Povestea lui Angel – storia 2

Cast: Dennis, Casey, Andrew, Marcus, Aiden

Genre : Fantasy

Length : Chaptered

Setelah dipikir-pikir judulnya ganti ini aja de… ^^ Aneh si emang, tapi ya sudahlah… Selamat membaca..

Hari berikutnya berjalan seperti  biasa. Semua terasa normal setidaknya bagi Senna. Dia tidak mendapat kelas yang sama lagi dengan Dennis Althrop kecuali dalam sejarah. Itu berarti mereka hanya akan bertemu 1 kali dalam seminggu. Tidak terlalu buruk, batinnya. Atau memang mungkin bisa membaik bila kesan keliru pada pertemuan pertama mereka bisa diubah. Tapi tentu, Senna tidak pernah berharap lebih.

Setiap kelas yang diikutinya tidak buruk. Setengahnya karena dia memang tidak memiliki masalah dalam hal akademis, meski tidak jenius, tapi cukup diatas rata-rata. Dia juga sudah mendapat 2 orang teman, meski sebenarnya cukup banyak yang berusaha mendekat, tapi dengan ramah dia menjaga jarak dengan mereka. Sebenarnya sejak awal kepindahannya dia bertekad untuk tidak terlibat dengan siapapun mengingat kemungkinan buruk yang akan menimpanya. Tapi Aiden dan Yuri cukup sulit untuk dihadapi dengan jarak. Mungkin dia akan memberi pengecualian untuk mereka berdua.

Dari Senin, kembali ke Senin. Artinya sudah seminggu dia pindah kemari, dan artinya sudah saatnya bertemu dengan Dennis. Sejak terbangun dari tidurnya tadi pagi, Senna sudah memanjatkan doa yang cukup panjang agar hari ini mereka bisa bertemu dalam suasana yang lebih nyaman. Mengingat ada keanehan dalam pertemuan pertama mereka. Dan demi semua yang kudus, doanya terkabul.

Seperti minggu lalu, Dennis sudah ada di bangkunya saat Senna masuk. Tapi dengan keajaiban doanya, Dennis tersenyum ramah dan menyapanya dengan suara yang lembut menggoda. “Kenalkan, namaku Dennis Altrhop. Maaf untuk minggu lalu, aku sedang tidak enak badan.” Katanya sopan. Meski dia tersenyum, matanya tampak waspada.

Senna mengamatinya sesaat dan berpikir. Sebenarnya yang bertingkah tidak sopan minggu lalu adalah dirinya.“Senna Clyne. Aku juga minta maaf karena tidak sopan.”

Mereka tidak bicara apapun lagi selama beberapa saat sampai Aiden dan Yuri tiba. Mereka berdua mengajak Senna ke kota sebelah untuk belanja. Meski tidak melihatnya, tapi Senna bisa merasakan pandangan menusuk dari balik punggungnya. Tapi dia coba mengabaikannya. Tidak ada yang ingin dirinya menjadi paranoid pada minggu ke dua di sekolah baru.

“Barang-barang disana lebih banyak dan lengkap. Harganya juga tidak terlalu tinggi. Ayolah. Kau baru di wilayah ini kan? Jadi ada baiknya kau berjalan-jalan.” Bujuk Yuri. Senna sebenarnya tidak ingin terlibat jauh lagi dengan mereka, tapi keingginan untuk melihat tempat baru, belanja dan sebagainya benar-benar mengalahkannya.

“Baiklah. Besok sepulang sekolah. Akan kutinggalkan mobilku di sekolah.”

“Kenapa tidak kujemput saja saat pagi. Aku juga bisa mengantarmu pulang.” Tawar Aiden.

Dengan terburu-buru Senna menggeleng, menolak tawarannya. “Tidak. Tidak terima kasih. Aku akan datang dengan mobilku dan kutinggalkan disini. Antar saja aku ke sekolah saat pulang. Rumahku jauh sementara kalian tinggal tidak jauh dari sini kan?”

“Tapi..”

“Seperti itu atau kalian pergi saja berdua.”

Aiden dan Yuri bertukar pandang. Sebenarnya bisa saja mereka memilih pergi berdua karena siapa Senna samapi berani memberi syarat seperti itu? Dia hanya anak baru. Tapi mereka berdua memberi jawaban yang tidak terbayangkan oleh Senna. Mereka berdua memilih mengikuti syaratnya daripada Senna tidak ikut.

Kehadiran Mr. Gates membubarkan pembicaraan mereka. Saat menoleh, Senna melihat Dennis sedang menatapnya. “Ada apa?” tanyanya bingung. Tidak seperti kali pertama saat Senna tertegun melihatnya, kali ini dia merasa sangat normal bicara santai pada Dennis. Mungkin karena kesan kedua lebih baik?

Dennis menggeleng pelan lalu tersenyum kecil. Tapi ternyata rasa penasarannya cukup besar. “Kenapa kau memberi syarat seperti itu?” tanyanya pelan saat Mr. Gates sedang meminta opini siswa di depan mengenai revolusi Amerika.

Senna mengerjapkan matanya bingung. Pemilihan timing dan topik yang aneh pikirnya. “Tidak apa-apa. Hanya ingin saja. Ada masalah?” Senna mengalihkan matanya pada bukunya. Tapi pikirannya tidak di sana. Ternyata perasaannya tentang pandangan menusuk tadi adalah karena pemuda di sampingnya ini sedang mendengarkan pembicaraan mereka.

“Apa kau juga akan menolak bila ada yang memberi tumpangan untuk pergi dan pulang sekolah?”

Senna menoleh terlalu cepat padanya. “Apa maksudmu?”

Dennis tersenyum simpul dan mengangkat bahunya. Senna mengamatinya beberapa detik sebelum mengalihkan pandangannya kepada Mr. Gates.

“Kalian telihat akrab tadi.” Komentar Yuri saat dirinya, Aiden dan Senna berjalan ke kafetaria.

“Benarkah?”

Yuri mengangkat bahu. “Setidaknya aku tidak pernah melihatnya bicara pada siapapun sebanyak dia bicara padamu.”

Keesokan harinya berlangsung seperti yang mereka rencanakan. Setelah meninggalkan mobilnya di sekolah, Senna pergi bersama Aiden dan Yuri. Mereka mendatangi banyak sekali toko. Aiden dengan sabar menemani kedua gadis itu berbelanja dan memberi komentar dari lubuk hatinya yang terdalam. Senna merasa senang karena baru kali ini  dia mendapat kesempatan untuk pergi bersama teman seperti ini.

“Hei, kalian makan saja duluan. Aku ingin membeli beberapa barang lain di sekitar sana.” Kata Senna saat mereka keluar dari salah satu butik kecil. Aiden membawakan beberapa kantong belanjaan Yuri ke arah mobil.

“Kita pergi bersama saja. Setelah itu baru makan.” Tawar Yuri.

“Tidak. Kalian duluan saja. Tidak akan jauh dan tidak akan lama.” Tegas Senna

“Kau yakin?”

Senna tersenyum. “Kurasa aku tahu  bagaimana cara menanyakan arah atau menggunakan HP untuk keperluan darurat.”

“Baiklah. Hubungi saja kami kalau kau tersesat. Kami akan menunggumu di restoran italia di tikungan.”

Dengan segera Senna melangkahkan kakinya ke arah yang berbeda dari mereka. Sebenarnya Senna tidak punya tujuan jelas untuk pergi, hanya saja dia ingin melihat-lihat lebih jauh tentang kota ini, tidak hanya toko-toko yang mereka kunjungi dan kalau mengatakan alasan sebenarnya pasti mereka berdua merasa tidak enak karena sepanjang siang Senna diharuskan mengikuti mereka.

Senna berjalan santai sambil menikmati angin yang sejuk. Matahari sudah berwarna orange terang dan lampu jalan sudah mulai menyala. Namun sepertinya beberapa toko masih tidak menyadarinya karena lampu teras masih belum dinyalakan. Setelah 10 menit berjalan tanpa arah, ada sebuah toko di seberang jalan yang menarik matanya. Setelah memastikan tidak ada kendaraan di jalan, dia mulai menyebrang.

Mendadak semuanya bagaikan video yang diperlambat. Bunyi klakson yang memekakkan telinga dan sorot lampu yang menyilaukan matanya membuatnya bingung. Dia bahkan tidak menyadari teriakan ngeri dari orang-orang disekitar ataupun saat tubuhnya di dorong dengan keras hingga menabrak trotoar di seberang. Bunyi DUAKK yang keras dari mobil yang menabrak tiang listriklah yang menyadarkannya. Dengan linglung dia menyadari dirinya tidak sendirian.

“Hei, kau tidak apa-apa?” tanya sebuah suara yang terdengar panik. Senna merasakan napas yang dingin di sekitar wajahnya. Itu cukup membantunya untuk menyegarkan pikirannya yang sempat berkabut. Dengan perlahan dia bangkit berdiri. Orang itu membantu memapahnya.

“Tidak apa-apa. Terima kasih.” Jawab Senna. Dia sangat terkejut mendengar suaranya sendiri. Begitu tenang dan ramah. Dia memandangi kerumunan orang yang mengelilingi mobil itu. “Kurasa tadi tidak ada mobil saat aku menyebrang.”

“Memang tidak ada. Kurasa supirnya mabuk atau rem nya blong.” Jawab suara itu. Otak Senna yang sudah bekerja dengan lebih baik mengenali suara itu. Namun disaat yang bersamaan dia juga khawatir kalau otaknya benar. Dengan perlahan dia mengalihkan pandangannya dari kerumunan orang ke arah sumber suara. Atau lebih tepatnya ke pemilik lengan yang masih memeganginya.

Napas Senna tercekat. Bukan karena panik nyaris tertabrak, melainkan karena orang yang tidak diduga kehadirannya malah muncul disampingnya, memeganginya, menyelamatkannya. “Dennis?”

Dennis menaikkan sebelah alisnya bingung mendengar nada bertanya dalam suara Senna. “Kau kira siapa? Orang asing?”

Belum sempat Senna menjawab, dirinya menyadari bahwa mereka tidak sendirian. Seperti mobil tadi, dirinya –mereka- juga sedang dikelilingi orang-orang yang penasaran. Kekhawtir masih terpancar jelas dari raut mereka semua. “Kau tidak apa-apa, Nak?” tanya seorang wanita tua dengan suara bergetar.

Senna tersenyum meyakinkan. “Tidak apa-apa. Terima kasih.” Kemudian menambahkan dengan bisikan cepat dan tajam, “Cepat pergi dari sini.”

Dennis ternyata cepat tanggap. Dia segera mengucapkan terima kasih pada orang-orang yang khawatir dan membawa Senna pergi dari kerumunan. Setelah cukup jauh dari mereka, “Kurasa kau bisa melepaskanku sekarang.” Kata Senna pelan.

Seakan baru menyadari sesuatu yang penting, Dennis menarik tangannya dari tubuh Senna, meski dia tetap berjalan sangat dekat, sepertinya dia takut mendadak Senna akan jatuh pingsan karena syok yang datang terlambat.

“Kau yakin tidak apa-apa?” tanyanya lagi.

“Tentu. Terima kasih.” Mendadak Senna berhenti. “Kurasa aku perlu mengucapkan terima kasih padamu.”

“Well, kau sudah melakukan itu. 2 kali padaku dan 1 kali pada wanita tua tadi.” Jawab Dennis. Senna memutar bola matanya dan melanjutkan jalannya. Tanpa bicara Dennis mengikutinya dari belakang. Senna terus berjalan hingga 5 meter ke depan dan mendadak dia berhenti. Dia berbalik menghadap Dennis dengan ekspresi yang tak bisa dijelaskan.

“Ada masalah?” tanya Dennis khawatir. Senna tetap diam di tempatnya sehingga Dennis maju, mendekatinya. “Kau tahu ini dimana?” tanya Senna akhirnya. Matanya menyipit sambil mengamati sekeliling. “Aku tidak ingat lewat sini tadi.”

Dennis berusaha menahan tawanya. “Kemana tujuanmu?”

“Restoran Italia di tikungan dekat butik Alldress.”

Kali ini gantian Dennis yang berjalan di depan. Mereka berjalan dalam diam, diam yang nyaman. Sebenarnya ada beberapa hal yang membuat Senna penasaran dan perlu usaha untuk menjaga mulutnya tetap diam. Entah kenapa dia merasa kalau dia bertanya sekarang, suasana nyaman ini akan berakhir. Beberapa menit kemudian mereka sudah sampai di depan restoran italia yang dimaksud. Tapi baru saja mereka akan menaiki undakan, pintu restoran terbuka. Aiden dan Yuri berjalan keluar dengan waswas.

“Hai.” Sapa Senna. Mereka berdua melihat ke arahnya dengan mata setengah terbelalak, khususnya setelah melihat siapa yang berdiri di samping Senna.

“Senna, kemana saja kau? Aku sudah menelponmu dari tadi, tapi tidak bisa.” Cecar Yuri, tapi matanya sesekali terlempar pada Dennis yang berdiri bagai patung dewa yunani, kaku sempurna dan elegan.

“Tadi aku tersesat, HP ku mati dan tidak sengaja aku bertemu dengannya.” Senna melempar pandangan jangan katakan soal tadi pada Dennis dan untungnya pemuda itu mengerti. “Karena itu aku mengantarnya kemari.” Tambah Dennis sambil tersenyum menawan.

“Ehm, kalau begitu ayo kita pulang.” Kata Aiden, tapi Dennis menahan mereka. “Senna, kurasa kau perlu makan malam kan?”

“Tidak juga. Aku tidak lapar. Lagipula aku bisa makan di rumah nanti.” Dennis tetap bersikeras. Pandangan matanya seakan mengatakan masuk ke dalam atau kukatakan pada mereka. Mau tidak mau Senna menurutinya. “Ehm, mungkin segelas coklat panas.”

“Kalian bisa pulang duluan. Nanti aku yang akan mengantar Senna pulang.” Aiden dan Yuri bertukar pandang takjub sebelum memandang Senna. Senna berusaha untuk menampilkan wajah biasa-biasa saja, padahal dia sendiri juga luar biasa kaget.

Aiden dan Yuri akhirnya pulang duluan. Meski sepanjang jalan menuju mobil, mereka berkali-kali menoleh ke belakang. Setelah melambaikan tangan pada mobil mereka yang meninggalkan tempat parkir di seberang jalan, Senna dan Dennis masuk. Dennis menolak pelayan untuk memilihkan tempat, dia memilihnya sendiri. Sebuah meja kosong kecil di bagian belakang restoran yang sepi.

“Tolong satu maccaroni keju dan teh hijau.” Pesan Dennis pada pelayan begitu dia mendekat. Pelayan itu kemudian mendongak menatap Dennis, menunggunya menyebut pesanannya lagi. Tapi Dennis malah menyebutkan “Itu saja.” Sambil menatap Senna yang mengernyitkan dahi padanya.

“Kau menyuruhku makan, tapi malah kau yang memesan. Tidak masalah jika 2 porsi, tapi ini hanya 1. Apa itu artinya salah satu dari kita akan makan dan yang satunya hanya minum?”

Dennis tertawa kecil. “Kau yang akan minum dan kau yang akan makan.” Senna memandangnya heran. “Aku sedang tidak berselera.” Senna mendengus.

“Kenapa kau pesan itu?” tanya Senna. Dennis balas menatapnya bingung. “Kupikir kau menyukai paduan keju dan teh.”

Senna tertawa tak percaya. Dia ingin bertanya bagaimana Dennis mengetahuinya tapi ada hal lain yang sudah berada di ujung lidahnya, “Bisa kau jelaskan bagaimana kau bisa ada disana? Maksudku disini saat ini?” dengan ragu Senna menambahkan. “Apa kau mengikutiku?”

Sebelum Dennis menjawab, pelayan datang dan mengantarkan pesanan. “Kenapa tidak dimakan?”

“Jangan alihkan pembicaraan. Jelaskan!” perintah Senna.

`           “Sebenarnya tidak. Aku hanya sedang ada keperluan di sekitar sini. Lalu mendadak aku melihat seorang gadis nyaris tertabrak. Otomatis aku berlari ke arahnya, jarak kami tak terlalu jauh. Lalu aku menyadari itu adalah kau.” Jelas Dennis lancar. “Lalu, kau yakin kau tidak apa-apa?”

Senna menatapnya dengan sorot terganggu. “Sudah berapa kali kau tanyakan itu? Aku baik-baik saja.”

Dennis mengamatinya dengan pandangan menilai. “Aku meragukannya. Kau tidak menunjukkan tanda-tanda syok atau semacamnya. Tanda-tanda wajar yang ditunjukkan seseorang yang nyaris luput dari maut.”

Kali ini Senna benar-benar tertawa. “Apa?” tanya Dennis bingung.

“Kalau aku harus menjerit atau menangis dengan tubuh gemetar setiap kali aku selamat dari maut, kurasa orang-orang akan memasukkanku ke rumah sakit jiwa.”

Dahi sempurna Dennis berkerut samar. “Setiap kali?”

Senna membeku sesaat. Dia menyendok maccaroninya dan mengunyahnya perlahan sebelum akhirnya bicara. “Ini bukan kali pertama aku nyaris tertabrak. Well, bisa kau sebut aku orang paling tak beruntung di dunia. Sejak kecil aku sering mengalami pengalaman nyaris mati. Hampir tertabrak, jatuh dari tangga, jembatan gantung yang mendadak putus, hampir tertimpa pot dari atap, dan sebagainya.” Senna melihat sorot mata Dennis yang ngeri dan ia kembali tersenyum.

“Kurasa aku sudah lupa bagaimana rasanya syok.”

Beberapa menit kemudian mereka diam tidak bicara. Hanya suara sendok dan garpu yang berdentang dengan piring serta obrolan samar pengunjung yang lainnya yang dipadukan dengan musik lembut yang mengalun. Perjalanan pulang ke Smalltown Hill juga seperti itu. Seakan tidak ada yang ingin dikatakan. Tapi, senyaman apapun keheningan, tetap manusia tidak  akan tahan tanpa sedikitpun suara. “Boleh kunyalakan musik?”

Tangan Senna otomatis bergerak ke CD player, namun dia segera menariknya saat tangannya menyentuh sesuatu yang dingin. “Tanganmu dingin sekali?”

“Kena AC.” Sahut Dennis cuek. Musik klasik yang lembut mulai mengalun, dan cukup menenangkan suasana yang mendadak aneh tadi. Dennis mengantar Senna sampai ke parkiran sekolah, atau lebih tepatnya, di samping mobil Senna yang terparkir sendirian.

“Ehm, Senna.” Panggil Dennis saat Senna akan membuka pintu. “Kurasa kau bukan orang paling tak beruntung di dunia. Tidak ada orang tak beruntung yang akan selamat dari rentetan bencana.”

Senna tersenyum sekilas. “Tapi tak ada orang yang beruntung yang akan mengalami rentetan bencana. Terima kasih tumpangannya.”

Dennis masih terdiam di tempat sampai mobil Senna menghilang di jalanan. Kepalanya mendadak dipenuhi berbagai macam pertanyaan. Berbagai macam hal yang diketahuinya dari Senna, rentetan bencana serta perasaan familiar yang terasa sejak detik pertama mereka bertemu…apa mungkin?

“Darimana kau?” tanya Casey saat Dennis muncul dari tangga garasi. “Tidak biasanya kau pergi seharian.” Meski tampak tidak tertarik, Marcus dan Andrew mendengarkan.

Dennis tampak bimbang sebelum menjawab. “Well, kurasa perlu kuceritakan pada kalian.”

Advertisements

2 thoughts on “Povestea lui Angel – storia 2

  1. Sukaaaaaa..
    Rada mirip twilight ya?
    Tp ttp keren..
    D tunggu lanjutan’y aja dh..
    Sma The Inn nya jga ya.. Hehe..:-P

  2. hello dear, this ‘s chan, i’ve change my uname hehe. Btw dear, may i have the link of part 1? I cant find it anywhere, thankyou 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s