Povestea lui Angel – storia 5

Cast: Dennis, Casey, Andrew, Marcus, Aiden

Genre : Fantasy

Length : Chaptered

 

Hari-hari berjalan normal bagi Senna. Setidaknya dalam beberapa hari ini dia tidak mengalami kejadian yang membahayakan jiwa. Sempat terbersit di benaknya, mungkinkah karena hari-harinya yang sekarang selalu ditemani oleh malaikat bawah sehingga hal buruk cukup menjauhinya? Tapi, entah mengapa ada sesuatu yang menggangu pikirannya, meski Senna sendiri tidak bisa mengatakan apa yang mengganggunya itu.

“Kau keberatan bangun pagi besok?” tanya Dennis saat mengantarkan Senna pulang sekitar dua minggu kemudian.

“Seberapa pagi?” Senna berusaha menjaga suaranya tetap tenang. Selama beberapa hari terakhir sama sekali tidak ada pembicaraan yang menyinggung ajakan Dennis waktu itu. Senna sempat berpikir kalau Dennis sudah lupa.

Dennis menatap lurus-lurus dalam mata Senna. “Kau tahu, kau bisa membatalkannya kapanpun. Kalau kau keberatan untuk pergi tidak masalah bagiku.”

Senna tertawa. “Seberapa pagi?” tanyanya ulang. Dennis masih menatapnya dalam. “Dengar, aku tidak punya masalah dengan pergi bersamamu. Tapi, aku mendapat kesan bahwa kaulah yang tidak ingin mengajakku pergi ke-entah-dimana itu.”

Dennis menyerah. Memang benar. Setelah mengajak Senna, dia menjadi ragu, apalagi setelah pembicaraannya dengan saudara-saudanya. Sebagian dari dirinya masih takut dan ragu. “Jam 6 pagi. Perjalanan kita cukup jauh.”

Senna tersenyum. “Sangat pagi.” Setelah saling bertukar selamat tinggal, Senna kembali dalam rumahnya.

Senna mendengarkan sampai suara mesin mobil Dennis menghilang di kejauhan sambil berdiri bersandar dibalik pintu. Entah kenapa mendadak Senna merasakan perasaan yang tidak enak. Senna sama sekali tidak mengerti, tapi dia merasa kosong mendadak. Senna memutuskan untuk merendam tubuhnya dalam air dingin agar lebih tenang. Kalau tidak berhasil, dia akan minum obat tidur.

 

+++

Senna terbaring terjaga sepanjang malam. Obat tidur yang diminumnya tidak berpengaruh sama sekali. Pikirannya memang tenang, tapi sama sekali tidak bisa tidur. Sedetikpun matanya tak ingin terpejam. Betapa leganya Senna saat jam di samping tempat tidurnya menunjukkan puku 4.50.

Memang masih terlalu pagi, tapi percuma bila dia tetap di tempat tidur. Senna menyalakan lampu di seluruh rumah dan memutuskan untuk melakukan senam ringan di ruang tamu. Meski lebih segar kalau berolahraga diluar, Senna masih cukup khawatir dengan kemungkinan terjadinya kecelakaan aneh di tengah hutan yang gelap.

Setelah kira-kira setengah jam, Senna merasa lebih segar setelah berkeringat. Dia mendinginkan tubuh dengan menyiapkan pakaian yang akan dikenakannya. Setelah semua siap, Senna bergegas mandi. Dia baru selesai mengecek semua barang-barangnya saat terdengar ketukan halus di pintunya.

“Kau tidak menyetir?” tanya Senna sambil membuka pintu. Dia tidak melihat adanya mobil di halaman.

“Kuharap kau tidak keberatan kalau kita menggunakan mobilmu saja.” Senna sebenarnya ingin bertanya alasannya, tapi entah kenapa dia mengurungkan niatnya.

“Siap berangkat?”

Senna mengangguk dan menyambar tasnya dari atas sofa. Udara pagi terasa segar begitu dia melangkah keluar. “Apa aku juga yang menyetir?”

“Kalau kau tidak keberatan.” Jawab Dennis. Senna tersenyum dan membuka garasi kemudian mengeluarkan mobilnya.

Selama kira-kira tiga perempat jam mobil Senna melaju dalam keheningan. Dennis hanya bicara untuk menunjukkan arah bila ada persimpangan yang menanti. Senna sama sekali tidak tahu kemana mereka akan pergi. Dennis tidak mengatakan apapun. Senna bisa menahan diri sejak kemarin, tapi sekarang rasanya tidak.

“Aku tahu kau akan bertanya padaku.” Kata Dennis tiba-tiba, tepat saat Senna akan membuka mulut.

“Kau bisa baca pikiran?”

Dennis menggeleng pelan. “Tidak. Aku menebak dari tingkahmu.” Senna mengeryitkan dahi sebagai tanda meminta penjelasan lebih lanjut. “Pertama, aku berhutan maaf padamu. Kau tahu, aku mengajakmu ke suatu tempat untuk bertemu dengan seseorang yang sangat berarti bagiku.”

Senna mencengkram kemudi dengan begitu erat. Mendadak dia merasa tidak siap untuk menerima penjelasan.

“Aku memintamu menyetir karena biasanya setelah pergi ke sana aku akan jatuh.” Katanya dengan nada tercekik sedih. Senna tidak bisa menahan diri untuk menatapnya dan sangat terkejut dengan apa yang dilihatnya. Wajah tampan Dennis terlihat tersiksa sekali.  Secara insting tangan Senna bergerak untuk menyentuhnya. Dennis menggenggam balik tangannya dan tersenyum sedih sekaligus menyesal.

“Maafkan aku. Aku hanya tidak tahu bagaimana menjelaskan dengan benar semua ini.”

Senna menepikan mobil dan menatap mata Dennis dalam-dalam. “Kalau ini hal yang terlalu sulit dikatakan, kau tidak perlu memaksa diri untuk melakukannya.”

Mendengar itu mendadak Dennis menjadi tegas. Garis-garis kesedihan yang terukir di wajahnya terhapus begitu saja, meski matanya masih sedikit redup. “Tidak. Kau harus tahu. Aku sudah memutuskannya. Hanya ini yang bisa kulakukan untuk bergerak maju.”

Ketegasan dalam suara Dennis membuat Senna terpana. Kesedihan dan semangat yang begitu cepat bergantian tergambar di satu wajah yang sama membuatnya tidak mempercayai matanya. Senna menggangguk dan menjalan mobil lagi. Mereka kembali dalam diam hingga sekitar 2 jam kemudian saat mereka tiba di dermaga. Dennis membawanya ke salah satu kapal pesiar mewah yang terparkir di ujung dermaga.

“Naiklah. Sekarang gantian aku yang menyetir.”

Senna terkesan dengan kemampuan Dennis mengemudikan kapal. Meski tidak pernah disinggungnya, Senna merasa dirinya seharusnya sudah tahu apa yang mungkin dilakukan oleh seorang seperti dirinya. Tapi, tetap saja menduga dan melihat dengan mata kepala sendiri selalu berbeda.

Perjalanan mereka dengan kapal cukup lama. Selama lebih dari dua jam mereka melintasi laut, tidak terlihat banyak kapal. Hanya beberapa kapal kecil yang Senna perkirakan sebagai kapal nelayan. Hingga beberapa menit kemudian, tampak sebuah pulau di kejauhan. Dennis terus melajukan kapal hingga mendekati dermaga dan akhirnya berhenti.

“Kita sampai.” Dennis terlihat berpikir sebentar. “Hampir sampai.”

Dennis membantu Senna turun dari kapal, melintasi dermaga sederhana yang tampaknya sudah sangat tua. Kayu-kayu yang digunakan untuk membangun pelabuhan ini sudah lepas dan patah di beberapa bagian. Meski begitu pelabuhan ini ternyata cukup ramai. Meski tampak kuno, tapi ada cukup banyak kapal pesiar mewah yang terparkir rapi di setiap sisi. Banyak orang-orang dengan pakaian sederhana yang berlalu lalang –Senna menduga mereka adalah penduduk asli pulau ini- dan juga orang-orang dengan pakaian yang lebih modern. Mereka berjalan berkelompok dengan seorang petugas berseragam berjalan di depan rombongan.

“Tempat apa ini? Kenapa ada banyak turis?” tanya Senna tanpa mengalihkan mata pada Dennis.

“Ini pulau yang tak bernama. Entah siapa yang menemukan dan membangun pulau ini yang jelas para ahli memperkirakan –dari gaya bangunan dan bahasa asli penduduk- kalau pulau ini dihuni sejak kira-kira tahun 1500-an.” Jelas Dennis sambil menggiring Senna ke arah jalan raya.

“Lalu apa yang akan kita lakukan disini? Tour?”

Dennis menggenggam tangan Senna dan mengajaknya berjalan kaki di jalan. Jalanan disini tidak diaspal dan sama sekali tidak ada mobil yang lewat. Hanya ada kereta kuda sederhana dan kuda. Setelah berjalan kira-kira sepuluh menit, mereka mulai melihat sebuah perkampungan. Senna terperangah memandangi perkampungan dihadapannya. Mendadak saja Senna merasa dirinya kembali ke masa lalu. Jelas sekali sentuhan gaya abad ke-16 masih melekat erat pada setiap bangunan dan bahkan pada pribadi masyarakatnya. Senna benar-benar tercengang melihat orang-orang yang dilihatnya. Semuanya menggunakan gaun dan jas kuno serta samar-samar Senna mendengar mereka menggunakan bahasa yang rasanya tidak pernah didengar Senna.

Senna segera menoleh melihat Dennis dan cukup heran karena Dennis tidak tampak terkejut sama sekali dengan apa yang dilihatnya ini. Dia terus berjalan ke arah tertentu seakan tahu jelas daerah ini. Ya. Jelas sekali Dennis tahu tempat ini meski seumur hidupnya Senna tidak mendengar tentang tempat ini, baik di TV, National Geography atau bahkan di buku-buku tentang tempat kuno. Cukup banyak yang membahas suku-suku yang punah seperti para penduduk Machu Picchu yang menghilang meninggalkan kota mereka atau semacamnya, tapi sama sekali tidak disebut tentang sebuah pulau tak bernama dimana masyarakat hidup dengan gaya abad ke-16. Terlebih tempat ini merupakan sasaran wisata, tapi sangat aneh orang tuanya tidak pernah menyebutnya. Ayah Senna memang membuka perusahaan Tour Travel yang cukup besar dengan sasaran wisata di seluruh Eropa dan Amerika bahkan Senna ingat ayahnya pernah merencanakan paket wisata VIP ke pedalaman Amazone. Tapi, tidak sekalipun atau sedikitpun tentang pulau tak bernama ini.

Akhirnya setelah bermenit-menit berjalan dalam kebingungan dan kekaguman, Dennis berhenti berjalan. Mereka sudah berada di pinggir desa, tepatnya di hadapan sebuah gereja kuno. Dennis menatap Senna dan menarik napas dalam-dalam.

“Ini tempat kelahiranku.” Katanya dengan sangat tenang meski matanya terlihat tersiksa. Tangannya menggenggam tangan Senna dengan lebih erat. Jelas sekali dia tidak ingin berada disini. “Ibuku adalah manusia.”

Senna terkesiap. Dennis berpura-pura tidak mendengarnya dan kembali berjalan. Dia mendorong pagar kayu reyot dan membimbing Senna berjalan melintasi halaman depan gereja. “Ibuku adalah penduduk dari pulau sebelah. Dia melahirkanku di sana, namun karena dia hamil tanpa suami, kami diusir tak lama setelah aku lahir. Kami lalu hidup di pulau ini hingga dia meninggal. Ironis sekali kan, kalau kau hidup bersama dengan seseorang yang tidak akan mati atau bertambah tua sementara dirimu sendiri semakin tua dan meninggal?”

Senna mendekatkan tubuhnya pada Dennis. Nada suara Dennis jelas menyiratkan kesedihan yang dalam. Mereka sudah tiba di depan pintu gereja, tapi tidak masuk. Dennis berjalan ke arah jalan kecil di samping gereja. “Kehidupan disini juga tidak berjalan dengan tenang. Orang-orang jelas mulai merasa ada yang salah denganku, kalau ada sesuatu yang berbeda denganku. Ibuku terus bertambah tua dan anehnya aku tidak. Setelah mencapai usia 18, aku tidak pernah bertambah tua lagi, bahkan sejak saat itu aku tidak memerlukan makanan lagi. Kami sempat berpindah ke sisi lain pulau yang sepi, tapi setelah beberapa tahun kami kembali ke bagian pulau ini. Bagian yang lebih ramai dan berusaha berbaur.”

Dari tempatnya berdiri, Senna bisa melihat kompleks makam kuno berbaris rapi di halaman belakang gereja, terus sampai ke dalam hutan. Senna menduga ini semua adalah makam setiap penduduk yang pernah tinggal di pulau tak bernama ini. Dennis terus berjalan menyusuri gang-gang kecil diantara deretan makam, terus sampai ke hutan. “Tapi tetap saja, banyak orang yang sering bertanya melihat keanehanku. Cukup banyak juga yang menindasku karena perbedaanku. Tapi, kemudian semua itu mendadak terlupakan. Terutama saat peradaban mulai memasuki tempat ini. Semua orang sibuk beralih pada hal-hal di luar pengetahuan mereka. Sedikit demi sedikit perkembangan memasuki desa ini. Hanya saja wilayah desa ini tetap dibiarkan seperti ini, begitu juga para penduduknya sebagai pengingat akan leluhur mereka yang membangun pulau ini. Disisi lain pulau yang sepi, kau akan menemukan resort untuk para wisatawan.” Tambah Dennis. Senna yakin sekali Dennis sengaja menambahkan informasi mengenai resort untuk sedikit meringankan pikirannya.

Akhirnya mereka berhenti di salah satu nisan tua. Tampaknya nisan ini terbuat dari pualam putih yang indah, namun kini terlihat kusam termakan cuaca selama bertahun-tahun. Dennis berdiri bagai patung dan Senna bisa mengerti. Elizabeth Juan Althrop, begitulah nama yang tertulis kabur di nisan. Jelas ini makam ibu Dennis. Angka di tahun kematiannya menunjukkan 1898. Senna menoleh memandang Dennis yang masih mematung di sampingnya.

“Jadi, selama ini aku bersama dengan tua bangka?” Senna sengaja mengatakan itu dan berhasil. Dennis tersenyum.

“Benar. Aku sangat tua bangka.” Mereka tertawa sebentar kemudian pertanyaan lain melintas di kepala Senna.

“Kau bukan malaikat bawah kalau begitu?”

Ekspresi Dennis kembali datar. Senna merasa takut telah mengajukan pertanyaan yang salah, tapi Dennis tetap menjelaskannya. Tampaknya dia memang bertekad mengatakan semua tentang dirinya pada Senna hari ini.

“Aku tidak pernah tahu siapa ayahku sampai sesaat sebelum meninggal, ibuku menjelaskannya. Ayahku bukanlah manusia dan itu menjelaskan kenapa aku bisa seperti ini. Ibuku juga menjelaskan kalau nama ayahku adalah Salazar.”

Kali ini Senna-lah yang mematung. Meski dia tidak tahu apapun tentang Senna peradaban pulau ini atau tentang masa lalu Dennis, Senna jelas tahu nama itu. Salazar, raja para iblis. Dennis tersenyum kecut pada Senna.

“Dia memang terkenal ya?” katanya dengan nada aneh. “Setelah ibuku meninggal, aku keluar dari pulau ini bertekad mencari ayahku dan menuntutnya. Meski pada akhirnya aku dan ibuku bisa hidup dengan cukup tenang, tetap saja ada masa-masa berat dimana penderitaan adalah satu-satunya teman. Aku bisa merasakan ibuku sangat kesepian hingga akhir hayatnya. Meski begitu tidak sekalipun dia berkata kalau itu semua karena ayahku. Dia malah mengatakan cita-cita hebat ayahku untuk mempersatukan manusia dan iblis.”

Senna terkesiap kaget. Bukan hanya karena informasi mengejutkan yang didengarnya, tapi juga karena nada jijik dan muak yang terang-terangan digunakan oleh Dennis. “Apa kau berhasil bertemu dengannya?” tanya Senna takut-takut.

Dennis menerawang ke langit yang tertutup awan tebal. “Ya. Aku tidak tahu bagaimana tapi, dia muncul di tempatku berada dan aku mengikutinya. Dia bisa jadi sangat memesona tahu.” Dennis memandang Senna dalam-dalam. “Aku mengikutinya tinggal di neraka selama beberapa waktu. Aku menyaksikan sendiri apa yang dilakukannya pada para roh yang berdosa dan pada para manusia. Aku menyaksikan bagaimana ia menyeret mereka semua ke dalam lubang kegelapan. Jujur saja aku sangat menikmatinya saat itu. Sampai aku mendengar suara ibuku suara hari kemudian. Perasaan bersalah mengusikku dan sejak saat itu jiwa pemberontak memenuhiku. Sayangnya aku tidak tahu bagaimana cara melakukannya.”

Dennis mengalihkan pandangan ke langit lagi.

“Sejujurnya saja aku takut. Selama berabad-abad aku menajuhi diriku dari manusia. Bukan hal yang sulit mengingat mereka menjauhi kami dengan sendirinya. Aku separuh manusia dan lebih penting lagi aku putra Salazar. Para iblis menghormati dan mematuhiku sekaligus ingin membunuhku. Hingga kemudian Andrew datang. Aku tahu dia merasakan kejijikan yang sama denganku terhadap kehidupan di bawah sana. Kami lalu melarikan diri. Mungkin tidak akan berhasil kalau saja Casey dan Marcus tidak datang membantu. Sejak itu kami hidup dalam pelarian. Kami membuat diri kami semirip mungkin dengan manusia dan berusaha untuk bertindak senormal mungkin agar tidak terlalu menarik perhatian. Tetap berusaha menjaga jarak sekaligus bersembunyi.”

Senna tertegun mendengarnya. Dia mencerna semuanya dengan sangat perlahan. Rasanya otaknya menjadi luar biasa lamban. Tapi, pada akhirnya dia sadar kalau rasanya apa yang didengarnya selama ini cukup berbeda. “Tidak terlalu mirip dengan apa yang kudengar selama ini.” kata Senna jujur dengan nada yang diusahakannya terdengar santai.

“Tentu saja. Kami tidak bisa membongkar semuanya begitu saja kan?” sedikit senyum menghiasi bibir Dennis. Mau tidak mau Senna ikut tersenyum.

“Jadi, sebenarnya untuk apa kau mengatakan ini semua padaku sampai mengajakku kemari? Kurasa aku tidak akan terlalu merasa pusing kalau hanya diberitahu versi publik.”

Mendadak Dennis menjadi serius. “Karena aku ingin kau mengambil keputusan yang benar berdasarkan semua pertimbangan pada fakta.” Senna seolah meleleh dalam tatapan dalam Dennis yang hangat. “Tanpa kusadari aku tertarik padamu. Aku ingin kau bersamaku dan anehnya kau tidak menjauhi kami seperti orang pada umumnya. Dan tentu saja kau berhak untuk menolakku. Hanya saja aku berharap kau akan melakukannya berdasarkan semua fakta, bukan karena terpana pada fisikku.”

Mau tidak mau Senna tertawa. “Benar. Tentu kau tidak ingin kalau suatu saat aku terkejut akan suatu hal dan meninggalkanmu. Jadi, karena itu kau memintaku menyetir? Aku jadi bisa meninggalkanmu kalau aku tidak ingin bersamamu.”

Dennis tersenyum sedih. “Ya. Begitulah. Aku senang kau mengerti.”

“Baiklah kalau begitu. Aku akan memikirkan jawabanku dengan sangat saksama dan dengan mempertimbangkan setiap fakta yang ada. Tapi, yang jelas kau juga harus mempertimbangkan fakta-faktaku. Mengingat aku adalah mangsa favorit para masalah dan ketidak beruntungan yang tampaknya mengantri dengan sangat tidak sabar.”

Dennis menariknya dalam pelukannya. “Tentu saja. Aku sudah memikirkan semuanya, bahkan sebelum kau memintanya.”

Senna tersenyum dibahu Dennis kemudian melepaskannya dan mulai berjongkok di makam ibu Dennis. “Kurasa kau sudah sangat lama tidak kemari. Tidak ada salahnya kan membersihkan makam ibumu? Atau kau ingin menghabiskan waktu berdua dengannya?”

Mendadak Senna memandangi Dennis dengan penuh rasa ingin tahu. Dennis menaikkan sebelah alis hitamnya yang sempurna. “Apa?”

Senna menggeleng, memintanya melupakannya saja karena pertanyaan yang terlintas dipikirannya sangat tidak pantas untuk diutarakan. Tapi karena Dennis terus memaksanya, Senna mengatakannya dengan suara yang sangat kecil dan sambil menunduk.

“Apa kau bisa melihat ibumu?”

Dennis mengerti maksudnya dan Senna sangat lega karena Dennis tertawa. Bukan tawa yang dipaksakan, tapi tawa yang tulus. “Tidak. Sayangnya aku tidak bisa. Ibuku langsung dijemput oleh Mikael dan sejak itu aku tidak pernah melihatnya lagi. Meski sebenarnya aku tidak begitu yakin kalau dia akan berada di surga.”

“Kenapa?”

Dennis memutar bola matanya. “Meski ibuku sangat baik dan berjiwa mulia, dia menyerahkan diri pada iblis.” Senna mengerutkan kening mendengar nada bicara Dennis yang seolah menjelaskan bahwa hufuf A adalah vokal yang merupakan huruf pertama dalam abjad pada anak TK. “Kurasa dia sudah terlahir kembali sebagai entah apa. Yang jelas dia tidak mungkin dilahirkan sebagai manusia lagi.”

“Maafkan aku.” Kata Senna. Jelas-jelas pertanyaannya tidak pantas untuk diajukan.

Dennis menggeleng. “Tidak masalah. Aku sudah bertekad untuk mengatakan semuanya jadi silahkan tanyakan apabila ada hal lain yang mengganggu pikiranmu.”

Senna menggeleng juga dan kembali memandangi makam ibu Dennis. Banyak daun daun kering dan pasir yang menutupi nisan, sehingga tidak jelas tulisan-tulisan lainnya selain nama dan tahun meninggal. Bahkan tahun lahirnya saja tidak telihat jelas seandainya Senna tidak menajamkan matanya. Senna menyingkirkan daun-daun dengan tangannya dan matanya tertarik pada sebuah ukiran simbol yang anehnya –tidak seperti tulisan lainnya disekitarnya- terlihat masih sangat baru.

“Apa ini baru ditambahkan?” tanya Senna penasaran.

Dennis mendesah. “Tidak. Ini tanda dari Salazar. Dia sendiri yang mengukirnya jadi ya, tidak terkena efek waktu.” Nada suaranya jelas terdengar tidak senang.

“Maaf.” Senna merasa tidak enak sudah menyinggung topik sensitif seperti ini.

“Tidak masalah. Toh, kau tidak tahu.” Dennis berdiri. “Mau jalan-jalan?” tanyanya sambil mengulurkan tangan.

Senna tersenyum dan menerima uluran tangannya. “Tentu. Tidak akan kulewatkan kesempatan jalan-jalan di abad ke 16.”

Entah bagaimana, tapi Senna berhasil sampai di rumahnya tepat sebelum jam 11 malam. Hari yang dilaluinya dengan sangat luar biasa ini menyita seluruh energinya. Begitu sampai di rumah, Senna langsung mengisi bak dengan air panas dan langsung menenggelamkan dirinya. Tulang-tulangnya terasa remuk karena perjalanan tadi. Tapi, senyum tak pernah lepas dari wajahnya. Dia sebenarnya tidak keberatan kalau Dennis mau tinggal malam ini terutama untuk mendengar jawabannya, hanya saja Dennis terlalu berbudi untuk ukuran malaikat bawah. Dennis akan menunggu sampai pagi untuk bertemu dengan Senna dan mereka akan menghabiskan esok bersama-sama.

Begitu mengenakan piama, Senna langsung naik ke tempat tidur tanpa mengeringkan rambutnya atau memakai krim malamnya. Tubuhnya sudah terasa sangat lelah. Begitu menyentuh bantal, Senna langsung tertidur pulas.

Meski rasanya baru memejamkan mata, Senna terpaksa harus membuka matanya kerena ponselnya terus berbunyi membangunkannya.

“Hallo.” jawab Senna dengan suara parau. Namun, sedetik kemudian senyumnya mengembang mendengar suara di seberang sana. “Dennis.”

Senna mendengarkan selama beberapa saat. Keningnya berkerut samar kemudian rileks kembali, meski terlihat sedikit kecewa. “Tidak apa-apa. Jangan khawatirkan aku. Lagipula kau akan kembali besok sore kan?”

“Baiklah. Sampai jumpa.” Hubungan telepon terputus. Senna mendesah. Perkiraannya untuk melewati hari yang menyenangkan batal sudah. Dennis baru saja mengabarkan kalau mereka berempat harus segera pergi ke Roma. Kenalan terdekat mereka di sana mengalami kecelakaan dan kritis. Senna tidak keberatan kalau mereka harus pergi menjenguk, tapi dia tidak begitu senang karena ternyata Dennis hanya mengabarinya lewat ponsel. Padahal dia bisa saja datang dan mengucapkannya langsung.

Tok Tok Tok

“Sebentar.” Senna merapikan rambutnya sekilas dengan jari dan berlari ke bawah untuk membuka pintu dengan bingung. Dia tidak pernah mendapat kunjungan dari siapapun selama tinggal disini kecuali Dennis. Siapa yang datang sepagi ini?

“Maaf, kurasa aku memang tidak tahan kalau tidak menemui langsung.” Dennis tersenyum malu-malu saat berdiri di depan pintu Senna. Senna mematung kebingungan sesaat dan langsung memeluknya erat. Senna membenamkan wajahnya yang kini terasa panas di dada bidang Dennis. Campuran senang, sedih dan malu beradu dalam perasaannya, berusaha mengambil tempat di ekspresinya. Tapi, ternyata senang lah yang menang karena Dennis terlihat sangat manusia saat tersipu.

“Cepat kembali.” Katanya.

Dennis membalas pelukannya dengan lembut dan melayangkan kecupan hangat di keningnya. “Tentu. Aku akan menelponmu begitu sampai dan jangan terlibat masalah.” Pintanya dengan serius.

Senna mengangguk di dada Dennis. Mereka tetap berpelukan selama semenit penuh kemudian Dennis menghilang dalam sepersekian detik berikutnya. Senna masih berdiri di ambang pintu menatapi hutan yang kosong. Beberapa ekor burung tampak terbang meninggalkan sarang mereka di kejauhan. Mengingat keberuntungannya akhir-akhir ini, tidak salah kan kalau dia berharap lagi untuk kali ini?

Lima menit kemudian, dia sudah berlari-lari kecil di jalan setapak diantara pepohonan. Belum sampai setengah perjalanan, mendadak Senna mendengar suara aneh. Suara yang rendah dan agak mendesis. Bulu kuduknya merinding. Anehnya dia seperti mengenal suara itu.

“Siapa?” tanya Senna pada sekeliling. Pohon-pohon itu menggemakan pertanyaannya, tapi tidak memberikan jawaban padanya. Mendadak suara itu semakin dekat dan menuruti instingnya, Senna berlari kembali ke arah rumah. Sayangnya, mendadak dia tidak tahu arah dan malah berlari tanpa tujuan. Senna tersesat.

“Selenna” suara itu terdengar lagi tepat dari belakangnya. Senna menoleh dan seketika matanya melihat dua garis pupil semerah darah yang bengis menatap lurus padanya. Senna menjerit, tapi tidak ada yang akan membantunya. Tidak ada seorang pun di hutan ini kecuali dirinya dan pemilik pupil merah mengerikan itu.

“Akhirnya kutemukan kau. Sudah saatnya kembali padaku, sayang.” Kata pemilik mata mengerikan itu. Wajahnya tampak sangat halus dan tampan dan begitu menarik untuk di dekati. Senna mungkin akan menghampirinya seandainya saja matanya tidak semengerikan itu.

Senna berusaha lari namun kakinya seakan sudah terpaku di tanah. Sakit yang mendadak menyerang jantungnya, seakan terbakar. Rasa takut dan sakit yang bercampur membuat Senna tidak bisa bergerak. Meskipun rasa sakit itu membutakannya, Senna bisa melihat sebilah pedang panjang yang berilau terkena sinar matahari yang menyembul dari balik dedaunan tergenggam di tangan kanan sosok itu. Senna tahu apa yang akan terjadi selanjutnya dan hanya bisa terdiam menunggu.

Seakan dilakukan dalam gerakan lambat, Senna mendengar tawanya yang melengking mengerikan, tangannya yang terangkat ke depan, pedang itu terbang lurus, membelah udara, tepat ke arah Senna. Mata Senna tak pernah lepas dari pedang itu hingga pedang itu bersarang di dadanya, tepat di jantungnya.

TBC

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s