Povestea lui Angel – storia 3

Cast: Dennis, Casey, Andrew, Marcus, Aiden

Genre : Fantasy

Length : Chaptered

 

Keesokan paginya, cuaca mendung menaungi kota. Awan-awan gelap tebal menjadi relawan untuk menaungi kota dari sinar matahari. Orang-orang melakukan aktivitas dengan lebih cepat, seperti berjalan lebih cepat, menyetir lebih cepat dan sebagainya. Khawatir jutaan tetes air yang sedang bersiap di garis start memulai perlombaan mereka ke bumi dengan lebih cepat.

“Cuaca hari ini mungkin akan buruk.” Gumam Yuri dengan muram. Tidak seperti biasa, meski masih cukup lama sebelum bel masuk, kelas sudah hampir penuh dan halaman bisa dikatakan cukup kosong. Tampaknya efek aktivitas cepat juga menyebar bagi para murid Smalltown Hill High.

“Benarkah? Kurasa akan menyenangkan hari ini.” balas Senna. Aiden dan Yuri memandangnya bingung. “Kenapa?”

“Tapi bisa saja badai, bukan hujan saja yang datang.”

Senna balas menatap mereka heran. “Bukannya dengan hujan kita jadi lebih santai. Tinggal saja di rumah dan tidur. Lagipula, tidak perlu khawatir akan kepanasan kan?” Apapun ekspresi ataupun tanggapan Aiden dan Yuri, Senna tetap tampak santai. Bahkan suasana hatinya sangat bagus. Sesekali dia bersenandung tidak jelas. Beberapa menit kemudian, lomba para tetesan hujan menuju bumi pun dimulai.  Mr. Black sampai harus berteriak agar suaranya terdengar sampai ujung kelas. Merasa sia-sia berteriak, dia memutuskan  memberi tugas. Senna mengambil kesempatan ini untuk ke kafetaria lebih cepat. Semakin cepat selesai, semakin cepat boleh meninggalkan kelas. Senna langsung memesan makanan kesukaannya.

Senna merasa senang, setidaknya hari ini dia tidak perlu mengantri lama. Tugas tadi cukup mudah dan bisa diselesaikannya dengan cepat. Sejak hari pertama dia menginjakkan kakinya di Smalltown Hill High, dia tidak pernah bisa mendapatkan langsung pesanannya tanpa mengantri.  Senna baru saja akan duduk saat matanya menangkap 4 sosok patung dewa terindah di dunia. Yang membuatnya lebih tercengang adalah keempatnya sedang menatapnya dan salah satunya mengangkat tangan dan menggerakkan telunjuknya, memanggil Senna. Melihat Senna yang tidak merespon, Dennis berdiri dan menggerakkan telunjuknya sekali lagi. Senna melihat ke sekeliling dan tidak menemukan siapapun selain dirinya jadi dia yakin, kalau yang dipanggil oleh Dennis adalah dirinya. Dengan langkah cemas dan ragu dia mendekati meja Dennis dan saudara-saudaranya.

Seolah menghargai kehadiran seorang tamu  penting, Casey, Andrew dan Marcus ikut berdiri. Bahkan Andrew menarikkan sebuah kursi untuk Senna. “Ada apa ini?” tanya Senna sambil memperhatikan mereka satu persatu dengan penuh penilaian.

“Saudara-saudaraku ingin mengenalmu juga. Tidak masalah kan? Kurasa tidak enak kalau kau makan sendirian.” Jawab Dennis sambil tersenyum. Kalau saja Senna tidak pernah melihat senyum yang lebih dari ini, jantungnya pasti akan jungkir balik.

“Kenalkan namaku Casey. Ini Andrew dan Marcus.” Masing-masing tersenyum saat namanya di sebut, meski Senna yakin, Marcus hanya tersenyum setengah hati.

Senna hanya menggangguk. “Lalu?”

Keempatnya bertukar pandang sesaat lalu tersenyum. “Tidak ada. Hanya saja kami merasa ada yang menarik darimu.” Kata Marcus langsung pada topik. Senna menatapnya kaget dan bingung.

“Maaf?”

“Tidak ada apa-apa.” Jawab Dennis cepat. Senna memperhatikan dia melempar pandangan yang entah apa artinya pada saudara-saudaranya.

“Kalian tidak makan?” tanya Senna setelah beberapa saat yang canggung. Dia memperhatikan tidak ada apapun di atas meja kecuali makanan Senna. Bahkan air putih atau soda pun tidak ada.

Seperti sedang menahan tawa, “Hanya tidak selera.” Jawab Casey. Senna mengernyitkan dahi bingung. “Kalau begitu tidak masalah aku makan disini?”

“Tentu. Silahkan saja.” meski Senna memilih untuk makan sendirian saja daripada duduk bersama 4 orang yang sama sekali tidak makan dan malah memperhatikannya. “Ada yang salah denganku?” tanya Senna akhirnya karena sudah tidak tahan dengan suasana canggung yang aneh itu.

Casey melirik Andrew dan Marcus. “Kami harus ke perpustakaan. Ada yang harus diselesaikan.” Katanya cepat. Ketiganya bangkit berdiri dan pergi dengan langkah yang sangat elegan. Senna memperhatikan mereka sampai menghilang dibalik pintu kafetaria.

Diluar hujan masih mengguyur deras, memecah keheningan diantara mereka. “Jadi, apa yang akan kau lakukan hari ini?” tanya Dennis mendadak, mengalihkan perhatian Senna dari bayangan saudara-saudaranya.

“Hmmm??”

“Kau menyukai hujan.” Kata Dennis. Nadanya saat mengucapkan menyatakan sebuah pernyataan seakan Dennis tahu pasti itu benar.

“Lalu?” Senna melipat kedua tangannya di dada dan bersandar di kursi, jengkel. “Ada masalah dengan itu? Apa aku tidak boleh menyukai hujan karena tampaknya isi kota ini tidak menyukainya?” suara Senna mulai meninggi.

Bibir Dennis bergerak aneh, seakan sedang bertahan untuk tidak tertawa. “Tidak. Hanya saja ini pertama kalinya kau menunjukkan emosimu.” Senna tertegun. Memang tadi dia merasa jengkel dan tanpa sadar dia mengeluarkan semuanya.

“Makananmu tampaknya sudah dingin.”

            Seakan baru menyadarinya, Senna langsung menyendokkan sesendok besar maccaroni ke mulutnya. Dia terus makan tanpa mengangkat pandangan dari piringnya. Dennis tampaknya menikmati saat-saat melihat Senna makan. Dia mendendangkan lagu yang asing bagi Senna, namun sangat menenangkan.

Beberapa saat kemudian, suara-suara berisik mulai memenuhi kafetaria. Sekarang sudah jam istirahat dan murid-murid, baik senang ataupun tidak dengan hujan, tetap butuh makan siang. Tapi tampaknya baik Senna maupun Dennis tidak menyadari banyaknya yang berhenti untuk melihat ke arah mereka dengan mulut ternganga.

“Jadi apa sekarang kau akan mengatakan yang sebenarnya padaku?” tanya Senna pada Dennis setelah dia selesai makan.

Dennis memandangnya dengan kening berkerut. Matanya tajam. “Tadikan sudah kujelaskan. Kau tidak percaya padaku?”

Senna menggeleng tanpa ragu. “Aku tidak percaya.”

Dennis menghembuskan napas kesal. “Apa yang akan membuatmu percaya?”

“Katakan yang sejujurnya. Mudahkan.” Senna mengangkat bahu. “Kau mengikutiku atau tidak?”

Mata mereka bertatapan selama beberapa saat. Bahkan tidak ada yang berkedip diantara mereka.

“Teman-temanmu sepertinya sedang menunggumu.” Kata Dennis tiba-tiba. Dia berdiri, mengambil tasnya dan bersiap-siap pergi. Dengan kesal Senna melakukan hal yang sama. “Aku tidak akan melepaskanmu.” Tegas Senna sebelum berbalik sambil membawa nampan kosongnya.

 

+++

 

Keesokan harinya cuaca masih mendung, meski tidak hujan. Suhu masih terasa diingin. Genangan air di jalanan pun belum mengering. Senna memarkir mobilnya di ujung parkiran dan menyetel musik klasik favoritnya sambil memejamkan matanya. Meski sudah sampai, dia masih tidak ingin keluar dari mobilnya. Kepalanya masih dipenuhi berbagai hal. Obrolan anehnya dengan Dennis Althrop, ratusan pertanyaan dari Aiden dan Yuri serta jutaan pandangan heran dan kagum dari murid-murid sekolah kemarin membuatnya malas ke sekolah. Hari ini, untuk pertama kalinya suasana hati Senna buruk di saat hari mendung.

Ketukan kecil dikaca mobilnya mengembalikannya dari jalan pikirannya yang rumit. Dia terkejut melihat siapa yang mengetuk kacanya. Dengan cepat, Senna mematikan musik dan keluar dari mobil. “Apa yang kau inginkan sekarang?” tanya Senna langsung dengan ketus.

Seakan tidak menyadari nada jengkel Senna, Dennis berdiri dengan senyuman ramah. Sweter hitam dan jas serta jins putihnya yang membuatnya tampak bagaikan model papan atas pasti akan membuat siapapun meleleh, namun itu tidak berlaku bagi Senna, apalagi disaat suasana hatinya sedang buruk seperti sekarang. “Apa kau mau ke kelas bersamaku hari ini?”

Senna benar-benar tidak tahu bagaimana eskpresinya saat mendengar pertanyaan itu. Beberapa bagian otaknya mengataan dia sedang bermimpi, beberapa lagi mengatakan itu hanya ilusi, beberapa mengatakan pemuda dihadapannya gila dan sisanya mengatakan bahwa dirinyalah yang gila. Setelah akhir pembicaraan mereka yang aneh kemarin, apakah mungkin bagi Dennis untuk mengetuk jendelanya, berdiri di hadapannya dengan senyum menawan dan mengajaknya ke kelas bersama?

“Apa?”

Dengan sabar Dennis mengulangi ajakannya. “Apa kau mau ke kelas bersamaku hari ini?”

Senna mengumpulkan kembali kesadarannya. Dia menggeleng kecil beberapa kali, kemudian berbalik bertanya, “Memangnya kita punya kelas yang sama hari ini?”

“Tidak. Hanya saja aku melihatmu sedang tertidur di mobil. Warna wajahmu hari ini sangat pucat. Aku khawatir kau tidak akan sampai ke kelas kalau tidak dikawal seseorang.”

Mendadak Senna tersenyum lebar, maju selangkah mendekati Dennis. Senna harus mendongak agar bisa menatap mata Dennis. “Baik sekali dirimu. Tapi…” mendadak ekspresi Senna berubah. Senyumannya berubah menjadi seringai keji dan kata-katanya menjadi dingin. “Tidak, terima kasih.”

Kali ini senyuman menghilang dari wajah Dennis. Matanya memancarkan ketegangan saat mengikuti punggung Senna yang semakin menjauh darinya. Sesaat tadi, dia dengan sangat jelas merasakan aura dingin mengerikan dari tubuh Senna dan ada kelebatan bayangan sayap di punggungnya.

 

+++

Setelah menjalani hari yang menyebalkan, Senna memutuskan berjalan-jalan di hutan di sekitar rumahnya dan bila mungkin melihat matahari terbenam di ujung tebing. Keluar rumah di saat seperti ini mungkin berbahaya, tapi dia butuh udara segar. Tanah-tanah di hutan masih lembek, akibat hujan yang mengguyur kemarin. Daun-daun basah menyapanya dengan lembut. Meski dia jarang berjalan-jalan di hutan ini, tidak sulit untuk menentukan arah. Kakinya hanya perlu mengikuti jalan setapak kecil berlumut yang dikelilingi rumput-rumput setinggi pinggangnya. Dia mungkin masih bisa melihat matahari di atas kepalanya, seandainya saja pohon-pohon tidak tumbuh begitu rapat di atas kepalanya.

Entah sudah berapa lama dia berjalan, matahari mulai sedikit terlihat. Pepohonan mulai jarang dan jalan setapak mulai semakin lebar. Di kejauhan, dia bisa melihat setitik cahaya dan suara air yang mengalir mulai tertangkap telinganya. Langkah kakinya semakin cepat. Senyumnya mengembang di dekat tebing, di mulut hutan. Hamparan pegunungan dan lembah hijau di dasar tebing, serta air terjun yang menyatu dengan sungai besar yang membelah lembah benar-benar menyegarkan pikirannya. Tangannya terentang lebar, matanya terpejam. Namun kesenangannya tidak bertahan lama. Suara gemuruh dari belakangnya mengagetkannya. Entah apa yang terjadi, pepohonan yang sedari tadi berdiri kokoh mendadak tumbang bagaikan kartu domino. Tidak ada yang bisa dilakukannya. Kepanikan melumpuhakan otaknya. Bisa saja dia berlari ke samping karena pepohonan yang roboh membentuk garis lurus, tapi kakinya malah berlari ke arah tebing. Senna melompat.

Senna memejamkan matanya, pasrah. Ternyata keberuntungannya untuk selamat sudah habis. Dia tidak mungkin bisa menghindar sekarang. Dia hanya bisa berharap tubuhnya tidak akan hancur, sehingga mudah untuk dimakamkan. Well, itupun kalau ada yang menemukannya. Dia tinggal di luar wilayah kota dan sepi. Hutan ini pun jarang didatangi orang.

Senna merasakan saat tubuhnya menabrak sesuatu yang dingin. Dia hanya menunggu hingga rasa sakit datang, namun tidak ada yang dirasakannya selain dingin. Apakah ini rasanya mati?? Tidak bisa merasakan sakit? Namun, perlahan kesadarannya terkumpul. Arah angin yang menerpanya berbeda. Hidungnya mencium aroma fressia dan Iris yang tajam, memabukkan. Perlahan Senna membuka matanya dan seketika terbelalak. Matanya menangkap 2 buah sayap putih yang sangat anggun, mengepak lembut. Tak lama kemudian, mereka mendarat. Tapi Senna masih tidak bisa mengalihkan matanya dari sayap-sayap itu.

“Kau tidak apa-apa?” tanya sebuah suara yang sangat lembut dan sangat familiar. Perhatian Senna teralih dari sayap-sayap ke wajah orang yang sedang menggendongnya. Untuk kesekian kalinya matanya terbelalak. “Kau terluka?” tanya Dennis lagi dengan agak waswas.

“Tidak.” Bisik Senna. Suaranya parau. Dennis menurunkannya dari lengannya. Senna hampir terhuyung begitu kakinya menginjak tanah. Mungkin tubuhnya tidak jadi menghantam dasar lembah, tapi matanya dihantam pemandangan luar biasa.

Dennis mengerti apa yang membuat Senna begitu terkejut. Bukan pengalaman nyaris matinya lagi, tapi apa yang ada di punggungnya. Dennis menghela napas, memejamkan matanya sejenak dan sayap-sayap itu memudar, menghilang, meninggalkan dua lubang di belakang kemejanya. Tidak ada yang bicara di antara mereka selama beberapa detik.

“Terima kasih.” Ucap Senna tulus dengan suara yang lebih tegas, seperti biasa. “Tadi kupikir aku sudah dijemput malaikat.”

Dennis tidak tahu harus berkomentar apa. Senna terduduk di atas rerumputan. Matanya tertuju ke matahari yang sedang terbenam. “Apa yang akan kau lakukan sekarang? Menghapus ingatanku atau menjelaskannya padaku?” tanya Senna dengan tenang.

Dennis tertegun. Dia berdiri mematung ditempatnya. “Lakukan saja. Itu aturannya kan? Manusia tidak boleh melihat sayap kalian.”

Dalam setengah detik, Dennis sudah berjongkok di hadapan Senna, menutupinya dari sinar merah lembut. Sorot matanya menunjukkan ketidakpercayaan dan keterkejutan yang nyata. “Bagaimana kau tahu?”

Senna balas menatapnya tajam. “Apakah kita akan saling jujur atau tidak?”

“Kurasa demikian.”

Senna tersenyum kecil. “Kau bukan yang pertama kulihat.” Senna menggerakkan tangannya menyuruh Dennis duduk di sebelahnya. “Orangtua ku pernah bercerita. Saat aku lahir, jantungku tidak berdetak. Mereka sudah siap untuk memakamkanku saat muncul sesosok makhluk dengan jubah hitam. Dia menawarkan kehidupan untukku. Orangtuaku menyetujuinya.” Senna tersenyum miris. “Aku tidak percaya saat mereka menceritakannya padaku. Aku hanya menganggap itu sebagai cerita agar aku lebih menghargai hidupku. Tapi saat aku berumur 6 tahun, untuk pertama kalinya aku mengalami bencana. Bis sekolah yang kunaiki mengalami kecelakaan. Saat aku tersadar, sekujur tubuhkku sakit dan tak bisa digerakkan. Tapi, kesadaranku cukup untuk menyadari ada sesosok pria yang berdiri tak jauh dariku. Aku masih ingat bagaimana jubah hitamnya yang panjang menempel indah di tubuhnya atau bagaimana dua sayap indah besar yang menempel di punggungnya, atau bagaimana aroma Orchid yang lembut dan menenangkan yang membuatku melupakan rasa sakitku sekejap.”

Mereka terdiam sesaat. Dennis masih mencerna setiap perkataan Senna sementara Senna tampaknya benar-benar tenggelam dalam kenangannya. “Lalu berikutnya yang kuingat aku terbangun di kamar rumah sakit. Orang tuaku tertidur di sofa dekat tempat tidurku dan sosok itu kembali. Kali itu aku melihat bagaimana wajah tampannya yang pucat tersenyum lembut padaku. Tangannya yang dingin mengelus kepalaku dengan lembut. Rasa pusingku seketika hilang. Maaf, tapi kau harus melupakan ini. Itu yang dikatakannya padaku, tapi entah bagaimana dia malam membiarkanku ingat. “

“Mungkin, karena kau akan menjadi sepertiku, suatu hari nanti. “ sebenarnya itulah yang dikatakan sosok itu saat itu, tapi entah apa penyebabnya, Senna tidak mengatakannya pada Dennis.

Dennis yang tidak biasa dikagetkan tidak tahu harus memberi tanggapan seperti apa. Otaknya yang sudah bekerja 100 kali lebih cepat dari otak manusia normal tetap tidak sanggup mencari tanggapan yang sesuai untuk apa yang baru didengarnya. Tampaknya Senna mengerti dengan keadaan Dennis. Dia meletakkan sebelah tangannya di bahu Dennis, menepuknya pelan.

“Kalau malaikat bingung, dunia bisa kacau.” Guraunya. Berhasil. Dennis tersadar dari rajutan pikirannya yang kacau. Dia tersenyum miris.

“Kau salah.” Senyumannya bertambah miris saat melihat wajah bingung Senna. “Aku bukan malaikat. Pernahkah kau berpikir kalau bukan hanya malaikat yang punya sayap?”

Dengan jujur Senna menggeleng. Dennis tampak ragu sejenak untuk melanjutkan. “Saatnya untuk saling jujur?” dia mengingatkan.

“Kami adalah monster.” Jelas Dennis dengan kecut. Wajah Senna datar. Saat Dennis menggunakan kata kami, Senna yakin itu berarti dirinya dan 3 saudaranya. “Manusia menyebut kami dyfeds, tapi kami sendiri sebenarnya tidak pernah menyebut diri kami dengan istilah apapun. Yang ada hanya malaikat atas dan bawah. Kau tahu kami yang mana kan?” Senna mengangguk samar. Dengan pengertian monster yang dimaksud sudah pasti yang dimaksud Dennis adalah malaikat bawah.

“Kami berempat punya masalah pribadi dan kabur ke dunia ini, berpindah setiap beberapa tahun. Kami sudah lama coba berbaur dengan manusia, tapi tidak pernah berhasil baik. Insting alami setiap makhluk hidup adalah menjauh saat melihat kami.” Dennis tersenyum kecil, “Dan sekarang, disinilah kami. Hidup sebagai anak SMA yang mandiri, tanpa orangtua.”

“Kalian tidak punya hubungan keluarga?” tanya Senna mengingat nama belakang mereka berbeda.

“Kami semua bersaudara, tapi jenis saudara yang berbeda dengan manusia. Kami semua sama-sama..” Dennis tidak mengucapkan kata itu, “dan itu alasan kami bersaudara.”

Senna terdiam sambil memutar ulang pertemuan pertama mereka. Wajah rupawan, warna mata yang mencolok, kulit pucat dan dingin, gerakan anggun, kalau bisa ditambahkan, hawa mengerikan yang mengintimidasi. Well, semua memang tidak bisa dijelaskan dengan logika.

“Apa kau takut padaku sekarang?” tanya Dennis setelah beberapa saat, menebak alasan diam Senna.

“Tidak.” Jawab Senna dengan tegas dan jujur. “Meski kau mengaku sebagai malaikat bawah atau  monster, aku malah melihat malaikat atas.” Senna tersenyum hangat saat melihat ketidakmengertian di wajah sempurna Dennis. “Tidak ada monster yang akan menolong orang, bahkan lebih dari sekali kan?”

Mereka terdiam lagi sambil menikmati siraman cahaya kemerahan yang lembut. Tidak ada yang memecah kesunyian ini. Tidak ada yang ingin melanjutkan pembicaraan tadi. Meski bila dipikirkan, pembicaraan itu sesungguhnya jauh dari selesai, namun bagi mereka tidak ada penjelasan yang lebih penting selain yang sudah dikatakan.

“Kuantar kau pulang.” Tawar Dennis setelah hari benar-benar gelap.

“Terima kasih. Kurasa aku tidak begitu tahu jalan pulang dari sini.” Senna tersenyum dalam gelap. Dia tidak tahu dimana mereka mendarat tadi sehingga tidak berani mengambil resiko terhadap hidupnya yang selalu terancam bahaya. Kemungkinan tersesat dan diserang binatang buas benar-benar tinggi, meski sebenarnya bahaya lebih besar karena dia berduaan dengan malaikat bawah. Namun, hal itu tidak terbersit sedikitpun di otak Senna. Sejak pertama melihat Dennis pun, perasaan terintimidasinya hanya sesaat dan langsung tergantikan dengan perasaan familiar yang anehnya membuatnya senang. Sebagian dari dirinya meneriakkan bahaya, namun karena pikirannya sudah tidak bekerja dengan normal lagi –dalam versi Senna tentunya- dia mengabaikannya.

Perjalan pulang bisa dibilang cukup menyengkan. Dennis memberinya kebebasan memilih jenis  tumpangan udara atau darat dan Senna memilih udara. “Toh, aku sudah melihatnya, tidak masalah lebih dari sekali kan?” tanyanya.

Udara malam terasa dingin. Mungkin sudah hampir memasuki musim gugur, tapi baik Senna maupun Dennis tidak biasa memperhatikan kalender. Senna menggunakan kesempatan terbang kali ini dengan lebih baik. Bukannya memandangi sayap-sayap Dennis –meski matanya berkali-kali tertuju ke sana- Senna menikmati pemandangan Smalltown Hill dari angkasa. Mereka melintasi gunung dan di kejauhan terdapat sebuah lembah cahaya yang sangat indah, pusat kota.

“Ehm, dimana rumahmu?” tanya Dennis saat mereka mendekati tebing tadi. Karena gelap, Senna tidak bisa melihat bagaimana kerusakan yang ada atau berapa banyak pohon yang tumbang. Tapi sekilas Senna melihat kengerian di mata Dennis dan tampaknya itu sudah cukup menjelaskan.”

“Di sana.” Tunjuk Senna pada sebuah atap kemerahan di tepi hutan di utara kota. Mereka mendarat di halaman. Keadaan masih gelap karena lampu di rumah Senna masih belum dinyalakan. Namun, sedikit cahaya bulan sudah cukup untuk menunjukkan rumah kecil berlantai satu yang sederhana namun terlihat sangat nyaman itu. Dinding luarnya yang berwarna krem lembut dengan sepetak kecil tanaman menambah kesan ramah rumah ini. Sebuah ruangan besar berpintu besi yang terutup di sisi rumah menunjukkan mobilnya terparkir di sana.

“Kau mau masuk?” tanya Senna, bertanya sopan.

“Mungkin lain kali. Kalau kau mengijinkan.” Tolak Dennis sambil tersenyum. Cahaya bulan membuat Senna bisa melihat deretan gigi putih sempurnanya di wajah pucat Dennis.

“Tentu saja. Datang saja kapan pun.”

Dennis mengangguk. “Kalau begitu aku permisi.” Dia melambaikan tangan. Senna yakin akan melihatnya terbang lagi, tapi ternyata tidak. Dennis berjalan ke arah hutan, tampaknya kali ini Dennis memilih jalur darat. Senna tetap berdiri di tempatnya hingga bayangan Dennis benar-benar menghilang di balik gelapnya malam.

Advertisements

One thought on “Povestea lui Angel – storia 3

  1. Aaaaa apa ini! *banting kyuhyun* *mati* kurang panjang! Aku penasaran ini jadinya! Tanggung jawab ga! *seret sungmin* *eh?* pokoknya lanjutin! Cepet ga pake lama! *ngancem* *ditendang*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s