Povestea lui Angel – storia 4

Cast: Dennis, Casey, Andrew, Marcus, Aiden

Genre : Fantasy

Length : Chaptered

 

Keringat dingin membasahi tubuhnya, napasnya terengah-engah seakan habis berlari maraton. Senna mendekap tubuhnya sendiri dengan tangannya seakan ingin berlindung dari sesuatu yang tak tampak. Kamarnya yang terang karena dia tidak pernah mematikan lampu saat tidur menjadi lebih terang ditambah sedikit cahaya matahari dari jendela yang tertutup. Perlu bebepara menit baginya untuk menenangkan diri dan meyakinkan dirinya bahwa itu hanya mimpi. Sebuah mimpi yang sangat mengerikan. Senna masih bisa melihat sosok berjubah hitam yang tersenyum padanya. Mungkin tidak akan menjadi mimpi buruk kalau hanya sebatas itu, mengingat sosok itu sangat tampan kalau saja matanya tidak semerah darah dan tangannya yang dingin mencengkram Senna, membelitnya bagaikan ular. Suaranya yang mendesis rendah, namun sangat merdu masih terngiang di telinga Senna seakan sosok itu memang masih bicara di sampingnya.

Senna turun dari tempat tidur dan membuka jendelanya. Dia membiaran udara pagi yang sejuk tercampur embun menampar wajahnya dan mengisi paru-parunya. Cukup menyenangkan membiarkan pikirannya yang kacau diluruskan oleh alam. Cuaca Smalltown Hill hari ini berawan. Senna hanya berharap agar tidak ada petir. Itu akan berfek buruk padanya, setelah mimpi buruk tentu saja.

Setelah cukup menikmati udara segar, dia berjalan ke kamar mandi. Senna membiarkan dirinya diguyur air panas. Sebenarnya air dingin lebih baik untuk membantunya menyegarkan pikiran, tapi Senna khawatir bayangan tangan dingin yang mencengkramnya bisa kembali. Setelah mengenakan kaos putih bertopi dan jeans hitamnya, Senna menyiapkan buku-bukunya dan menuju dapur. Dia tidak memilih menu yang rumit untuk sarapan kali ini. Hanya 2 roti panggang dan secangkir coklat hangat. Saat dia mengaduk coklatnya, tubuhya membeku kaget mendengar ketukan di pintu. Senna tidak terbiasa –bahkan tidak pernah- mendapat tamu di rumahnya. Bahkan rasanya tidak ada yang tahu letak rumahnya.

Dengan langkah cemas dia berjalan ke pintu dan membukanya sedikit. Matanya melebar dan dia langsung membuka pintu lebar-lebar melihat siapa yang berdiri di terasnya. “Sedang apa kau disini?” tanyanya dengan suara separu tercekik.

Dennis Althrop berdiri di depan pintunya dengan senyum lebar. Wajahnya tampak senang, sama sekali tidak tersinggung dengan pertanyaan Senna. “Selamat pagi,” sapanya seakan Senna tadi menyapanya, “aku sedang berpikir, mungkin kau ingin berangkat ke sekolah bersamaku pagi ini?”

Senna melongo sambil memegangi pintu. Tampaknya dia tidak akan sadar kalau tidak mendengar suara TING dari dapur, tanda rotinya sudah siap. Dengan gugup, Senna mempersilahkan Dennis masuk. “Ehm, kau mau sarapan?” tanya Senna berusaha sopan. Dennis mengikutinya dan duduk di meja makan.

Dennis tertawa kecil. “Terima kasih, aku sudah sarapan.” Jawabnya. Mata birunya bersinar aneh saat mengatakannya. Mau tidak mau Senna tersenyum juga. Senyumannya terasa aneh karena otot-otot wajahnya terasa sangat kaku.

Senna menghabiskan sarapannya dengan cepat. Dia bahkan tidak mengoleskan butter ke rotinya. Pikirannya tidak terfokus pada sarapan, tapi pada Dennis yang berkeliling mengamati rumahnya. Begitu roti dan coklatnya habis, dia meletakkan piring dan gelasnya di tempat cuci piring, tidak langsung mencucinya seperti biasa, dan menghampiri Dennis yang sedang mengamati salah satu buku-buku di raknya.

“Mitologi?” tanya Dennis saat mendengar langkah Senna mendekat. Ekspresinya aneh sekali.

Senna mengangkat bahu. “Mengingat pengalaman hidupku, rasanya tidak salah untuk tahu kan?” Dennis mengangguk sekali dan kembali tersenyum saat memandang Senna.

“Siap berangkat?”

Untuk kedua kalinya Senna naik mobil Dennis. Kali ini, dia mengamati isi mobil Dennis. Tidak ada tanda-tanda mobil pribadi kecuali beberapa CD yang terletak di dasbord. Mobilnya juga sangat bersih dan wangi meskipun sama sekali tidak ada pengharum mobil. Kursi-kursi di mobilnya tebungkus dengan bahan kulit yang nyaman.

“Bagaimana dengan saudara-saudaramu?” tanya Senna saat mobil Dennis melewati jalan tanah berbatu halus. “Kenapa mendadak hari ini kau menawariku tumpangan?”

Dennis memandangnya sekilas sebelum menjawab, “Mereka pakai mobil yang lain. Aku ingin berangkat bersamamu saja. Kurasa banyak yang ingin kau tanyakan padaku. Aku juga ingin bertanya padamu.” Tambah Dennis kemudian. Tidak lama kemudian mobil sudah menemukan jalan raya dan meluncur mulus dengan kecepatan tinggi.

“Tentu saja. Banyak yang harus kita bicarakan.” Senna menyetujuinya. Memang benar, setelah apa yang mereka alami tadi malam, obrolan fanatastis yang pendek tentu tidak akan memuaskan. “Bagaimana kau bisa menangkapku tepat waktu saat aku jatuh?”

“Aku kebetulan sedang didekat sana,” tampaknya Dennis agak ragu sebelum melanjutkan. “Aku suka menghabiskan sore di puncak gunung. Itu yang kulakukan setiap hari. Kebetulan saat aku ingin pulang, aku mendengarmu menjerit dan ada gemuruh mengerikan. Langsung saja aku terbang dan melihatmu.” Senna tidak perlu menunggu kelanjutannya karena dia sudah tahu.

“Mengapa kau… menghabiskan sore di puncak gunung?” tanya Senna. Pepohonan tinggi yang berdiri di kanan-kiri jalan tampak kabur. Dennis terdiam, membuat Senna merasa telah salah memberikan pertanyaan.

“Hanya ingin memandangi matahari terbenam.” Jawab Dennis beberapa saat kemudian dengan nada tegas mengakhiri pembicaraan.

Senna mengangguk sekali, berusaha mencari topik baru. Suasana mendadak menjadi sangat tegang. “Untuk apa ngebut? Sekarang masih sangat pagi kan?” Senna memperhatikan speedometer dengan jarum hampir menunjuk angka 100.

“Pelan itu menjengkelkan.”

Mereka terus mengobrol dengan topik simple sampai mobil berhenti di parkiran sekolah. Senna tidak pernah datang sepagi ini. Memang jam keberangkatan seperti biasa, tapi dengan kecepatan yang berbeda, waktu ketibaan menjadi lebih cepat. Meski begitu, sudah cukup banyak siswa yang datang. Senna merapikan rambutnya –seperti kebiasaannya setiap akan turun dari mobil- dan keluar. Dennis sudah di sana menantinya. Mereka berjalan berdampingan menuju gedung sekolah. Senna bisa merasakan semua mata mengikuti mereka. Dia berharap tidak terlihat terlalu kikuk, mengingat perbandingannya adalah makhluk yang diciptakan bergerak dengan keanggunan.

“Kenapa kau masuk kemari?” tanya Senna heran, saat Dennis mengikutinya masuk ke kelas geometri. Senna ingat jadwalnya yang sama dengan Dennis hanya dalam pelajaran sejarah di hari Senin.

Dennis mengangkat bahu santai. “Apa aku belum memberitahumu kalau mulai detik ini kita akan mengambil kelas yang sama?”

Senna mendengus pelan dengan alis terangkat. “Seharusnya sudah kutebak mengingat tingkah anehmu pagi ini.”

Dari sekian banyak pandangan mata yang diterimanya dalam beberapa menit terakhir, dua pandangan baru ini yang membuatnya benar-benar merasa tidak nyaman. Yuri dan Aiden yang baru saja memasuki kelas tampak seperti patung troll gagal di ruang seni. Mulut mereka ternganga heran melihat Dennis duduk di samping Senna.

“Hai.” Sapa Senna, berusaha agar suaranya terdengar biasa-biasa saja. Dennis ikut memandangi mereka berdua dan tersenyum, menyapa.

Dengan kikuk, Yuri dan Aiden duduk di tempat mereka, di depan Senna dan Dennis. Mereka berdua tampak seperti orang yang mengalami gangguan otot leher seringnya mereka melempar pandangan penuh tanya ke arah Senna dan Dennis. Mulut mereka bergerak tanpa suara, tapi Senna mengerti apa yang dikatakan mereka.

“Bagaimana penjelasan yang lebih baik kukatakan pada mereka?” bisiknya pada Dennis.

Wajah tampan Dennis tampak berpikir. “Bagaimana kalau katakan saja kita berkencan.” Usulnya dengan tampang polos.

Senna mengernyitkan dahinya. “Tidakkah terpikirkan oleh otakmu yang brilian itu sesuatu yang lain?” Masih dengan tampang polos yang sama, Dennis menggeleng.  Senna mendesah lagi. “Tanggung sendiri akibatnya kalau aku tidak memainkan peran dengan baik. Asal kau tahu saja, aku ini aktris yang payah.”

Senyum lebar mengembang di bibir Dennis, menunjukkan sebuah dimple manis di pipinya. “Sudahkah kukatakan aku mentor yang cukup baik?” Senna memutar bola matanya dan menenggelamkan wajahnya dalam buku geometrinya. Memang tidak ada satu tulisan atau angkapun yang masuk ke otaknya, tapi itu jelas lebih baik daripada harus memandangi wajah Dennis atau wajah orang-orang penasaran disekitarnya.

Pada jam istirahat, dia mengikuti Dennis ke meja keluarganya di pojok kafetaria. Untuk kedua kalinya Senna duduk bersama mereka berempat di meja ini. Kali ini Marcus, Andrew dan Casey tidak repot-repot meninggalkan mereka berdua seperti terakhir kali. Mereka berlima duduk bersama dan Senna cukup bijak untuk membeli sandwich ayam. Lebih mudah dan cepat untuk dihabiskan. Dia ingat bagaimana rasanya diperhatikan ketika makan dan itu sangat tidak menyenangkan.

“Jadi, sekarang kau tahu rahasia kami?” tanya Andrew dengan senyum lebar yang tulus. Wajah tampannya mendadak tampak semakin menyilaukan. Senna hampir saja tersedak sandwich-nya.

“Begitulah. Kuharap kalian tidak keberatan.” Tambah Senna dengan ketulusan yang nyata. Dia berharap bisa lebih mengenal mereka dan mereka tidak menjaga jarak darinya setelah dia mengetahui rahasia kecil mereka.

Andrew mengumandangkan tawa merdu yang menentramkan. “Mana mungkin aku keberatan. Sudah berabad-abad kami hanya bisa bicara rahasia diantara kami sendiri. Kau tidak akan bisa membayangkan betapa bosannya itu.”

Senna tidak bisa meragukan ucapan Andrew sedikitpun. Dia senang setidaknya bukan hanya Dennis yang bersikap seperti itu. Tapi saat matanya melirik ke arah dua lainnya, dia menjadi khawatir. Sejak tadi Casey dan Marcus tidak bicara. Mereka berdua hanya duduk menatapnya, penuh penilaian.

“Senna, bagaimana kalau sekali-kali main ke rumah kami?” tawar Casey mendadak. Kali ini Senna benar-benar tersedak. Dennis menepuk-nepuk punggungnya lembut dan menyerahkan botol sodanya.

“Apa?”

Casey mengulangi pertanyaannya, kali ini ditambah dengan senyuman di akhir kalimat. Dengan masih terkejut, Senna mengangguk, menerima undangan tak terduga ini. “Tapi, dalam rangka apa ini? Pesta penyambutan teman baru?”

Kali ini keempatnya tertawa. “Kurasa kau tidak termasuk kategori manusia aneh sok tahu yang sok dekat dan sok rahasia.” Kata Marcus dengan pandangan penuh arti.

Senna mengernyitkan dahinya. “Apa maksudnya itu?”

Dennis menengahi mereka, “Lupakan saja apa yang dikatakannya kalau kau masih ingin menjaga kewarasan pikiranmu.” Dia tersenyum. “Kami ingin membantumu. Mungkin kami bisa melakukan sedikit riset tentang semua peristiwa yang menimpamu. Bagaimanapun satu ruangan di rumah kami sudah diubah menjadi perpustakaan mitologi. Segala kisah mitos ataupun legenda mengenai dewa, vampir, troll atau makhluk gaib lainnya cukup banyak tersimpan disana.”

Senna menganga keheranan, hampir saja menjatuhkan sisa sandwichnya. “Perpustakaan mitologi?? Di rumah?” ulangnya pelan. Ke empat pemuda dengan tampang seperti dewa itu mengangguk. Senna menenggak sodanya sebelum kembali menghabiskan sisa sandwichnya dalam diam, mendengarkan keempatn malaikat itu bicara dalam suara mereka yang halus dan lembut.

Setelah menghabiskan jam istirahat dengan ke empat malaikat, Senna menuju ke kelas berikutnya. Meski Dennis sudah berkata mereka akan mengambil pelajaran yang sama, tapi untuk pelajaran berikutnya hanya Andrew yang ada.

“Kenapa kau disini?” tanya Senna heran melihat Andrew mengikutinya ke kelas yang dirancang seperti kapel kecil itu. Meski Dennis tidak menjelaskan, Senna bisa mengerti kenapa dia tidak ikut dalam pelajaran ini. Yang membuatnya tidak mengerti adalah bagaimana bisa Andrew muncul disini?

Andrew tersenyum. “Mungkin Dennis belum menceritakannya padamu. Karena inilah aku meninggalkan dunia bawah.” Bisiknya mulai menjelaskan ketika dia dan Senna sudah menempati tempat yang paling belakang dan paling sepi. “Aku tidak suka dengan cara-cara Lucifer. Dia kaku dan membosankan. Caranya mencari kesenangan tidak begitu nyaman bagiku.” Lanjutnya dengan bisikannya yang lembut.

“Saat itu, karena aku terlalu bosan, kuputuskan untuk jalan-jalan di sini, dunia ini. Aku bertemu seorang uskup yang sangat baik hati. Dia langsung mengenali aku ini apa. Tapi dia menyambutku dengan ramah, mengajakku ngobrol di saat senggangnya dan menemaniku berjalan-jalan. Teman-teman uskupnya tidak secakap dirinya, jadi tidak tahu aku ini apa. Meski tidak tahu, mereka memperlakukanku seperti biasa, tidak berbeda dengan manusia lainnya. Hanya uskup itu yang membuatku merasa diterima, nyaman.”

Mr. Cane sudah memasuki kelas dan mendiamkan para murid ketika Senna berusaha membayangkan sosok uskup yang digambarkannya. Cakap dan sangat baik hati. Tapi imajinasinya sangat terbatas. Andrew melanjutkan ceritanya dengan suaranya yang bagai bisikan namun sangat jelas, sehingga hanya Senna yang dapat mendengarnya. “Aku terus mengikutinya hingga akhir hayatnya. Untuk pertama kali itu aku merasa kehilangan. Rasanya sangat menyedihkan kehilangan seseorang yang begitu berharga. Aku ingat kata-kata terakhirnya saat dia hampir meninggal. Kebahagiaanmu adalah dimana hatimu berada.” Mata Andrew tampak menerawang saat dia mengatakan itu. Tapi senyumannya yang menawan kembali menghiasi wajahnya saat dia mengalihkan pandangan pada Senna yang menatapnya tanpa berkedip sejak awal ceritanya.

“Jangan lupa bernapas.” Tambahnya saat menyadari Senna tidak menarik oksigen ke paru-parunya. Senna tersentak kaget dan bernapas normal lagi. Dia bahkan tidak menyadari kalau seluruh sarafnya menjadi kaku, termasuk paru-parunya.

“Jadi, inikah yang kau pilih?” tanya Senna dengan suara kecil, tapi yang terjadi adalah tidak ada sedikitpun suaranya yang keluar. Suaranya bagai tertelan oleh cerita Andrew yang diluar nalar. Seorang malaikat bawah yang bersahabat dengan uskup dan kemudian hidup sesuai dengan nasihat uskup??

Andrew masih tersenyum. “Benar. Disinilah hatiku berada. Aku yakin, sahabatku tidak keberatan.” Tambahnya. Senna tersenyum, akhirnya kekakuannya terangkat.

“Tentu. Tentu dia akan sangat bahagia.” Untuk ini, Senna memiliki keyakinan lebih dari 100%. “Tunggu, apa kau bermaksud menjadi uskup?” tanya Senna mendadak.

Andrew tersenyum aneh. “Sebenarnya itu tujuan awalku, hanya saja, ada keterbatasan dimana diriku bisa merasa nyaman. Seperti yang kau lihat, hanya aku yang mampu mendengarkan kotbah seperti ini.”

Senna tidak bisa konsen pada pelajaran lagi setelahnya. Apa yang baru diketahuinya benar-benar diluar nalar terjauhnya. Dia bahkan tak pernah membayangkannya, dalam mimpi sekalipun, seorang malaikat bawah –yang biasa disebut demon oleh manusia- mau menjadi seorang uskup? Dunia tampaknya sudah berjalan di jalan yang berbeda tanpa sepengetahuannya.

Dennis memperhatikan perubahan pada sikap Senna, yang terdiam sepanjang pelajaran bahkan sampai mereka berdua duduk dalam mobil yang meluncur mulus dan cepat bagaikan peluru di jalan. “Apa yang kau pikirkan?” tanyanya menghentikan jalan pikiran Senna yang kacau.

“Apa?” Senna tersentak. “Oh, kenapa kau memilih hidup seperti ini? Seperti manusia?”

Dennis tampaknya tidak terkejut dengan pertanyaan yang serius seperti itu. “Kau sudah mendengar kisah Andrew dan ingin mendengar yang lainnya kan?” Senna menganguk, tapi Dennis tidak menolehkan kepala untuk menatapnya. Matanya menatap jalanan di depannya, tanpa berkedip. Tangannya mencengkram kemudi dengan erat.

“Kau punya acara akhir pekan ini?” tanyanya mendadak, mengagetkan Senna yang sedang menanti jawabannya dengan cukup waswas.

“Sori?”

“Apa kau punya janji atau sesuatu yang harus kau lakukan akhir pekan ini? Kalau tidak aku ingin mengajakmu ke suatu tempat.” Ajaknya. Kata-katanya sangat tenang, namun Senna yakin dirinya menangkap sedikit kekhawatiran dibaliknya.

“Tidak.”

“Tidak untuk tidak punya janji atau tidak ingin pergi bersamaku?”

Senna mendengus kecil. “Tidak untuk tidak punya janji. Jadi, kemana kita akan pergi Mr. Althrop?”

Senyum kecil menghiasi wajah tampan Dennis yang sedari tadi datar. Mobil sudah melaju lebih pelan, membelok ke jalan tanah berbatu. Mereka hampir sampai di rumah Senna. “Kau akan tahu nanti.” Mobil berhenti tepat di depan rumah Senna, seperti tadi pagi. Senna bersiap-siap turun dan menoleh pada Dennis.

“Apa kau mau masuk?”

Dennis tersenyum. “Tidak. Aku harus melakukan sesuatu.” Dia menambahkan dengan nada menenangkan saat melihat kerutan di dahi Senna. “Bukan sesuatu yang buruk. Tenang saja.”

“Tentu saja. Seorang malaikat yang mencoba hidup sebagai manusia tidak akan melakukan hal aneh tentu.” Senna membuka pintu dan keluar dari mobil. Dia melambaikan tangan dan memperhatikan sampai mobil Dennis menghilang di antara pohon.

 

+++

 

“Sudah mengantar tuan putri dengan selamat?” tanya Casey tanpa mengalihkan mata dari meja makan kosong di hadapannya. Marcus dan Andrew juga mengelilingi meja. Ekspresi mereka bagaikan sedang menghadiri pemakaman kerabat.

Dennis langsung duduk di sofa dan memijit pelipisnya. Dennis memang tidak mungkin mengalami sakit kepala, tapi apa yang terjadi padanya cukup memberinya beban pikiran. “Kurasa aku menyukainya.”

Casey dan Marcus meledak tertawa sementara Andrew mengucapkan selamat padanya. Tapi Dennis tampak seperti orang yang akan dibakar hidup-hidup. “Tapi ini salah. Bagaimana kalau sesuatu yang buruk terjadi. Kalian tahu persis aku ini apa. Kita ini apa!!!” Suara Dennis tercekat.

Andrew meninggalkan meja dan duduk di samping Dennis. “Tenang saja. Setidaknya kalaupun harus berakhir seperti itu, jangan biarkan ada penyesalan. Bukankah itu yang selalu kau katakan. Jangan ada penyesalan.” Dennis tidak berkata apa-apa. Dia hanya duduk bagaikan patung, tak bergerak. Masih sangat segar dalam ingatan, saat Dennis kehilangan yang paling berarti dalam hidupnya. Suatu hal yang akhirnya mengubah seluruh hidupnya.

“Dennis, kita berbeda dari manusia. Tapi ingat,” tegas Andrew dengan suara penuh wibawa yang menenangkan, “bahwa kau juga jauh berbeda dari kami semua.”

TBC

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s