Ruang santai berada tepat di depan ruang kerja mereka sehingga tidak perlu waktu lama untuk ke sana. Hanya saja, perlu waktu untuk menghilangkan keterkejutan akan apa yang mereka lihat.

“Apa-apaan kau???!!!” teriak Kirishima begitu pulih dari kekagetannya. Di belakang, rekan-rekan Chiaki masih mematung dengan wajah memerah.

+++

“Bisa-bisanya kau bermain-main di saat kita sedang menghadapi kasus rumit. Bagaimana bisa kau membawa seorang gadis masuk ke kantor polisi??!!” omel Kirishima begitu mereka sudah kembali ke ruang kerja.

Gadis itu tampak bingung sementara Chiaki terlihat kesal. Ia menyalakan sebatang rokok dan menghisapnya dalam-dalam.

“Gadis ini datang sendiri.” Meski bicara pada atasannya, ia sama sekali tidak menggunakan bahasa atau gaya bicara yang sopan. Malah terkesan tidak peduli.

“Aku bukan orang asing.” Kata gadis itu kemudian, menarik perhatian orang-orang padanya. “Namaku Hio Shizuka. Aku dikirim oleh institusi untuk membantu penyelidikan.”

Sekali lagi anggota SIT –kecuali Chiaki- terngaga terkejut.

“Tapi, kau masih sangat muda.” Kata si laki-laki berkaca mata, Mine Kazuki. Rekan-rekannya mengangguk. Sebenarnya deskripsi ‘sangat muda’ masih belum cukup untuk menggambarkan sosok Hio. Secara keseluruhan, ia terlihat bagaikan boneka dengan wajah cantik, mata hitam besar, rambut coklat tebal yang panjang, kulit putih, dan tubuh langsing yang mungil.

Hio tersenyum. “Usia tidak ada kaitannya dengan penyelidikan, kan? Tidak masalah berapa usiaku selama aku bisa membantu.”

“Namaku Ishida.”

“Namaku Tsukimura.”

“Namku Yamada.”

Ketiga rekan Chiaki yang sedari tadi diam langsung memperkenalkan diri dengan penuh semangat. Wajah mereka memerah, terpana oleh Hio. Sebelum tersenyum saja ia sudah mirip dengan boneka, apalagi setelah tersenyum. Hio tampak bagaikan oasis di tengah padang pasir.

“Aku Kirishima, ketua SIT. Kalau perlu sesuatu, jangan sungkan-sungkan mengatakannya.” Katanya sambil menjitaki ke tiga anak buahnya.

“Salam kenal.” Balas Hio dengan sopan sambil membungkuk dan tersenyum kecil.

“Lalu, apa kasusnya?” tanya Chiaki langsung, ketus. Sama sekali tidak terpengaruh aura bahagia rekan-rekannya atau kehadiran Hio sendiri.

Kirishima mendelik padanya, namun menjawabnya dengan gaya profesional.

+++

“Tunggu aku!” Hio harus berlari-lari kecil untuk mengimbangi langkah Chiaki. Dengan kakinya yang panjang, mudah baginya untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain dengan cepat. “Kita kan partner. Jadi, jangan main tinggal begitu.”

Chiaki menghela napas. Ia benar-benar tidak tertarik dengan apa yang disebut dengan partner kerja. Sejak awal ia menjadi seorang detektif polisi, ia tidak pernah memiliki partner. Namun sekarang, muncul seorang gadis bawel yang menjadi partnernya.

Kalian adalah partner! Kalian harus bisa bekerja sama untuk menyelesaikan kasus!” begitu kata Kirishima tadi. Dengan berat hati, Chiaki harus membawa serta Hio ke lokasi ditemukannya mayat korban ke lima yang ditemukan pagi tadi.

Beberapa langkah kemudian, mereka tiba di lokasi. Kerumunan orang dan beberapa wartawan masih mengerumuni lokasi. Beberapa orang polisi berjaga di depan garis pembatas agar mereka tidak menyerbu masuk dan mengotori TKP. Sambil menyeruak melewati kerumunan, Chiaki mengeluarkan tanda pengenalnya dan menunjukkannya pada petugas yang berjaga. Di sampingnya, Mine yang ikut serta juga melakukan hal yang sama. Hio sendiri hanya berdiri diam di belakang mereka berdua.

“Kami dari SIT.” Katanya singkat, padat, dan jelas.

Petugas itu tampak terpana memandangi Chiaki. “Si..silahkan. Kalian sudah ditunggu.” Ia tergagap saat mengatakannya. Meski petugas itu laki-laki, ia terlihat terpesona pada Chiaki.

Hio yang sedari tadi berada di belakang Chiaki terdiam. Ia tidak heran apabila petugas itu terpana. Ia juga menyadari, kerumunan orang-orang juga terpana. Wajar saja kalau melihat sosok Chiaki yang tinggi -185 cm- dan tegap serta wajah tampan. Modal yang cocok sekali untuk menjadi model atau artis papan atas. Namun, terlepas dari itu, satu-satunya hal yang membuatnya bisa disebut polisi hanyalah aura mengintimidasi yang memancar kuat dari setiap inci tubuhnya dan pandangan matanya yang tajam dan dingin.

“Eh, kau tidak boleh masuk.” Cegah petugas itu cepat begitu melihat Hio ingin ikut masuk.

Hio mengabaikan petugas itu dan melenggang melewati garis pembatas. “Ia juga tim kami.” Kata Mine cepat pada petugas itu.

Mereka semakin mendekati TKP, dimana tubuh korban masih belum dipindahkan. TKP itu sendiri sebenarnya adalah sebuah lokasi proyek di sudut kota yang tidak terlalu ramai sehingga cocok bagi pelaku yang tidak mengharapkan adanya saksi.

“Kau benar-benar mau melihatnya?” tanya Chiaki sambil memandangi Hio begitu mereka berjongkok di samping mayat yang sudah ditutupi dengan kain. Para petugas forensik menyingkir dengan bingung sesuai permintaan mereka.

Hio mengangguk, raut wajahnya berubah serius. “Tentu saja.”

Chiaki membuka kain penutup dan melihat mayat perempuan itu. Kedua pipinya terdapat tanda X dari sayatan pisau dan baju putihnya menghitam karena banyaknya rembesan darah dari jantungnya. Setelah melihat mayat itu, Chiaki melirik Hio yang berjongkok di sebelahnya. Ia agak terpana karena gadis itu tidak terlihat takut. Wajahnya datar tanpa emosi.

“Tempat ini sepi. Tidak ada saksi sama sekali.” Kata Chiaki kemudian sambil melihat ke sekitar. Bahkan CCTV juga tidak ada.

“Siapa bilang?” tanya Hio ringan. “Kau pikir untuk apa aku ada disini?” Ia megulurkan kedua tangannya dan menyentuh mayat itu. Matanya terpejam sementara ia mulai beraksi.

Takut… sesak… seorang laki-laki mendekatinya sambil tertawa. Wajahnya ditutupi dengan masker, hanya matanya yang terlihat. Tatapannya dingin dan penuh keinginan membunuh. Tangan laki-laki itu terayun dan…

            JLEBB…

Chiaki memperhatikan bagaimana tubuh Hio menegang sesaat setelah ia menyentuh mayat itu. Wajahnya terlihat semakin pucat dan beberapa saat kemudian ia tersentak sambil memegangi jantungnya. Napasnya terengah-engah. Chiaki langsung memeganginya.

“Kau tidak apa-apa?” tanyanya agak waswas.

Perlu beberapa saat sampai Hio tenang dan kemudian mengangguk.

“Apa yang kau lakukan?”

“Aku membaca memori terakhirnya.” Suara Hio terdengar mantap meski wajahnya masih pucat. Chiaki tertegun. “Kau tahu kan, institusi yang mengirimku ke SIT melakukan penelitian mengenai orang-orang yang memiliki kemampuan lebih, seperti ESP, telekinesis, telepati, kemampuan pencari dan sebagainya?”

“Jadi kau ini pembaca pikiran mayat, begitu?”

Hio tertawa kecil. “Kau punya sebutan lain? Rasanya itu kurang enak didengar.”

Chiaki mendengus. “Kau sudah selesai?”

“Ya.”

Chiaki membantunya bangun. Kedua tangannya tetap diletakkan di bahu Hio, “Mine, disini kuserahkan padamu.”Mine hanya mengangguk bingung melihat apa yang terjadi tadi. Tapi, ia tidak bertanya apa-apa.

“Kau tunggu di mobil.” Kata Chiaki begitu mereka meninggalkan TKP. Dan tanpa menunggu tanggapan Hio, Chiaki langsung berjalan pergi. Hio menyandarkan diri di mobil sambil memikirkan kembali apa yang dilihatnya tadi. Tubuhnya merinding begitu ingatan itu memasuki pikirannya lagi. Kedua tangannya otomatis memeluk dirinya sendiri. Selama ini ia berlatih dengan menggunakan memori orang yang masih hidup sehingga apa yang dirasakannya tidaklah semenakutkan tadi. Perasaan orang yang tahu dirinya akan segera mati. Dan rasa sakitnya.

TUK

Hio mendongak ketika sesuatu yang dingin menyentuh kepalanya. “Eh?”

Chiaki sudah kembali dengan sebotol teh dingin. “Untukmu.” Kata Chiaki saat Hio masih tidak bergerak juga. Ia hanya memandang Chiaki dengan bingung.

“Terima kasih.” Ucap Hio tulus. Ia membuka tutupnya dan langsung menenggak isinya. “Tidak ada yang mau kau tanyakan padaku?”

“Apa yang kau lihat?” Chiaki bersandar di mobil, di sebelah Hio sambil menghisap rokoknya yang sudah pendek. Kedua tangannya dimasukkan dalam saku celananya.

“Pelakunya seorang laki-laki. Ia memakai jaket dengan tudung kepala dan masker hitam. Wajahnya tidak terlihat jelas. Tapi, di samping mata kanannya ada sebuah tahi lalat.”

Chiaki menyalakan sebatang rokok lagi. “Itu petunjuk yang sulit.”

Hio memutar-mutar botolnya sambil berpikir lagi. “Ia memakai seragam sekolah.”

“Eh?”

“Tapi aku tidak tahu sekolah apa.”

Chiaki mengacak-ngacak rambut Hio. “Kenapa tidak bilang dari awal? Ayo kembali ke  kantor.”

“Hei!!! Jangan mengacak-ngacak rambutku, bodoh!”

Chiaki yang sudah setengah masuk ke mobil keluar lagi dan mencubiti kedua pipi Hio. “Apa katamu?”

“Tidak..apa..apa.”

+++

“Kau yakin yang itu orangnya?” tanya Chiaki pelan.

Hio yang berada di depannya mengangguk yakin. “Tahi lalatnya, tingginya sama. Sorot matanya juga.” Saat itu mereka sedang mengintai dari balik pohon di seberang gerbang sebuah sekolah. Berdasarkan sedikit petunjuk yang didapat dari pengamatan Hio kemarin, pagi ini mereka berdua mulai melacak pelaku. “Tapi tidak ada bukti.”

“Untuk hari ini, kita ikuti dulu. Kurasa tidak lama lagi kita akan mendapatkan bukti.” Kata Chiaki santai sambil menyalakan rokoknya. Kemudian ia menguap dan mengaruk belakang kepalanya. Tampangnya benar-benar kacau.

“Kapan terakhir kali kau tidur?” tanya Hio tanpa sadar. Kemudian ia teringat pada saat perjumpaan mereka kemarin. “Jangan-jangan…” Chiaki memandangnya tajam dengan matanya, Hio merinding dan berbalik kembali mengamati sekolah.

Mereka terus mengamati pelaku dan membuntutinya saat pulang sekolah. Dan sepertinya keberuntungan berpihak pada Hio dan Chiaki. Pelaku menemui seorang gadis di jalanan yang sepi dan mengajaknnya masuk ke gudang kosong tidak jauh dari sana. Chiaki memanggil bantuan lewat ponsel, sambil terus mengendap-ngendap ke gudang.

“Mau kemana kau?” tanyanya dingin sambil menarik rambut Hio.

Gadis itu tersentak. Kedua tangannya langsung memegangii rambutnya. “Apa-apaan kau?!” teriaknya. Dengan gerakan cepat, Chiaki menariknya mendekat dan menutup mulutnya dengan tangan satunya. Mata Hio terbelalak melihat wajah Chiaki yang hanya berjarak beberapa senti darinya.

“Kau tunggu disini.”

Chiaki meninggalkan Hio yang masih mematung dan masuk ke gudang. Wajah Hio memerah dan jantungnya berdebar kencang. Apa-apaan dia itu?! Apa ini cara bekerja dengan seorang partner?

Tanpa memperdulikan perintah Chiaki, Hio juga mengendap masuk ke gudang. Bagian dalam gudang cukup gelap meski hari masih siang. Ada tangga yang menuju kelantai-lantai selanjutnya di sisi kiri pintu, tumpukan-tumpukan barang yang ditutup dengan terpal berwarna gelap dan dus-dus kayu dengan berbagai lebel. Semuanya berdebu. Tampaknya tidak ada yang peduli dengan barang-barang itu lagi dan meninggalkannya begitu saja bersama gedungnya. Hio berjalan tanpa suara, baik kaki maupun mulutnya. Ia tidak berani memanggil Chiaki –meski ia ingin segera menemukan orang itu- karena takut suaranya akan terdengar di telinga yang salah. Setelah yakin tidak ada apapun di lantai satu, Hio menaiki tangga.

“KYAAA!!!”

Baru saja kakinya menginjak anak tangga pertama, ia mendengar teriakan dari lantai dua. Ia segera berlari menaiki tangga dan, “Lepaskan dia!!” teriaknya sambil melemparkan sepotong kayu, tepat mengenai si pelaku.

Baik si pelaku maupun korban memandangi Hio dengan kaget yang dengan cepat berubah menjadi dua ekspresi berbeda. Korban yang bersandar lemas di dinding dengan wajahnya penuh air mata dan pucat tampak lega. Namun, berbeda dengan si pelaku.

“Cepat pergi!!” terikanya pada si korban saat pelaku tidak memperhatikannya. Ia melempari sepotong kayu lagi dan meleset.

“Sialan!!” pelaku berlari ke arah Hio, bermaksud membereskannya lebih dulu. “Jangan menggangguku!”

Hio masih berdiri di tempat, tidak tahu harus melakukan apa melihat pelaku yang berlari ke arahnya dengan pisau di tangan. Ia pernah mempelajari ilmu beladiri, tapi tidak ada satu gerakanpun bisa diingatnya sekarang. Ia hanya bisa memejamkan matanya rapat-rapat.

BRUUKKK

Hio mendengar suara pukulan dan orang yang meringis tertahan kemudian bunyi sesuatu jatuh ke lantai, tapi belum berani membuka matanya karena sebuah tangan melingkarinya dari belakang. Siapa???

“Bodoh!! Kusuruh tunggu diluar, kan?!!” kata suara yang sangat familiar sambil mencekik Hio dengan sikunya.

“Maa…aff..” Hio merasa lega meski juga menderita disaat bersamaan. Ia harus bertahan beberapa saat sampai Chiaki melepaskannya. Hio terbatuk-batuk sambil memegangi lehernya.

“Kau bermaksud menggantikannya membunuhku?” tanyanya pelan sambil mendelik ke arah pelaku yang terbaring lemas di lantai.

Chiaki memandanginya. Hio langsung tahu kalau ia baru saja mengucapkan kalimat yang salah. Dengan terburu-buru ia mengalihkan pandangannya.

“Brengsek!! Kalian menggangguku!” gerutu si pelaku sambil terus memegangi perutnya.

Perhatian Hio dan Chiaki teralihkan. “Ah, kenapa kau membunuh mereka?” tanyanya Hio pada si pelaku.

“Cih!”

Mendengar jawabannya, Hio mendengus kesal dan tanpa ragu-ragu ia mendekati pelaku dan berjongkok di depannya. “Kalau seseorang bertanya padamu, bukankah kau harus memberi jawaban?” tanya Hio dengan nada suara yang benar-benar berbeda dari biasanya. Ia mengulurkan tangan dan menangkup wajah pelaku dalam kedua tangannya. Sorot matanya dingin, sama seperti nada bicaranya. “Jadi, kau dicampakkan? Gadis itu meninggalkanmu hanya karena kau tidak lagi memberinya uang untuk belanja? Kau hanya dimanfaatkan?”

Wajah si pelaku menjadi pucat pasih. Ia mulai gemetaran saat Hio menyuarakan memorinya satu per satu.

“I..tu sa…lah..nya.” ucapnya terbata-bata.

Chiaki tertegun.

+++

“Kalian berdua ini…” Kirishima duduk dengan punggung tegak di kursinya. Wajahnya keras. “Meskipun kalian berhasil menangkap pelakunya, tidak seharusnya kalian bergerak sendiri. Kalian harusnya menunggu perintah.”

“Kalau menunggu perintah, mungkin sekarang kita sedang mengemas mayat ke-6.” Kata Chiaki dengan gayanya yang cuek seperti biasa. Ia menghisap rokoknya dan menghembuskan asapnya santai. Hio hanya berdiri diam di sampingnya.

“Sudah selesai, kan?” tanyanya sambil menyelipkan kembali rokoknya ke mulutnya. Ia melingkarkan lengannya di bahu Hio dan mengajaknya pergi. “Ayo, pulang.”

“Makan malam dulu bagaimana?” balas Hio santai.

“Hei!!!” teriak Kirishima dan rekan-rekannya dengan wajah syok dan kesal.

“Chiaki, siapa nama lengkapmu?”

“Chiaki Hiroshi.”

“Chiaki Hiroshi? Hi-chan?”

Chiaki mendelik kesal sambil menaikkan lengannya dari bahu ke leher, mencekik Hio lagi. “Kenapa?? Lebih akrab kan? Kau juga bisa memanggilku Shizu.” Protes Hio dengan suara tercekat.

Sementara mereka berdua berjalan pergi sambil meneruskan pembicaraan, ruang SIT dipenuhi bara api. Ketiga rekan Chiaki yang sejak awal tertarik pada Hio benar-benar kesal. Kirishima sendiri hanya bisa mendesah, namun saat ia dan Mine bertemu pandang ia tersenyum kecil.

TBC…. ^^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s