Povestea lui Angel – storia 1

Cast: Dennis, Casey, Andrew, Marcus, Aiden

Genre : Fantasy

Length : Chaptered

Bisa dibilang ini FF percobaan. Lanjut atau ga tergantung idenya muncul atao ga.. Tapi harap dibaca dan komen. Trus JUDUL BELUM PASTI. So, bagi yang punya ide tentang judul boleh kasih saran. (Diharap banget sarannya..)

Selamat membaca…

Pemuda itu duduk bersandar di bawah pohon sambil menutup matanya. Rambutnya yang kecoklatan tampak berantakan tertiup angin. Kulit pucatnya memerah dibawah bias sinar matahari yang hampir terbenam.

“Sampai kapan kau mau duduk disini?” tiba-tiba seorang pemuda lainnya dengan postur lebih tinggi menghampirinya dan duduk disebelahnya.

“Sampai warnanya benar-benar hitam.” Ujarnya pelan, masih sambil menutup matanya. Jarang-jarang dia bisa melihat matahari terbenam secerah ini. Pemuda yang baru datang itu menatap wajah sahabat yang sudah bagaikan saudaranya itu dengan ekspresi yang sulit diartikan. “Jangan menatapku seperti itu atau kupatahkan lehermu.” Ancam pemuda berambut coklat. Meski matanya terpejam, tapi dia bisa merasakan pandangan yang diarahkan padanya.

Pemuda yang lebih tinggi itu mengalihkan matanya dan ikut memandangi matahari terbenam dengan seulas senyum tipis di wajah tampannya.

+++

“Dia belum kembali?” tanya seorang laki-laki dengan wajah bosan sambil sesekali melempar pandangan ke arah pintu belakang rumah. Atau lebih tepatnya ke arah dinding belakang rumah karena seluruh dinding belakang rumah sudah diganti dengan kaca yang dapat digeser sehingga pintu belakang bukanlah sepotong papan melainkan seluruh hamparan kaca sebesar dinding belakang rumah.

“An sedang memanggilnya…” sahut pemuda lain dengan wajah datar dan tampak agak kejam sambil memainkan game console nya.

“Kebiasaan gilanya harus dihentikan sebelum kita semua terjangkit.” Protes pemuda yang yang pertama. Wajah bosannya berubah geram.

“Habisi saja dia. Aku tidak peduli.” Gumam pemuda berwajah kejam itu dengan santainya.

“Jangan sampai dia mendengarmu Marc, dia akan memintamu langsung melakukannya.” Gumamnya super cepat dan pelan. Telinganya yang tajam menangkap derap langkah mendekat dari arah pintu belakang, meski pemilik kaki masih cukup jauh dari rumah.

Pemuda yang dipanggil Marc hanya menyeringai keji dan tidak sekalipun mengalihkan mata dari game consolenya. Dia tampak tidak peduli meski pemuda berambut coklat yang baru datang itu langsung dihadiahi omelan yang akan membuat manusia manapun yang mendengarnya minta dibunuh.

+++

Seorang gadis melangkahkan kakinya dengan kegugupan khas siswa baru di halaman sekolah. Matanya sibuk mengamati sekeliling, berusaha menyerap sebanyak mungkin pemandangan sekolah, sekaligus memastikan tidak ada apapun dari daftar kehadiran-paling-tidak-diinginkannya muncul. Setelah memastikan semuanya aman, langkahnya mulai tampak  tenang.  Dia melangkah lurus ke sebuah gedung dengan papan bertuliskan TATA USAHA untuk mendapatkan informasi.

Seorang wanita paruh baya mendongak saat menyadari kedatangannya,”Ada yang bisa kubantu?” tanyanya dengan ramah.

Gadis ini tersenyum sekilas. “Namaku Senna Clyne.”

Wanita paruh baya itu mengangguk mengerti. Dia langsung mengambil sebuah map hijau yang sangat tebal di tumpukan paling atas. “Ini semua yang kau butuhkan. Silahkan dilihat dulu.”

Senna menerimanya dan melihat isinya sebentar. Ada jadwal pelajaran, peta sekolah, buku yang digunakan dan hal-hal lain yang dibutuhkannya. “Terima kasih.” Wanita paruh baya itu balas tersenyum  hangat dan membantu membukakan pintu untuknya karena kedua tangan Senna sedang sibuk.

Dengan cepat, Senna melangkahkan kakinya menuju gedung sekolah dan mencari lokernya. Tidak akan mungkin baginya untuk berpindah-pindah kelas dengan bawaan yang banyak. Dengan membawa buku seperlunya dan meletakkan sisanya dalam loker, Senna mencari kelasnya. Tidak sulit menemukannya mengingat sekolah ini tidak terlalu besar –setidaknya tidak sebesar sekolahnya dulu.

Dia berhenti sejenak di depan pintu. Serangan panik mendadak muncul, padahal sejak tadi dia sudah sangat tenang. Senna memejamkan matanya, menarik napas panjang dan dalam kemudian menghembuskannya perlahan. Merasa cukup tenang, dia membuka pintunya dan mematung sedetik. Kelasnya cukup kecil, namun suasananya sangat nyaman. Seorang laki-laki tua dengan rambut memutih dan kacamata tebal memperhatikannya dari balik meja guru.

Tanpa banyak bicara Senna menyerahkan selembar kertas padanya, sekedar tanda dari bagian TU bahwa dia akan mengikuti kelasnya. Guru itu mengamati Senna sesaat sebelum akhirnya mengembalikan kertas itu dan menyuruhnya duduk di bangku yang paling belakang. Senna bersyukur dia tidak disuruh untuk memperkenalkan diri atau semacamnya. Senna bisa merasakan pandangan yang mengikutinya hingga dia sangat bersyukur saat di dudukkan di bangku paling belakang.

Mr. Black langsung memulai pelajaran. Senna merasa lega karena materinya sudah pernah dipelajarinya di sekolahnya yang lama, artinya dia tidak ketinggalan pelajaran dan tidak perlu repot meminjam catatan siswa lain. Tak terasa bel sudah berbunyi, Mr. Black memberi mereka tugas essai dan Senna berpikir untuk menggunakan essai lamanya. Setelah mengecek jadwalnya, Senna berjalan lagi menuju lantai 4. Seperti di kelasnya tadi, orang-orang memandanginya saat dia lewat. Senna berusaha meyakinkan dirinya berulang kali mereka tidak memperhatikanmu agar dia tidak merasa panik.

“Hai!” mendadak seorang pemuda dengan wajah manis dan rambut hitam pekat menyapanya di tikungan koridor. Senna otomatis melompat mundur karena terkejut. Matanya sempat tampak liar selama beberapa detik sebelum dia menyadari siapa lawan bicaranya. “Maaf kan aku.” Kata pemuda itu cepat sambil ikutan mundur. Kedua tangannya terangkat dan ekspresinya benar-benar tampak bersalah.

Senna berdeham dan menenangkan dirinya. “Tidak apa-apa. Kurasa aku agak berlebihan.” Katanya sambil tersenyum menyesal, lebih untuk dirinya sendiri. Kenapa aku harus bereaksi seperti itu? Batinnya kesal.

“Aku Aiden Lee.” Lanjut pemuda itu sambil mengulurkan tangan. “Senna Clyne.” Pemuda itu tersenyum ramah. “Apa kelasmu selanjutnya?? Mungkin bisa kuantar.”

Cepat-cepat Senna menolak. “Tidak perlu. Kelasku ada di ujung koridor ini.”

Ekspresi pemuda itu membuat Senna terkejut. Senyumnya bertambah lebar. “Kelas sejarah? Sama denganku.”

Mendadak Senna merasakan kekhawatiran yang aneh. Pemuda itu berjalan disampingnya menuju ke kelas. Pemuda itu cukup banyak berbicara bahkan hingga mereka sampai di kelas. Senna hanya menanggapinya dengan jawaban singkat dan senyuman. Setelah menyerahkan kertas, seperti Mr. Black, Senna disuruh duduk. Kali ini tidak di bangkku belakang, melainkan satu-satunya bangku yang kosong. Tepatnya di samping seorang pemuda pucat berambut coklat. Senna tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas karena pemuda itu memandang ke arah jendela. Senna bahkan tidak yakin apakah dia harus menyapanya atau tidak. Alaram kekhawatiran Senna mendadak menyala.

Mendengar suara kursi yang ditarik, pemuda itu menolehkan kepalanya. Senna membeku di tempat dengan tangan yang masih memegang kursi. Mata mereka bertemu selama beberapa detik. Senna merasakan napasnya tercekat. Baru kali ini dia melihat pemuda setampan itu. Pemuda itu memandanginya tanpa berkedip. Mata biru terangnya tajam menusuk dan terkesan dingin.

“Ada masalah Miss Clyne?” tanya guru sejarah, Mr. Gates saat melihat Senna belum juga duduk.

“Tidak. Tidak ada.” Ujar Senna cepat dan duduk. Dia masih bisa merasakan pandangan pemuda disampingnya saat dia mengeluarkan buku dari tas. Perlu usaha keras untuk tidak menolehkan kepalanya lagi ke pemuda itu.

Sisa pelajaran berjalan mengerikan karena lagi-lagi materinya sudah pernah dipelajarinya dan rasa penasarannya yang mendadak muncul terhadap pemuda aneh disampingnya membuatnya tidak bisa fokus pada pelajaran. Senna terus mengamati jam sehingga dia sudah berdiri dan pergi tepat saat bel berbunyi. Dia berjalan cepat menuju kafetaria dan entah bagaimana pemuda yang menememaninya ke kelas, Aiden, muncul disebelahnya bersama seorang gadis berambut hitam pendek yang tinggi. Kehadiran mereka setidaknya membuat Senna merasa tenang.

“Kenapa kau terburu-buru sekali tadi?” tanya Aiden saat mereka mengantri mengambil makanan.

Senna tersenyum kecil. “Lapar.” Jawabnya pendek. Meski itu memang benar, tapi itu bukan alasan utamanya. Setelah mengambil seporsi maccaroni keju dan secangkir teh hijau hangat, Senna mengikuti Aiden dan gadis tadi ke salah satu meja kosong di ujung kafetaria.

“Kenalkan, namaku Yuri.” Kata gadis itu sambil tersenyum ramah. Begitu juga dengan Senna. Baru saja Senna menyendok maccaroninya, matanya menangkap pemandangan yang begitu luar biasa, dari seberang kafetaria. Kali ini bukan hanya pemuda yang tadi duduk di sampingnya pada kelas sejarah, tapi juga 3 pemuda lainnya yang sama mencoloknya seperti dirinya. Mereka semua terlihat luar biasa tampan. Namun disaat yang sama mereka juga terlihat mengerikan. Keindahan yang memancarkan kekejaman. Mereka semua sama-sama pucat dan elegan, bahkan saat mereka hanya duduk diam.

“Siapa mereka?” tanya Senna pada Aiden dan Yuri. Mereka mengikuti arah matanya dan mengatakan “o” tanpa suara.

“Malaikat.” Jawab Aiden dan Yuri berbarengan. Mata Senna terbelalak.

“Bukan dalam artian sebenarnya.” Ralat Yuri cepat. “Kau tahu kan?” Yuri mengerakkan tangannya dari atas ke bawah dan mengatakan wow dengan ekspresinya. Senna mengangguk mengerti. “Itu sebutan yang diberikan murid-murid lain. Mereka baru pindah kemari 3 bulan lalu. Dennis Althrop, Casey Hale, Andrew Bourne dan Marcus Russel.”

“Yang sekelas dengan kita tadi Dennis. Pemuda cantik di sebelahnya Casey. Andrew yang paling tinggi sementara Marcus yang paling dingin.”

Senna berusaha mencerna sedikit demi sedikit informasi yang didapatnya. “Apa mereka tidak punya teman?” tanya Senna tanpa sadar. Sejak tadi dia tidak melihat ada yang menghampiri meja mereka. Bahkan mendekat saja tidak. Seolah-olah meja mereka adalah tempat yang harus dihindari.

Aiden dan Yuri bertukar pandang ragu sesaat. “Sebenarnya tidak. Bukannya mereka tidak menarik untuk dijadikan teman. Mereka juga cukup ramah, setidaknya 1 diantaranya sangat ramah. Hanya saja…” Yuri tak bisa melanjutkan.

“Hanya saja terkadang berada di sekitar mereka menimbulkan sensasi terintimidasi yang mengerikan.” Lanjut Aiden dengan suara kecil sambil memandangi makanannya. Seakan dia berharap tidak ada seorangpun yang mendengar atau menyadari dirinya mengucapkan itu. Merasa pembicaraan semakin berat, Senna tidak melanjutkan lagi meskipun banyak hal lain yang ingin ditanyakannya. Tapi mengingat sensasi aneh yang dialaminya tadi, cukup bijaksana baginya untuk menjaga jarak dengan mereka mulai saat ini juga. Dia sudah lelah dengan masalah dan sama sekali tidak berniat menambahnya.

+++

“Apa gadis itu?” tanya Casey tanpa menggerakkan bibirnya sementara matanya sibuk mengamati gadis yang membuat temannya penasaran. “Terlalu jauh. Aku tidak bisa merasakannya.”

Dennis menghembuskan napas panjang. “Ya. Aku tidak tahu kenapa tapi rasanya tidak seperti bertemu dengan manusia. Dia terasa familiar dan…” Dennis tampak tidak tahu bagaimana harus mengatakannya. “Dan aromanya seperti mawar dan lily segar. Manis.” Dennis terlihat ragu sejeanak seakan meragukan pikirannya sendiri, “Aku tidak merasakan kehidupan darinya.”

Ketiga temannya menatapnya tak percaya. “Tidak ada manusia yang seperti itu.”

”Kau yakin tidak pernah bertemu dengannya?” Dennis menggeleng. “Selama seabad ini?” Dennis mengangguk. “Kurasa kita perlu mencari tahu.” Tegas Andrew.

Mereka kembali terdiam. Masing-masing sibuk dengan pikiran masing-masing. Tanpa mereka sadari bel berbunyi. Dengan gerakan luwes, keempatnya melangkah ke pintu keluar. “Apa kau akan sekelas dengannya lagi?” tanya Casey dengan nada jail. Dennis mendesah dan mengabaikannya.

Sepanjang pelajaran sejarah tadi, Dennis memang cukup lama memperhatikan Senna. Bukan karena dia anak baru yang asing, tapi karena dia memberinya perasaan seperti bertemu musuh dan teman lama dalam waktu bersamaan. Dennis tidak mengerti kenapa tapi apapun alasannya itu cukup membuatnya terkejut dengan dirinya sendiri. Seorsang Dennis, yang bahkan sudah melawan takdir dan mengabaikan semuanya bisa begitu terganggu dengan seorang gadis asing yang hanyalah manusia.

Dennis menempati tempatnya sendirian seperti biasa. Yang berbeda hanyalah pandangannya kali ini tidak tertuju pada jendela, melainkan pintu masuk. Bila jantungnya berdetak, sudah pasti akan seperti kuda di landasan pacu. Untuk pertama kalinya sepanjang eksistensinya, dia merasa khawatir dan juga lega saat gadis itu tidak masuk ke kelasnya kali ini. Mungkin aneh bagi dirinya untuk merasa terganggu hanya karena seorang gadis normal seperti itu. Tapi, apa benar itu gadis normal? Kalau tidak bagaimana bisa dia merasakan perasaan aneh seperti itu? Sangat tidak mungkin bagi seorang monster untuk terintimidasi kan? Kecuali dunia memang sudah berputar terbalik.

TBC

Advertisements

3 thoughts on “Povestea lui Angel – storia 1

  1. akhirnyaaaa ada ff juga di sini! *ngaco stelah sekian lama menantikan sampai jamuran dan lusuh! (?) ah, aku penasaran! lanjuuut! oh ya mana SJS ni? ditunggu looh *teriak pake toa* *diinjek*

  2. monster? huaa aku kira vampir atau malaikat kaya kemaren. seru eon, jadi mirip sama SJS yah? emm lebih tepatnya SJS yang di silangkan dengan The INN, bener gak? #sok toy
    khkhkh…. di tunggu kelanjutanya eon

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s