SJS [Super Junior School] ~ part 12, Surprise!! ~

Genre : School Life, Romance, Friendship

Length : Chaptered

Casts : All Super Junior Members, + Lee Yuri, Wang Yui, Choi Heewon

 

Sebelum menerima hasil ujian, murid-murid SJS disibukkan dengan persiapan festival sekolah. Setiap akhir tahun ada saja yang akan dilakukan oleh sekolah, namun kali ini untuk memperingati tahun ke XXX (umur sekolah tidak diketahui dengan pasti, jadi disamarkan) ulangtahun sekolah maka festival juga diadakan di akhir semester.

Bedanya dengan sekolah lainnya, festival ini dilakukan oleh para guru, bukan oleh para murid. Festival setiap tahun juga berbeda. Pernah sekali, para guru membuat film yang diputar di bioskop sekolah dan ditonton oleh siswa beserta keluarga, pernah juga mereka tampil menyanyian lagu-lagu di panggung di pinggir kota, pernah juga para guru sengaja mengikuti variety show. Tapi, untuk kali ini sedikit berbeda. Pada festival kali ini, para guru akan menampilkan live concert di gedung serbaguna sekolah. Acara ini akan dilakukan oleh para guru sendiri. Hanya murid-murid pilihanlah yang akan ikut meramaikan acara. Sisanya akan menjadi penonton.

Guru-guru sekarang sangat sulit ditemui. Mereka sering mengunci ruang serbaguna seharian dan hanya keluar untuk ikut makan malam bersama dan kemudian menghilang lagi kedalam gedung. Hal itu membuat sebagian besar murid –terutama anggota fansclub dari guru yang bersangkutan- menjadi luar biasa cemas. Mereka bahkan membuat setiap halaman koran dan blog penuh dengan pembahasan mengenai apa yang sedang dilakukan mereka dan apa yang mungkin terjadi pada mereka.

Heewon hampir saja memuntahkan sarapannya saat membaca salah satu headline di suatu pagi, seminggu setelah para guru mulai menghilang ke dalam gedung. “SIWON MENGORBANKAN DIRI DEMI MURID-MURIDNYA”. Mungkin judulnya terdengar lebai,  tapi lebih lebai lagi isinya. Salah satu cuplikan kalimatnya adalah “Demi membahagiakan kami, guru kami yang paling kuat pun akhirnya jatuh sakit. Siwon saem telah bekerja keras demi menyukseskan acara demi kami.”

Heewon tidak perlu bertanya siapa itu ‘kami’, tapi dia bertanya darimana mereka mendengar kalau Siwon sakit? Tadi malam oppanya itu sempat menelponnya, membangunkannya pada tengah malam buta untuk mengantarkan makanan tambahan dan juga vitamin. Memang mereka semua tampak lelah, namun masih sangat sehat. Mata mereka terlihat bersinar-sinar penuh semangat saat meminta Heewon merahasiakan apa yang dilihatnya. Heewon tidak perlu merahasiakan apapun karena dia sama sekali tidak mengerti dengan apa yang dilihatnya. Memang ada stage raksasa setinggi lebih dari 2 meter yang ditata sedemikan rupa di tengah ruangan, tapi tetap saja keadaan remang-remang sehingga Heewon tidak bisa melihat keseluruhannya.

Jelas apa yang tertulis di berita ini adalah omong kosong yang ditambahi bumbu dimana-mana. Untungnya koran ini hanya terbit lokal dalam lingkungan SJS. Tapi, berita yang diblog cukup membuat khawatir keluarga. Setelah Heewon selesai membaca kalimat terakhir, ponselnya berbunyi. Ibunya menelpon. Bahkan setengah jam kemudian, Jiwon eonni muncul di sekolah dan langsung ke gedung serbaguna. Tapi, dalam 5 menit dia keluar dengan wajah aneh antara kesal dan lega.

“Eomma membangunkanku pagi-pagi untuk datang melihat keadaan oppa. Padahal aku masih jetlag. Kenapa eomma tidak menyuruhmu saja?” tanyanya dengan kesal. Dibawah matanya masih ada lingkaran hitam yang berusaha disamarkannya dengan makeup tipis, tapi tidak terlalu berhasil.

 

“Eomma sudah menelponku dan dia pasti tidak percaya. Eomma pasti mengira aku disuruh oleh oppa untuk menyampaikan ‘baik-baik saja’. Memangnya sejak kapan eomma akan percaya kalau dirinya sendiri atau utusannya belum memastikan dengan mata kepala sendiri?” keluh Heewon.

Jiwon eonni menguap dan menyeruput Americano-nya. Mereka sedang duduk dan mengobrol di cafe sekolah yang sepi. Jiwon Eonni baru kembali dari Paris kemarin. Tidak heran kalau dia masih jetlag. “Aku ingin menuntut si penulis berita.” Katanya dengan berapi-api. Tapi dalam detik yang sama dia kehilangan energinya. Dia menguap panjang dan berdiri sambil membawa gelas Americanonya.

“Aku pulang dulu. Aku harus membuat laporan tertulis.” Katanya sambil memutar matanya. Saat membesarkan matanya, dia tampak sangat mirip dengan Siwon. Mereka berjalan ke arah mobil dalam keheningan.

“Hati-hati eonni. Jangan tidur saat menyetir.”

Tiba-tiba Jiwon berhenti dan berbalik. “Kau mengkhawatirkan itu, tapi sama sekali tidak menawariku untuk tidur dulu di kamarmu atau ruangan kosong lainnya?” alis kirinya terangkat.

Heewon mengangkat bahu dengan santai. “Sepanjang ingatanku aku tidak akan melakukan hal yang sudah jelas hasilnya.”

Sekali lagi Jiwon memutar matanya, tapi kali ini dengan dengusan kecil. “Benar juga. Aku memang akan menolak.” Kemudian senyuman hangatnya tersungging. “Bye.”

Heewon memberi senyuman hangat yang sama dan mengantarnya ke mobil. “Bye.” Anehnya diantara mereka berdua tidak pernah terjalin keakraban pada taraf normal untuk ukuran kakak beradik. Selisih umur mereka memang cukup jauh, tapi meski demikian Heewon tetap lebih akrab pada Siwon yang jauh lebih tua darinya. Heewon dan Jiwon tak pernah berbagi waktu layaknya kakak beradik, misalnya dengan bermain bersama. Setiap mereka bertemu, mereka akan bersikap selayaknya kenalan baru. Mereka hanya berbicara apa yang perlu dan tidak ada basa basi. Senyuman hangat pun menjadi hal penting bagi keduanya. Dengan senyum itulah mereka berkomunikasi.

Heewon memperhatikan sampai mobil Jiwon eonni menghilang dari pandangan sebelum berbalik. Dia ingin berjalan-jalan di taman belakang dan mungkin bersantai di bawah salah satu pohon tinggi disana dan membaca buku. Rasanya kemarin petugas perpustakaan mengatakan akan ada buku baru yang masuk hari ini. Semoga saja dia menjadi orang yang pertama kali membacanya karena sejujurnya Heewon tidak begitu suka dengan buku yang ronyok. Buku lama tidak menjadi masalah baginya selama tidak ronyok. Hanya saja tampaknya para gadis di SJS punya keahlian khusus dalam meronyokkan setiap kertas yang disentuh sehingga terkadang dia menggantikan petugas perpustakaan untuk mengomeli para pelaku. Selain itu juga Heewon bisa membaca buku yang menarik dan menyimpan judulnya sebagai salah satu daftar buku buruannya. Seandainya perpustakaan ingin melakukan cuci gudang, dengan senang hati dia akan membeli buku itu. Meski memang lebih baik membeli buku yang baru di toko buku, tapi Heewon lebih suka membeli buku yang sudah pernah dibacanya. Yang jelas tidak dalam keadaan ronyok.

Heewon langsung ke bagian buku fiksi di lantai teratas gedung perpustakaan. Di lantai teratas hanya ada satu ruangan, meski menurut peta panduan sekolah ada 2 ruangan. Satu untuk buku fiksi asli dan satu ruang khusus untuk milik pribadi para guru, yang anehnya tidak diketahui berada di bagian mana. Heewon mengambil satu buku yang menarik perhatiannya dan baru saja hendak turun untuk melapor pada petugas saat dia terkejut dengan dinding yang mendadak bergerat. Ia mungkin akan jatuh terjengkang kalau saja tidak ada sebuah tangan kuat yang melingkar di pinggangnya, menahannya agar tidak jatuh.

“Terima kasih.” Ucapnya dengan agak terengah. Jantungnya berdegup kencang karena agak terkejut hampir terjatuh di tangga.

“Sama-sama.” Suara itu terdengar sangat berwibawa dan mendadak jantung Heewon berhenti berdetak, tubuhnya seketika mematung. Dia tidak begitu menyadari saat tangan itu menariknya hingga berdiri tegak, agak jauh dari pinggir tangga. Rasanya kepalanya kosong dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya Heewon merasa melayang.

“Maaf, kutasa aku mengagetkanmu tadi. Seharusnya pintunya memang tidak dipasang disini.” Kata Leeteuk sonsaengnim sambil memandangi pintu itu dengan kening berkerut. “Akan kuminta tukang memindahkan pintu ke dinding di sebelah sana. Bagaimana menurutmu?”

“Eh?”

Heewon terkejut karena mendadak diajak bicara oleh kepala sekolah yang sejak awal membuatnya linglung. Sejak pertama kali melihat Leeteuk datang ke rumahnya beberapa tahun lalu untuk mencari oppanya, Heewon sudah terpana padanya. Itulah alasannya Heewon memilih masuk ke SJS meski orangtuanya sudah bermaksud mengirimnya ke London.

Leeteuk memandangnya dengan cemas. “Kau tidak apa-apa? Apa kau masih terkejut karena hampir jatuh? Perlu ke ruang kesehatan?”

Dengan cepat Heewon menggeleng dan menggoyang-goyangkan tangannya. “Tidak. Aku baik-baik saja. Tadi, apa yang Anda tanyakan?”

Leeteuk menunjuk pintu itu. “Kurasa pintu ini seharusnya dipindahkan ke dinding sana. Bagaimana menurutmu. Letaknya cukup berbahaya disini.”

Heewon menggeleng lagi, kali ini sambil mengamati pintu itu. “Tidak perlu. Kurasa tidak perlu dipindahkan. Hanya saja pintu ini harus diubah.”

“Diubah?”

“Pintu ini tidak terlihat seperti pintu. Ini lebih cocok disebut pintu rahasia karena dibuat sama persis dengan dinding. Bahkan tidak ada gagang pintu. Selain itu pintu ini juga membuka keluar. Karena itu menjadi bahaya. Kalau dia membuka ke dalam, seperti pintu pada umumnya tidak akan jadi masalah. Orang bisa membukanya dan keluar masuk dengan lebih aman.”

Leeteuk tertegun sejenak dan tersenyum. “Benar juga. Kenapa tidak terpikirkan olehku. Lebih mudah memang mengubah sedikit pintu ini daripada memindahkannya.”

Heewon merasa melayang lagi mendapatkan senyuman langsung dari Leeteuk. “Kalau begitu sampai jumpa. Aku harus mencari tukang.” Dengan tergesa-gesa Leeteuk menuruni tangga dan menghilang dari pandangan. Heewon masih mematung di dekat pintu dengan kepala linglung. Cara bertemu seperti ini tidak terbayangkan olehnya, tapi cukup berkesan. Heewon mendadak tersadar saat mendengar suara bel dari jam di dinding.  Ternyata dia sudah  berdiri bagai patung selama hampir 10 menit dan dengan cepat dia mengingat alasan kedatangannya ke perpustakaan.

Setelah menemui petugas perpustakaan, Heewon berjalan ke taman di belakang sekolah. Duduk membaca di bawah pohon, terutama dalam cuaca secerah ini adalah favoritnya. Bahkan dia sudah menyiapkan sepotong roti dan sekotak jus di kantong kecilnya. Heewon baru mulai membuka bukunya saat telinganya menangkap suara-suara aneh. Meski suaranya kecil, tapi telinga Heewon cukup sensitif sehingga bisa mendengar bunyi dari jarak yang lumayan sekalipun suaranya kecil. Heewon menutup bukunya dengan pelan dan mulai mengendap-ngendap ke balik semak. Semakin dalam dia melewati semak, suara itu semakin jelas.

Suara yang didengar Heewon sangat rendah dan serak. Apa yang dikatakannya juga tidak begitu jelas, namun terasa aneh terdengar dari tempat seperti ini. Sesekali bunyi kecipak air terdengar menyelingi suara rendah aneh itu. Heewon semakin menajamkan telinga dan bergerak semakin berhati-hati.

“Apa ada alien?” tanya Heewon dalam hati. Tapi, dengan cepat ditepisnya pikiran itu dari kepalanya. Salah satu akibat buruk dari terlalu banyak membaca buku fiksi memang pikiran yang melayang tak terkontrol.

Heewon sudah sampai di sumber suara dan seketika membeku kaget. Matanya seakan meninggalkan rongganya. Apa yang dilihatnya benar-benar masuk daftar hal yang tidak dibayangkan, sama seperti dengan pertemuannya dengan kepala sekolah tadi.

“Saem, apa yang Anda lakukan?” tanyanya pada Yesung yang sedang merangkak di sekeliling kolam kura-kuranya.

Yesung mendadak berhenti dan memandang Heewon dengan pandangan yang membuat bulu kuduk merinding. Tajam dan kejam. “Jangan berisik.” Katanya dalam bisikan rendah dan serak. Heewon yakin, kalau saja telinganya tidak peka, dia tidak akan pernah mendengar apa yang dikatakan Yesung saem karena bahkan bibirnya tidak bergerak saat mengatakan itu. Hanya udara yang keluar dari sela kecil antar bibirnya saja yang menimbulkan suara.

Heewon ikutan merangkak dengan sangat pelan ke samping Yesung saem. “Apa yang Anda lakukan?” tanyanya lagi dengan bisikan yang tak kalah rendah.

Mendadak ekspresi Yesung berubah lembut. “Menemui anak-anakku. Aku terlalu sibuk akhir-akhir ini. Mereka jadi marah padaku.” Heewon mengikuti pandangan Yesung ke arah kura-kuranya.

Hanya bayangan mata kura-kuranya yang terlihat dari dalam lubang. “Diamlah.” Perintah Yesung saem kemudian semakin mendekatkan kepalanya ke arah kolam dan mulai berbisik lagi.

Heewon tertegun melihat bagaimana cara Yesung mendekati kura-kuranya. Kepalanya digerakkan maju mundur dengan sangat perlahan. Salah satu dari kura-kura yang ada di kolam juga melakukan hal yang sama. Kura-kura itu melangkah dengan sangat pelan dan memaju mundurkan kepalanya, keluar masuk cangkangnya. Lama kelamaan ketiga kura-kura Yesung keluar dari persembunyian dan mereka bermain dengan aneh. Heewon mungkin akan tersungkur ke dalam kolam karena syok melihat tingkah gurunya seandainya dia berdiri. Untungnya saat itu dia sedang dalam posisi merangkak. Punya 4 penopang tubuh terasa bagus untuk menjaga keseimbangan.

Dengan perlahan Heewon merangkak mundur dan meninggalkan Yesung saem dan kura-kuranya. Begitu sampai di balik semak, Heewon segera berdiri dan berjalan cepat ke bawah pohon, mengambil barang-barangnya dan pindah. “Apa yang terjadi hari ini? Kenapa para guru jadi seperti itu?” tanyanya cemas pada diri sendiri.

Belum sampai dia berjalan jauh, mendadak saja ada yang melompat turun dari atas pohon di depannya. Heewon terjatuh terjengkang dan barang-barangnya berhamburan jatuh.

“Maaf.” Kata sosok kurus yang berjongkok dihadapannya. Eunhyuk saem baru saja terjun dari dahan pohon seperti seorang ninja sambil memeluk seekor kucing hitam. Rambutnya berantakan, dipenuhi daun dan ranting-ranting kecil.

“Saem?” Eunhyuk nyegir mendengar keterkejutan dalam suara Heewon.

“Maaf. Aku sedang mencari kucing Heechul hyung. Kalau Heebum sampai hilang, kepalaku bisa jadi gantinya.” Eunhyuk merinding saat mengatakannya.

Heewon tidak bisa menahan diri lagi. Dia berdiri dan meledak marah. “Kalian ini guru atau bukan si? Kenapa tingkah kalian sangat aneh. Leeteuk muncul mendadak dari dinding yang ternyata pintu, Yesung bicara dengan kura-kura dan kau melompat dari pohon seperti ninja. Kenapa kalian tidak berdiam diri dalam ruangan kalian saja dan persiapkan festival dengan benar?”

Heewon tidak sadar lagi kalau dia sudah menggunakan kata-kata yang tak formal dan marah-marah pada guru. Keinginannya untuk menghabiskan hari dengan tenang, hanya dengan ditemani buku barunya tidak berjalan mulus dan emosinya sudah tak terbendung. Terlebih lagi karena tingkah guru yang tidak bisa diterima akal sehatnya.

Eunhyuk sendiri berdiri terpaku, terpukau dengan omelan Heewon. “Maaf.” Kata Heewon setelah beberapa saat. Ia menunduk malu. Tidak biasanya ia lepas kendali seperti ini.

“Wah..”

“Eh?” Heewon langsung mengangkat kepala terkejut mendengar reaksi Eunhyuk saem yang penuh kekaguman.

“Aku mengerti sekarang. Aku mengerti kenapa Siwon tidak berani mengatakan apa-apa tentangmu pada kami sebelumnya. Kau penuh dengan kejutan.” Ia tersenyum lebar, tampak tidak terganggu sama sekali dengan ketidaksopanan Heewon.

“Apa mak…sudnya?” tanya Heewon tidak mengerti. Ia benar-benar bingung.

Eunhyuk hanya tertawa sambil mengedip. “Ra..ha..si..a. Ini rahasia antar pria.” Masih sambil tertawa, ia berjalan pergi, kembali ke arah sekolah meninggalkan Heewon yang masih terbengong sendiri.

+++

            “Ada apa denganmu, Kyu?” tanya Ryeowook sambil menyerahkan sebotol air padanya. Setelah menyelesaikan latihan beberapa menit lalu, Kyuhyun hanya terduduk melamun di tepi panggung.

“Terima kasih.” Katanya sambil menerima air itu dan menenggaknya langsung setengah botol. “Tidak ada apa-apa. Hanya memikirkan sesuatu. Rasanya ada yang salah.”

Ryeowook mengernyit. “Apanya yang salah? Ada yang salah dengan tariannya atau musiknya?”

Kyuhyun cepat-cepat menggeleng. “Bukan itu maksudku. Ah, sudahlah. Lupakan saja, hyung.” Tambahnya sambil tersenyum dan bangkit berdiri. “Ayo bantu yang lain. Setelah selesai giliran kita istirahat.”

Ryewook tersenyum kecil dan bangkit mengikutinya. Setelah melakukan latihan bersama-sama selama seminggu, sekarang mereka berbagi shift mengingat masih banyak yang harus dilakukan sebelum hari H, mereka perlu menjaga kesehatan. Dan kini giliran Kyuhyun, Ryeowook, Kibum, Kangin, Henry dan Sungmin. Leeteuk, Heechul, Yesung dan Hankyung punya urusan masing-masing sementara sisanya sedang tidur di ruangan belakang.

Sementara Kyuhyun dan Ryewook pergi membantu Kangin dan Kibum di sisi kanan panggung, Sungmin terus mengawasi Kyuhyun dengan sudut matanya dari tempatnya berada. Sejak pembicaraan waktu itu, Kyuhyun bersikap berbeda. Ia seakan meragukan apa yang dikatakan Sungmin. Sementara itu Sungmin hanya bisa pasrah. Ia sendiri tidak ingin menyembunyikan kenyataan, namun mengingat keadaan yang tidak memungkinkan, ia hanya bisa bertahan dengan membantu orang lain menyembunyikannya. Cerita versi publik yang diceritakannya mungkin akan membuat Kyuhyun terus penasaran, tapi itu jelas lebih baik daripada langsung membongkar semua padanya, membuat pikirannya menerima beban tinggi secara mendadak tidaklah baik.

Tapi, melebihi siapapun, Sungmin tahu kenyataan yang disembunyikan terus tidaklah baik. Karena itu ia sudah memutuskan untuk menceritakannya, tapi perlahan. Perlahan, sedikit demi sedikit. Dan cara untuk memulainya adalah dengan membuat Kyuhyun penasaran. Membuatnya ingin mencari tahu. Mencari tahu sendiri kenyataannya mungkin jalan terbaik daripada menumpahkan seluruhnya sekaligus.

+++

Sementara itu kembali ke dorm, Heewon berjalan tanpa sadar ke kamarnya. Ia bahkan tidak sadar Yui menyapanya di dekat pintu kamar. “YA!!”

Heewon kembali menjatuhkan barang-barangnya untuk kesekian kalinya karena kaget. Ia menarik napas panjang mencoba menenangkan diri. Rasanya satu kejutan lagi dan ia akan berakhir di ICU.

“Ada apa denganmu Heewon ah?” tanya Yui bingung. “Tidak biasanya kau melamun. Apalagi sambil berjalan.”

Heewon menggeleng. “Tidak. Tidak ada apa-apa. Hanya sedikit terkejut dengan kejadian hari ini.” jawabnya sambil berjongkok, memunguti barang-barangnya.

“Kejadian hari ini?” tanya Yui sambil membantu memunguti barangnya. Jelas ia sangat penasaran.

Heewon menghela napas, “Akan kuceritakan kapan-kapan. Kalau otakku harus memutarnya lagi, mungkin aku bisa pingsan.” Ia merinding sedikit dan mengeleng-gelengkan kepalanya seakan mengusir bayangan aneh dari pikirannya.

Yui mengangguk mengerti. “Kau sendiri mau kemana? Kelihatannya rapi sekali?” tanya Heewon sambil mengamati Yui.

Seketika senyumnya merekah. “Orangtua ku datang. Mereka akan menginap selama beberapa hari sampai hari pertunjukkan di sini.” Dalam kasus khusus seperti ini –saat diselenggarkaannya festival sekolah- para orangtua memang diijinkan untuk menginap di sekolah selama 5 hari. Biasanya orangtua dari murid yang berasal dari luar kota-lah yang sering memanfaatkan kesempatan ini. Sekolah menyediakan sebuah gedung dengan kamar-kamar tak kalah dengan hotel bintang lima untuk para orang tua. Mereka akan mendapat kesempatan untuk mengenal dan merasakan langsung suasana sekolah dimana putri-putri mereka bersekolah.

“Benarkah?” tanya Heewon ikut senang. Ia tahu orangtua Yui memang tinggal jauh di Mokpo dan pasti sangat sulit untuk bertemu kalau tidak mendapat libur panjang. Kesempatan lima hari di sekolah tentu tidak akan dilewatkan begitu saja.

“Mereka akan tiba sebentar lagi. Aku akan ke gerbang dan menyambut mereka. Tapi,” wajahnya tampak agak khawatir. “Apa orangtuaku tidak datang terlalu awal? Aku tidak melihat orangtua lain di sekolah.”

Heewon tertawa. “Tidak. Sama sekali tidak awal. Orangtua yang lain mungkin malah akan tiba saat makan malam. Apalagi yang berada di Seoul. Mereka akan menyelesaikan pekerjaan dan datang berlibur saat makan malam.” Kata Heewon. Ia ingat Siwon pernah menceritakan itu padanya.

Yui tersenyum. “Lalu bagaimana dengan orangtuamu?”

Heewon mengangkat bahu. “Entahlah. Ibuku tidak mengatakan apa-apa tadi.” Heewon jadi teringat pada telepon ibunya tadi pagi. Kenapa ibunya tidak langsung datang saja untuk mengecek Siwon oppa?? Kenapa harus repot mengirim Jiwon eonnie?

“Hei? Kau melamun lagi?” tanya Yui sambil melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Heewon.

“Mian. Aku kepikiran sesuatu. Cepat temui orangtuamu. Jangan sampai mereka menunggu lama.” Yui mengangguk dan bergegas pergi.

+++

“Eomma, Appa, Kalian sudah datang? Kapan pulang ke Korea?” tanya Yuri bingung melihat kedua orangtuannya duduk santai di cafe sekolah saat ia datang untuk makan malam.

“Kejutan!!” seru ibunya sambil berdiri menghampiri dan memeluknya. Ayahnya ikut berdiri dan memberinya pelukan kilat yang hangat.

Yuri memandang sekeliling dan terkejut melihat begitu banyak orangtua yang datang. Mereka sedang duduk mengobrol dengan putri masing-masing. Beberapa yang saling mengenal bahkan duduk semeja dan berbagi cerita. Di salah satu meja tak jauh dari tempatnya, Yuri melihat Yui juga sedang duduk bersama orangtuanya.

“Bagaimana kabarmu?” tanya ibunya, menarik kembali perhatiannya.

“Baik. Tapi, ada apa ini? Kenapa kalian..?”

Ayah dan ibunya tertawa. “Seperti biasa. Kau memang tidak pernah peduli terhadap sekitar ya.” Komentar Ayahnya. “Kami akan menginap disini selama lima hari sampai festival sekolah. Setelah itu kita akan liburan bersama.”

Yuri mengangguk saja. Ia masih bingung dan terkejut. Sekali lagi ia mengedarkan mata ke sekeliling cafetaria sekolah. Kenapa ia sampai tidak tahu ada kegiatan seperti ini sementara orangtuanya saja tahu. “Jadi kalian dihubungi oleh pihak sekolah?”

“Ya.” Jawab orangtuanya dengan nada yang aneh. Ibunya menjawab dengan nada agak bingung sementara ayahnya dengan nada tegas yang terkesan dipaksakan. Yuri mengernyit heran.

“Gurumu yang memberi tahu kami. Kurasa mereka juga mengirim email ke semua orangtua murid. Kalau semua murid sepertimu, tidak akan ada yang hadir tahu.” Kata ayahnya cepat. Yuri merasa ada yang disembunyikan orangtuanya, tapi ia memutuskan untuk tidak bertanya lebih jauh.

“Bagaimana dengan nilai-nilaimu? Tidak ada masalah ‘kan?” tanya ibunya mengalihkan perhatiannya.

Yuri mengangguk. Namun, pertanyaan ibunya membuat suasana hatinya memburuk. Ia sama sekali tidak mau lagi memikirkan hasil ujian terutama untuk pelajaran dengan guru kesayangannya yang satu itu. Saat Yuri sedang asyik dalam pikirannya sendiri, murid-murid lain di sekelilingnya serentak berdiri dan memberi bungkukan sebagai salam pada para guru yang mulai memasuki kafetaria.

“Selamat malam dan selamat datang, orang tua murid yang kami hormati,” mulai Leeteuk mengawali pidato pembukaannya ,“terima kasih sudah menyediakan waktu Anda sekalian untuk memenuhi undangan dari pihak sekolah. Acara seperti ini memang sudah menjadi tradisi sekolah, dimana orangtua murid akan datang dan menginap selama beberapa hari hingga festival sekolah berakhir. Karena itu, mari kita nikmati saat-saat menyenangkan di sekolah bersama-sama. Terima kasih.”

Para orangtua bertepuk tangan setelah Leeteuk membungkuk, mengakhiri pidatonya. Ia kemudian membunyikan bel kecil di atas mejanya dan seketika puluhan pelayan berseragam dengan kereta dorong masing-masing keluar dari pintu belakang. Dengan cekatan mereka mendatangi meja-meja, 2 pelayan untuk setiap meja, dan mulai menata makanan pembuka serta menuangkan wine bagi para murid dan orangtuanya.

Beberapa orangtua murid, terutama murid kelas satu merasa terkesan dengan pelayanan dari pihak sekolah. Bahkan orangtua dari murid kelas 2 dan 3 yang sudah pernah mengalaminya pun merasa terkesan. Mereka benar-benar seperti berada di hotel berbintang.

Kurang lebih satu jam kemudian, mereka menyelesaikan makan malam dengan berbagai puding dan kue sebagai pencuci mulut. Setelah perut kenyang, berbagai obrolan pun mulai terdengar, menggantikan denting pisau dan sendok beradu dengan piring.  Beberapa orangtua mulai berpindah tempat duduk, menghampiri kenalan atau orangtua teman anak mereka. Ada juga yang mulai menghampiri para guru. Sementara itu Yuri melihat orangtuanya memandangi meja guru. Saat mengikuti arah pandangan mereka, Yuri melihat Sungmin mengangguk pada kedua orangtuanya, yang kemudian membalas dengan senyuman.

+++

Sungmin sedang menyalami beberapa orang tua murid sambil sesekali mengedarkan pandangan ke sekeliling kafetaria. Dengan cepat matanya menangkap dua wajah yang sangat familiar. Ia tersenyum dan mengangguk kecil pada mereka.

“Kyuhyun ah, kurasa kau perlu bicara pada orangtua Lee Yuri.” kata Sungmin pada Kyuhyun saat mereka berdua berjalan kembali ke dorm para guru setelah selesai makan malam. jalan sepi karena para murid mengantar orangtua masing-masing ke hotel sekolah yang berada di arah sebaliknya.

“Kenapa??” tanyanya dengan wajah sangat terkejut, jelas tidak berharap ide ini muncul.

Sungmin mengangkat bahu santai. “Ya tentu saja karena nilai Yuri kan? Coba kau pikirkan, kau membuat kesepakatan yang bahkan melanggar peraturan sekolah. Mata pelajaranmu merupakan salah satu pelajaran wajib dan kau membuat seorang murid tidak bisa mengikuti pelajaranmu hanya karena ego. Bagaimana dengan nilainya di semester berikutnya?”

Kyuhyun berpikir sesaat. “Tapi, kalau murid itu sendiri yang menyanggupi persayaratan itu bukan masalahku. Bagaimanapun juga ini akibat dari ulahnya sendiri. Kau tahu kan, pria tidak bisa mencabut kata-katanya!” tegasnya sambil berjalan pergi dengan cepat.

“Tidak berubah ya, dia.” Mendadak terdengar suara seorang laki-laki yang cukup berat. Sungmin segera berbalik dan memberi salam begitu menyadari siapa yang berbicara padanya.

“Lee ahjussi,” ia tersenyum sopan pada ayah Yuri. “Bagaimana kabar Anda dan bibi? Mana Bibi?” tambahnya sambil melihat ke belakang ayah Yuri.

“Baik-baik saja. Dia sedang berjalan-jalan dengan Yuri. Aku melihatmu berjalan dengan Kyu setelah keluar dari toilet. Bagiamana kabar anak itu?”

Sungmin berbalik dan memandangi arah Kyu menghilang beberapa detik yang lalu sebelum menjawab, “Seperti biasa.”

Ayah Yuri mengangguk mengerti. “Tampaknya tidak ada masalah dengan mereka berdua kalau begitu, selain masalah taruhan itu?”

Sungmin tersenyum kecil. “Ya. Kurasa begitu.” Kemudian dengan wajah yang cemas, ia menambahkan,  “Apa tidak seharusnya kita mulai menyembuhkan mereka berdua?”

Ayah Yuri menghela napas, “Ya, kupikir juga begitu. Bagaimana pun juga mereka punya hubungan yang baik dulu. Tidak seharusnya mereka jadi bermusuhan seperti ini.”

+++

            Dibalik pohon, beberapa meter dari Sungmin dan Tuan Lee, seorang gadis berdiri tersembunyi dalam keremangan mendengarkan pembicaraan mereka. Ia mengernyit bingung mendengarkan pembicaraan kedua laki-laki itu. “Siapa yang mereka maksudkan? Apa yang mereka bicarakan?”

 

TBC

Advertisements

4 thoughts on “SJS [Super Junior School] ~ part 12, Surprise!! ~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s