슈퍼 스토리 (Super Story) Part 20

By : 슈 퍼 시대

Genre : Romance, Friendship,  [apa aja de]

Length : Chaptered

Casts : All Super Junior Members , Fabiola, Fani, Senna

“Aku akan ke Taiwan.” Kata seorang namja sambil sibuk memainkan PSP nya.

“Berapa lama?” tanya seorang yeoja sambil sibuk dengan BB nya. Mereka berdua sedang menikmati waktu senggang yang sangat langka, berdua.

“Setahun.” Jawab Kyuhyun santai

“Selamat jalan.” Kata Fabiola tanpa mengalihkan padangan dari BBnya. Tapi mendadak keduanya berhenti seakan film yang sedang di pause. Kepala mereka menoleh ke arah satu sama lain. Detik demi detik berlalu dan Fabiola membelalakkan matanya bersamaan dengan kyuhyun dan mereka berdua berdiri.

“MWO?? Setahun?”

“MWO?? Semudah itu kau membiarkanku pergi?”

Mereka berdua bicara –atau lebih tepatnya teriak- pada saat yang bersamaan. BB dan PSP terlupakan seketika.

“Kenapa semudah itu kau mengatakan selamat jalan? Tidak akan merindukanku?” tanya kyuhyun agak mencibir.

“Seharusnya aku yang tanya. Pergi setahun ke Taiwan? Apa itu mungkin? Paling hanya 2 atau 3 bulan kan?” kata Fabiola setelah otaknya bisa mengkalkulasi kemungkinan kebernaran perkataan kyuhyun hanya 0.0001%.

“O.. aku tahu… Pasti kau punya selingkuhan kan?” kata Kyuhyun langsung dengan tatapan siap membunuh.

“YA!!! Seenakknya saja kau bicara. Kau pikir aku bodoh? Kebohonganmu itu sama sekali tidak bermutu.” Kata Fabiola dengan mengirim tatapan yang tidak kalah seram. (*evil couple..)

“Jadi menurutmu aku ini pembohong? Kau sama sekali tidak cemas, meski aku hanya pergi 3 bulan sekalipun, mungkin aku bertemu gadis Taiwan yang lebih sexy?”

Kali ini fabiola benar-benar meledak. “Apa maksudmu Cho Kyu Hyun ssi?” katanya dengan nada yang mampu membuat siapapun lari terbirit-birit. “jadi maksudmu kau ingin gadis yang lebih sexy?”

Kyuhyun tidak bergerak atau berkomentar. Dia hanya memandang Fabiola yang sedang ‘terbakar’ dengan tatapan yang aneh. Beberapa detik kemudian Kyuhyun berjalan mendekat dan menatap Fabiola dengan pandangan yang sulit diartikan, namun jelas tatapannya melembut. Kyuhyun meletakkan tangannya di bahu Fabiola dan mendekatkan kepalanya hingga dahinya menempel di dahi fabiola.

“Bukan begitu. Aku hanya ingin berpamitan tapi tidak tahu bagaimana cara yang benar.”  Katanya pelan. Amarah fabiola mereda.

“Sudahlah. Tidak penting.” Balas fabiola.

Mereka terdiam selama beberapa saat hingga ternyata Kyuhyun yang memecah kesunyian diantara mereka. “Bolehaku minta sesuatu?”

“Apa??” dari nada bicaranya yang sangat halus, fabiola sudah menduga sesautu hanya tidak ada salahnya memastikan.

“Ada game baru yang diluncurkan hari ini tapi aku tidak bawa uang. Tolong belikan ya..” kyuhyun tersenyum manis, semanis berkilo-kilo gula namun ternyata kemanisan sehingga bahkan semut pun tak mau mendekatinya. (*maksudnya??)

Fabiola langsung mendorong kyuhyun hingga kyuhyun terjatuh. “Beli sendiri.” Kemudian ia berbalik meninggalkan kyuhyun yang keheranan sambil terduduk di tanah.

+++

Beberapa hari kemudian

Fabiola baru saja pulang dari SBS setelah selesai berceloteh 2 jam di radio. Biasanya dia akan langsung masuk kekamarnya tapi kali ini dia mengetuk pintu disebelah kamarnya.

“Fani ya..” panggilnya sambil mengetuk. Setelah mendapat ijin dari sang empunya (*bahasa dari mana ya ini?) kamar, dia masuk.

“Wae?” tanya Fani sambil membereskan bukunya.

“Heechul oppa sakit.” Kata Fabiola to the point dan sukses membuat fani berhenti bergerak.

“Mwo??” dia tertawa. “jangan becanda. Orang seperti dia mana mungkin sakit.”

Fabiola mengangkat bahu. “Wajah lesu, mata bengkak dan tidak semangat.” Fabiola menyebutkan gejala penyakit Heechul.

Fani terdiam dan berpikir. lesu mungkin karena capek, mata bengkak mungkin karena bergadang. Tapi kalau tidak semangat?? Seorang kim hee chul?? Pasti ada yang tidak beres. Tanpa menbuang waktu fani langsung menyambar jaket dan dompetnya dan pergi keluar diiringi bunyi debam yang keras.

“Ya!! Ada apa si? Kenapa dia banting-banting pintu?” tanya senna yang menghampiri fabiola karena kaget dengan suara debam saat fani keluar terburu-buru.

“hanya terburu-buru.” Jawab fabiola santai dan pergi ke kamarnya meninggalkan senna yang bingung dengan kelakukan kedua temannya.

Fani POV

Heechul sakit?? Tidak mungkin. Tapi tetap saja aku jadi khawatir. Dengan cepat kusambar dompet dan jaket lalu belari keluar. Aku tidak peduli dengan pintu yang berdebam karena kubanting saking terburu-burunya. Kucegat taxi pertama yang kulihat dan segera kusebut alamat dorm mereka. Di dalam taxi aku terus menelponnya dan tidak diangkat. Apa dia tidur?

Begitu sampai aku masuk ke gedung apartemen dan untungnya tepat ada lift kosong yang turun. Langsung saja kutekan angka 12 dan begitu pintu terbuka lagi, kakiku melangkah ke arah pintu 1201. Untung saja heechul sudah ‘mendaftarkan’ sidik jariku jadi aku bisa masuk. Suasana di dalam dorm benar-benar sepi dan suram. Hanya lampu dapur yang nyala. Kuraba saklar di dinding dan begitu lampu menyala, pemandangan luar biasa menyambutku. Baju, sepatu, tas, jaket, celaa, kaos kaki, bungkus makanan dan entah apa lagi berserakan dimana-mana. Tapi tidak ada waktu untuk terlena dengan semua itu. aku langsung menuju salah satu kamar di dorm ini dan masuk tanpa mengetuk.

Well… ini sebabnya dia tidak mengangkat telepon. Cinderella Kim Heechul sedang berubah menjadi Sleeping beauty. Bedanya hanya dengan tambahan 2 ekor sleeping cat di kaki tempat tidur. Aku berjalan pelan dan duduk di samping tempat tidurnya. Kuraba keningnya lembut. Panas. aku segera keluar dan mencari kompres.

Heechul POV

Aku membuka mataku pelan. Kepalaku berat sekali sehingga otomatis tanganku terangkat ke kepala. Apa ini? Handuk? Belum selesai aku merasa heran, sebuah pemahaman lain muncul di otakku. Tangan kiriku tak bisa digerakkan. Otomatis kepalaku bergerak ke kiri dan aku hampir saja jantungan. Pantas saja ada handuk dan tanganku tidak bisa bergerak.

“fani ya.. gomawo..” bisikku pelan. Telunjuk kananku menyusuri pipinya dengan lembut. Rasanya aku sudah sangat sehat hanya dengan melihatnya berbaring disini. Entah apa yang kupikirkan tapi langsung saja kuambil hpku dan kufoto wajah manisnya yang tertidur. Jarang-jarang kan ada kesempatan melihatnya tertidur.

Mungkin karena mendengar bunyi klik saat aku memotretnya, dia terbangun. Cepat-cepat kuletakkan hpku di meja.

“Yeobo, kau sudah bangun?” dia tersenyum lega dan langsung meraba keningku, mengecek suhu. “Untung sudah turun. Bagaimana perasaanmu?”

“baik. Gomawoyo..”

Dia tersenyum dan langsung berdiri, membereskan handuk dan baskom air kemudian berjalan ke arah pintu. “mau kemana?” tanyaku langsung.

“Membereskan ini.” Dia mengangkat baskomnya dan keluar.

Fani POV

Entah berapa lama aku tertidur disana yang jelas bahuku sakit. Tapi syukurklah dia sudah sadar dan panasnya sudah turun.

“Fani ya..” aku hampir saja menjerit saking terkejutnya. Seingatku dorm ini kosong. Tapi aku lega begitu tahu siapa yang memanggilku.

“teuk oppa. Anyeong.”

“Apa yang sedang kau lakukan disini?? Sudah lewat tengah malam lo.” Tanyanya heran. Lewat tengah malam?? pantas saja dia sudah pulang.

“Heechul oppa sakit jadi aku datang merawatnya..” jelasku sambil menunjuk baskom ditanganku dengan mataku. (*hebat bisa nunjuk pake mata..haha)

“Jinjja? Wah.. kejadian luar biasa ini.” Kata leeteuk oppa sambil berdecak kagum. “ya sudah. Kalau begitu aku serahkan dia padamu ya. Gomawo.” Katanya sambil tersenyum dan pergi kekamarnya.

MWORAGO?? Menyerahkannya padaku?? Memang aku ini eommanya?? Aish.. seharusnya kan dia sebagai leadernya yang menjaga. Menyebalkan. Senna.. kenapa kau bisa suka sama namja seperti itu?

Beberapa menit kemudian aku kembali ke kamar heechul, bermaksud mengambil barangku dan pulang. Bagaimana pun tidak mungkin aku bermalam disini. Memang ada kamar kosong tapi tetap saja tidak aman.

“Kau mau pulang?” tanya heechul begitu aku mengambil jaketku.

“Ne. sudah malam. sekarang leeteuk oppa juga sudah pulang. Jadi dia bisa menjagamu.”

“Mana mungkin dia mau menjagaku? Yang akan dijaga paling hanya donghae saja karena satu kamar.” (*mianhae teukie…. Hanya mengikuti skrip.. tidak bermaksud menjelek”an… ////PLAK////) “Lagipula kalau bukan kau yang menjaga aku bisa sakit lagi..” rengeknya.

Aku menghembuskan napas panjang. “Memang kau suruh aku tidur dimana? Dilantai? Tidak mungkin kan?”

Dia tersenyum dan menepuk-nepuk tempat disebelahnya. Aku membelalakkan mata dan membentuk tanda X besar dengan tanganku sambil mengeleng-geleng. “SHIREO!!”

“Aish kau ini. Memangnya bagaimana kau akan pulang. Sekarang sudah lewat tengah malam. tidak ada taxi atau bis. Masa kau mau jalan kaki? Lagipula lebih berbahaya seorang remaja perempuan berjalan sendirian di jam segini daripada tinggal di dorm yang isiniya 1 namja sakit dan 1 namja yang tidur seperti kerbau.” (*sekali lagi mianhae teukie ya… author tidak bermaksud menjadi istri yang menjelekkan suami sendiri ////ABAIKAN KALIMAT TERAKHIR////) katanya panjang lebar

Kalau dipikir-pikir benar juga si kata heechul. Aku pulang sendiri tanpa taxi atau bisa pada jam segini jelas hal yang sangat berbahaya. Kalau aku menginap disini kurasa tidak apa-apalah. Tadi leeteuk bilang titip heechul padaku artinya dia tidak akan kesini malam ini. Heechul juga sedang sakit jadi tidak mungkin macam-macam.

“Baiklah.” Dia tersenyum lebar. “Ingat jangan macam-macam!!” ancamku dan dia mengangguk sambil membentuk tanda V dengan jarinya.

“Aku tidak akan macam-macam.” Kata heechul.

Akhirnya malam ini aku menginap disini, di dorm suju, kamar heechul, tempat tidur heechul. Aku pasti sudah gila. Eomma appa.. maafkan anakmu ini.. aku berbaring membelakangi dia. Awalnya aku tidak bisa tidur saking tegangnya tapi karena lelah akhirnya tertidur juga.

Author POV

“Mana Fani?” tanya Senna pada Fabiola keesokan harinya. Mereka sedang sarapan tapi dari tadi Fani tidak muncul-muncul.

“Tidak pulang.” Kata Fabiola santai sambil menikmati sarapannya.

“mwo?? Tidak pulang? Kemana dia?” tanya Senna sambil mengoleskan selai blueberry ke rotinya.

“Tanya saja sama pacarmu itu.”

“maksudmu dia ke dorm suju?”

“Ne.”

“Oh..”

“Rotinya enak juga. Beli dimana ya?”

Mereka berdua meneruskan sarapan dengan tenang dan saat manager datang menjemput,

“Fani mana?”

“Tidak sekolah hari ini.” Kata Fabiola dan Senna bersamaan. Manager mereka hanya mengangguk tanpa bertanya macam-macam.

Leeteuk POV

Aku terbangun karena bunyi hpku. Dengan mata terpejam, tanganku bergerak di atas meja, mencari hpku. Siapa yang menelpon sepagi ini si?

“Yoboseyo..” kataku dengan nada mengantuk.

“Oppa..” seketika aku terduduk tegak. Ngantukku hilang. “Senna ya?? Ada apa? Pagi sekali. Rindu padaku.”

“Ani.” Jawabnya singkat. “Begini. Tolong bilang sama fani hari ini dia tidak usa ke sekolah. Lagian juga kami sudah berangkat ke sekolah. Tanyakan padanya apa kami perlu mengantar pakaian padanya. Bisakan?”

“Ne.. ara.. tapi mungkin kau tidak perlu mengantar pakaian padanya.”

“Wae?”

“Besok kamikan akan ke shanghai.”

“Aku tahu.. justru itu. aku ingin tahu apa dia akan ikut ke sana.”

“O…baiklah. Akan kutanyakan.”

“Kalau begitu sudah dulu ya.. lanjutkan saja tidurmu…”

“haha… ngantukku sudah hilang. Belajar yang benar.”

“Ne.. ahjussi..” aku mendengar dia tertawa sebelum mematikan teleponnya. Tidak salah juga si dia memanggilku begitu. Rasanya saat aku menyuruhnya belajar yang benar, aku jadi seperti seorang ayah yang menyuruh anaknya belajar dengan baik.

Fani POV

“Astaga…” aku terduduk kaget melihat jam di dinding kamar heechul. Sudah jam 8.30. “Terlambat!”

“Ada apa si?” tanya sebuah suara di sampingku sambil agak mengerang karena tidurnya terganggu.

“Ada apa-ada apa….” Kuhajar dia dengan bantal.

“YA!! Au.. Sakit.. Stop.!! Au!!! Stop!!!!!” aku tidak peduli meski dia teriak kesakitan atau apa. Rasanya aku kesal sekali padanya.

TOK..TOK..TOK….

“Nugu?!!” tanyaku sarkatis. Masih agak kesal.

Baru saja aku menyadari pertanyaan itu tidak perlu karena yang ada di dorm ini hanya 3 manusia dan 2 ada disini, berarti tinggal 1 lagi. “Maaf mengganggu..” kata sebuah suara diiringi dengan kepala yang menyempul dari balik pintu.

“Ada apa oppa?” tanyaku pada leeteuk, tidak memperdulikan heechul yang masih mengusap punggunggungnya yang kuhajar.

“Ehm.. tadi Senna menelpon, dia bilang hari ini kau tidak perlu ke sekolah.” Aku hanya mengangguk. Pergi juga tidak mungkin. Sekarang kan sudah sangat terlambat. “Terus dia tanya apa perlu mengantar pakaianmu kemari?” aku mengangguk lagi tapi kemudian sesuatu yang aneh masuk ke otakku.

“MWO?? Mengatar pakaian?”

“Dia tanya apa kau akan menjaga heechul sampai ke shanghai?”

Aku tersenyum ramah. “Dengan senang hati aku TIDAK akan melakukannya.”

“Wae??” heechul langsung merengek.

Aku melempar senyum terbaikku pada heechul. “Kau mau menggajiku berapa, yeobo?”

Kulihat tiba-tiba terlintas ketakutan di matanya, tapi aku masih terus menyunggingkan senyumman terbaikku itu. “Kalau begitu aku permisi dulu..” kata leeteuk dan kemudian menghilang dibalik pintu.

+++

Begitu selesai memberinya ‘pelajaran’ aku pulang ke dorm dengan diantar leeteuk oppa karena manager sedang sibuk dan aku baru sadar kalau aku datang dengan piyama. Akan lucu kalau naik bis atau taxi pagi-pagi dan pakai piyama.

“Oppa??” aku kaget bertemu managerku di depan pintu apartemen.

“dari mana saja kau? Kenapa tidak sekolah? Dan kenapa kau pakai piyama?” tanyanya bingung.

“Satu-satu ok?” kataku sambil membuka pintu dan mengajaknya masuk.

“Ada apa? Kenapa tidak telepon saja?”

“HPmu mati.”

“Jinjja?” kurogoh hp di sakuku.. Mati.. pantas saja tadi senna titip pesan pada leeteuk. “Lowbat ternyata. Lalu ada apa?”

“bereskan barang-barangmu sekarang.” Katanya to the point. “Kita ke kyeongju.”

“Ye?? Kyeongju??” pekikku langsung. “kenapa mendadak sekali?”

“Mianhae aku lupa bilang kemarin. Tapi sejak tadi aku terus menghubungimu dan hpmu tidak aktif.” Kata manager oppa dengan agak kesal. Aku ingin ikutan kesal tapi tidak mungkin. Separuhnya juga salahku.

“Tunggu sebentar.” Dan akhirnya 1 jam kemudian kami berada dalam mobil menuju bandara.

“Memangnya ada apa ke kyeongju? Berapa lama?”

“Paling lama 3 hari. Mungkin sekitar hari minggu.” Kata manager oppa sambil melihat catatannya.

Drrrt…..dddrtt……. hpku bergetar saat aku check in.

From : Mr. Jinnpang

Temani aku di dorm..aku sendirian. Aku perlu perawat…

Dengan cepat kuketik balasannya

To : Mr. Jinnpang

Tidak bisa. Aku sibuk. Lagipula besok kan kau harus ke shanghai. Jadi anggap saja sekarang kau di shanghai dan aku tidak bisa jadi perawatmu. Rawat dirimu sendiri… ^^

Aku tidak tahu lagi apa balasannya karena aku langsung mematikan hp.

Heechul POV

Aish!!! Apa-apaan dia itu. sudah tahu aku sedang sakit dan butuh perawatan tapi dia malah sibuk.. Fani…bogosipho… padahal kita baru bertemu tadi pagi…Hmm.. sekarang mau apa ya? “Heebum ah…. Eommamu kejam..” kataku sambil memebelai kepala kucing hitam kesayanganku itu.

Author POV

Shanghai, 5 Maret 2011

(*ingat insiden heechul kelempar papan saat konser. – lanjutannya berdasarkan kejadian tsb-).

“Hyung.. gwaenchanayo?” tanya ryeowook pelan. Wajahnya tampak khawatir. Bukan hanya dia, tapi semua member dan manager plus staff dan dancer –meski yang ada di kamar hotel ini sekarnag hanya member suju- juga bertanya dengan khawatir. Maklum saja, insiden ini lebih para daripada yesung yang kelempar lightstick kemarin. Yang melemparku adalah papan berukuran 20 x 30 dan aku terpaksa pulang duluan ke hotel sebelum konser selesai.

“Gwaenchana. Bukankah seorang pria wajar kalau punya bekas luka?” sebenarnya aku sedih dan agak takut kalau wajahku sampai berbekas. Tapi mau bagaimana lagi. Aku tidak mungkin menyalahkan fans itu. inikan bukan hal yang disengaja.

“Besok kita langsung ke rumah sakit begitu sampai.” Kata leeteuk langsung.

“Setuju. Kalau perlu kita pulang sekarang.” Kata eunhyuk menambahkan.

“Aish kau ini.. memangnya ada pesawat shanghai-incheon tengah malam?” aku menjitak kepalanya sambil menahan tawa. Kalau aku tertawa sakitnya benar-benar luar biasa.

“Sudahlah.. cepat bubar. Biarkan si Mr. AB ini istirahat… bubar semua!!” kata leeteuk sambil mengibas-ngibaskan tangannya, mengusir.

“Ya!! Leeteuk ssi!! Kau tidak punya panggilan lebih baik ya?” aku ingin mengomel panjang lebar tapi harus mengemat tenaga. Lagian mataku mengankap pemandangan aneh disni. “Yesung ah.. kenapa kau tidur disini? Kamarmu kan disebelah.” Tanyaku melihat yesung sudah merebahkkan diri di kasur ku.

“tadi teukie hyung kan bilang biarkan Mr. AB istirahat dan aku ingin istirahat.” Dia menguap lebar sekali.

“yang dimaksudkan aku.”

“Tidak. Dia bilang Mr. AB dan aku juga AB.”

Aku diam dan semua member tertawa terbahak-bahak. Rasanya ingin juga ikut tertawa tapi itu sama saja bunuh diri namanya.

+++

“Fani ya.. kenapa kau tidak menelponku? Padahal dari kemarin semua teman-teman, staff dan petals sudah pada menayanakan keadaanku. Sebegitu tidak pedulinya dirimu padaku?”

PLETAK!!!

“Astaga teukie ya!!! Kenapa kau menjitakku??”

“Kau ini kalau memang ingin bicara padanya kenapa tidak kau yang menelponnya. Dan kurasa lemparan papan kemarin membuatmu tambah lebai. Aku sampai bergidik mendengar kata-katamu.” Katanya sambil mengedikkan bahu.

Sekarang kami baru sampai di dorm dan seperti biasa tinggal aku dan dia saja. Yesung langsung mengunjungi eommanya sementara shindong bertemu dengan nari. Mereka berdua langsung dihubungi begitu tiba di korea. Maklum saja, waktu di shanghai kami sempat mengalamai kecelakaan kecil yang untungnya tidak jatuh korban. Tapi tampaknya tetap saja rasa khawatir dari seorang eomma dan yeojachinggu yang ingin langsung memastikan keadaan dengan mata kepala sendiri. Tampaknya hanya aku yang dibiarkan sendiri oleh fani..T_T

Kalau dipikir-pikir benar juga si katanya. Kenapa tidak kutelpon saja dia.. aish.. cepat-cepat kukeluarkan hpku, tapi sebelum sempat menekan nomornya, manager datang. “Heechul hyung, aku sudah membuat janji dengan dokter. Kita ke rumah sakit sekarang.”

“Baiklah…” kumasukkan kemabali hpku ke saku celana dan mengikutinya keluar. “Lho… kau mau ikut mengantarku ya?? Wah.. aku terharu.” Kataku saat melihat leeteuk memakai jaket dan mengambil kunci mobilnya.

Dia memandangku terkejut dan tertawa. “Siapa bilang?? Aku mau bertemu senna. Tadi baru saja dia mengirim sms padaku.”

“Menyebalkan…” aku mendengus dan langsung keluar.

“Ada apa dengannya? Sepertinya sangat badmood.” Samar-samar aku mendengar manager bertanya dengan bingung.

“Memang… tapi sebentar lagi juga reda. “ lalu terdengar tawa kunti khas teukie….

+++

March 6, 2011 08.21 pm @Supersidae dorm

Fani POV

Huf.. aku capek sekali… dari kemarin sudah banyak sekali kegiatan di kyeongju. Memang sudah resiko pekerjaan si. Tapi aku baru sadar kalau dari kemarin hpku mati. Aku lupa menyalakannya saking sibuknya. Ada 29 panggilang dan 5 pesan suara yang berasal dari kim heechul. Asih.. orang ini.

“Ada apa yeobo? HPku penuh dengan pesan darimu.” aku langsung menelponnya tanpa membuka pesannya.

“Chagiya…” katanya dengan suara sangat manja.

Aku menaikkan alisku. Kenapa dengannya? Tiba-tiba jadi sangat manja. Kamarin sepertiinya tidak separah ini. “ada apa?”

“Kenapa kau tidak tanya kabarku?” suaranya terdengar seperti anak kecil yang merengek kesal. “Memangnya kenapa aku harus tanya kabarmu?”

“Kau tidak tahu tentang insiden itu?” tanyanya tidak percaya

“Insiden?” tanyaku kaget. “Aku baru sampai di seoul. Setelah pulang dari dorm mu kemarin aku langsung ke kyeongju. Saking sibuknya hpku baru hidup sekarang.”

Kudengar dia menghela napasnya. “Sudahlah. Susah dijelaskan. Besok kita ketemu ya.”

“aku sekolah dan ada syuting starking.”

“Kita ketemu di SBS saja. Istirahatlah… “

Dia langsung mematikan teleponya sebelum aku bertanya lebih lanjut. Insiden apa si? Tapi senna dan fabiola tidak bilang apa-apa. Pasti tidak gawat. Kalau gawat mereka pasti sudah mati-matian berusaha member tahuku. Tapi ini, mereka malah entah kemana. Ah.. sudahlah… besok saja. Aku ngantuk.

+++

March 7, 2011 @ SBS, Starking Recording

PLOK PLOK PLOK…

Terdengar tepuk tangan meriah dari studio setelah sebuah kelompok paduan suara selesai menyanyi.

“Luar biasa bagus sekali.. terima kasih untuk penampilannya. Bla..bla..bla” Kata Kang Hodong. (mian.. author lagi malas nulis kata-kata yang entah apa karena ga tahu).

Kemudian mereka semua bubar dan berjalan ke backstage. Ada yang langsung keluar studio malah. Wajar si. Siapapun ingin cepat pulang kalau sudah seharian syuting. “Heechul ssi..” sapa hodong melihat seorang namja bertopi di backstage.

“Anyeong…” balas heechul ramah.

“Bagaimana wajahmu?” hodong memperhatikan wajah heechul yang tampak lebam.

“Tidak apa-apa. Sebentar lagi juga sembuh.”

“oo.. syukurlah kalau begitu. Sedang apa disini? Oh.. menjemput fani ya? Dia masih di depan.” Kata hodong diiringi tawa khasnya.

“Gomawo..” dan heechul langsung ke depan. Fani terkejut melihatnya.

“Yeobo sedang ap..” kata-katanya terhenti saat melihat wajah heechul. Meski dia berusaha menutupinya dengan topi tetap saja akan terlihat.

Heechul tersenyum lemah. “Ini maksudmu dengan insiden?” tanya fani lagi dan heechul mengangguk. “Mianhae aku tidak tahu. Aku terlalu sibuk.”

Heechul langsung memeluknya singkat. “Sekarang aku minta kau jadi perawatku sebagai hukumannya.” Fani menatapnya bingung. Memangnya mau dirawat bagaimana? Kompres? Tidak mungkin kan? “Kajja..” mereka berdua lalu berjalan keluar dengan fani yang menggaet lengan kanan heechul. (*ga tahu gimana nulisnya, – ato mungkin disebut fani menggandeng lengan heechul??- silahkan reader bayangkan sendiri de..)

@ Suju’s dorm, room 1201

“Yeobo, kau duduk disini… jangan kemana-mana.” Kata fani saat mereka tiba di dorm. Dia menyuruh heechul duduk di ruang tamu sementara dia sibuk di dapur.

Sudah hampir setengah jam dan fani masih sibuk di dapur. Heechul merasa bosan dan pergi ke dapur. Di dapur, dia melihat fani sedang sibuk membuat jus apel sambil merebus sesuatu di kompor. Heechul mengendap-ngendap, membuat langkahnya sepelan mungkin sampai tak terdengar dan memeluk pinggang fani.

Fani terkesiap terkejut tapi kemudian, setelah menguasai diri, “Cepat minggir atau kusiram dengan air panas.” katanya tajam. Tangan kirinya sudah terulur ke arah panci di atas kompor yang tampak mendidih. Heechul langsung menarik tangannya dari pinggang Fani dan mundur selangkah.

“Jangan galak begitu… aku keluar sekarang.” Dia lalu berjalan kembali ke arah ruang tamu.

Tidak lama kemudian, Fani menghampiri Heechul sambil membawa segelas jus. “minum dulu. Kau butuh asupan vitamin…” Heechul langsung tersenyum dan akan segera memeluk fani kalau fani tidak melempar pandangan penuh hawa membunuh yang sangat jarang dikeluarkannya kecuali dalam keadaan terdesak. “Minum ini dan tunggu sebentar lagi.” Heechul hanya mengangguk sambil  minum, seperti anak kecil yang nurut dengan perintah eommanya.

Fani POV

Dasar namja tidak sabaran. Bisa-bisanya dia bertingkah saat sakit. Tapi untung juga si ada stock makanan disini. Pasti ryeowook oppa yang beli sebelum ke cina. Kalau tidak 83line bis mati kelaparan. Tapi memangnya mereka bisa masak ya?? Aneh juga si setelah beberapa hari tampaknya semua sayuran dan buah masih utuh di kotak masing-masing. Bungkus daging juga belum dibuka. Yang berkurang hanya telur saja. Jangan-jangan malah mereka hanya memuat mi instan dan telur goreng.

Setelah telur yang kurebus matang, aku segera mengupasnya dan keluar ke ruang tamu. Ternyata heechul sedang nonton sambil berbaring di sofa. Jusnya tinggal setengah. Ya, setidaknya dia minum. Aku menepuk kakinya, dia menyadari kehadiranku dan segera memperbaiki posisi duduknya. Tapi sebelum dia buka mulut, dengan cepat aku menggosok telur itu di bagian memarnya.

“Auu… appo..” katanya sambil meringis.

“Tahan sedikit. Kalau tidak begini kapan lagi baru bisa sembuh?” dia hanya diam. Aku terus menggosok wajahnya tanpa sadar ternyata sekarang wajah kami hanya berjara 5 cm. aku bahkan bisa merasakan nafasnya, menggelitik wajahku. Entah setan apa yang merasukiku, aku langsung mengecup pipinya. Sekilas namun tetap saja aku malu sendiri. Aku langsung berbalik tapi dia menahan tanganku. Rasanya pipiku memanas sekarang.

Dia mendongak menatapku karena dia duduk di sofa sementara aku berdiri di hadapannya. Tanggannya kini merangkul pinggangku dan menarikku mendekat. Dia mencium bibirku. Aku terkejut dan ingin  menolak tapi tubuhku tak mau mengikuti otakku. Mereka berpikir sendiri dan membalas ciuman itu. Seandainya kami tidak perlu bernapas, entah sampai kapan kami akan berciuman. Aku langsung mundur 2 langkah sementara dia memalingkan muka. Kami terdiam sesaat lalu aku berdeham. “Aku pulang dulu.” Kataku sambil membereskan gelas dan telur, sengaja tak memandangnya. Wajahku sudah lebih dari kepiting rebus sekarang.

“Oh ne.. biar ku antar. Aku ambil kunci dulu.” Dia langsung berjalan cepat, hampir berlari ke kamarnya.

Heechul POV

“Astaga.. kim heechul.. kau gila!!!” rutukku begitu aku menutup pintu kamarku. Wajahku panas bukan main, jantungku berdetak 3 kali lebih cepat, napasku megap-megap… bagaimana bisa aku menciumnya sampai seperti itu. kutarik napas dalam-dalam berulang-ulang hingga tenang. Kuambil dompet, hp dan kunci mobil serta merapikan penampilanku dulu.

“Ayo pergi..” ajakku langsung saat keluar kamar. Dia langsung mengangguk. Di dalam perjalanan tidak sepatah katapun keluar dari mulut kami.. suasana dalam mobil sehening jalanan diluar sana…

TBC

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s